Laporan Utama | Januari-Maret 2019

Bumi yang Memanas

Perubahan iklim nyata di depan mata. Badai, curah hujan yang berubah, banjir, suhu air laut yang menghangat, salju yang ekstrem, adalah sederet bukti semesta sedang berubah. Penyebabnya adalah manusia, dengan segala aktivitas dan keserakahannya. Negara-negara maju dan berkembang berembuk membuat prakarsa dan tindakan untuk menyelamatkan bumi yang bergolak, tapi semuanya tergantung tindak-tanduk tiap individu. Ikhtiar-ikhtiar kecil akan mengurangi kerusakan bumi kian parah.

Redaksi

Redaksi

BUMI menghangat. Goddard Institute for Space Studies (GISS), lembaga penelitian semesta milik NASA, mencatat suhu bumi naik 0,8 derajat Celsius sejak 1880, seratus tahun setelah dimulainya Revolusi Industri, ketika era pertanian berubah menjadi pengolah barang di pabrik. Sebab, dua pertiga kenaikan tertinggi dimulai sejak 1975 sebesar 0,15-0,2 derajat Celsius per dekade. Perubahan iklim tengah terjadi, akibat aktivitas manusia dan segala penghuninya. Ia bukan mitos, seperti diyakini Presiden Amerika Serikat Donald Trump. 

Iklim yang berubah tak sekadar soal suhu yang naik. Perubahan iklim bisa terlihat dengan jelas dari kian banyaknya jenis badai yang melanda belahan-belahan dunia dalam 50 tahun terakhir. Badai, banjir, salju yang ekstrem, dan musim kering berkepanjangan yang merenggut korban jiwa selalu tak sama di tiap-tiap era.

Orang-orang tua di kampung tak lagi memakai primbon untuk menghitung musim dan menyesuaikan tanaman dan waktu panen di sawah dan ladang. Primbon, yang berasal dari perhitungan-perhitungan kuno berdasarkan pengalaman sehari-hari, tak lagi sesuai atau bisa memprediksi perubahan cuaca. Setiap tahun ada perubahan-perubahan waktu tanam karena palawija tak sesuai lagi dengan iklim yang berganti. Musim hujan tak lagi terjadi pada kurun September-April, tapi di bulan-bulan kering antara Mei-Agustus.

Penyair Sapardi Djoko Damono mesti membuat satu puisi lagi untuk menyesuaikan perubahan iklim ini. Ketika ia menulis Hujan Bulan Juni pada 1994, musim masih sesuai dengan penanggalan primbon. Dalam sajak itu, Sapardi menggambarkan bahwa hujan bulan Juni sebagai ketabahan karena air jatuh dari langit itu salah masa: rintiknya menghapus jejak kemarau yang panjang. Tapi kini, hujan bulan Juni bukan lagi metafora untuk ketabahan karena pada pertengahan tahun itu di beberapa daerah justru sedang banjir. Di Jakarta, pada Juni 2018, tinggi banjir mencapai satu meter. 

Jarak antara puisi Sapardi dengan hari ini tak sampai 30 tahun. Dalam kurun itu cuaca berubah, iklim berganti dan penanggalan primbon tak berlaku lagi. Perubahan-perubahan cuaca yang pendek itu menunjukkan bahwa ada yang sedang berubah di alam semesta. Celakanya, perubahan itu ke arah yang lebih buruk. Deforestasi, naiknya jumlah penduduk, makin atraktifnya mesin dan produk-produk industri membuat karbon dioksida sebagai gas yang terbuang dari proses produksi itu, terperangkap di atmosfer kita sehingga memancar kembali ke bumi menaikkan suhu.

20190428164837.png

 Suhu rata-rata bumi dalam 200 tahun terakhir (Sumber: NASA)

Jika dilihat dalam masa 200 tahun, kenaikan suhu permukaan bumi yang tak sampai 1 derajat Celsius itu bisa dianggap sebagai kenaikan yang kecil saja. Tapi, coba kita lihat ke lautan, kenaikan suhu bumi yang kecil itu telah membuat koral yang ada di bawah laut menjadi putih dan mati. Suhu yang naik 0,8 derajat telah membuat suhu air laut ikut naik dan membunuh ekosistemnya. Padahal laut mengisi 2/3 permukaan bumi kita.

Artinya, butuh berapa pemanas untuk menghangatkan suhu air laut yang luas itu? Bumi hanya cukup dengan menghangat 0,8 derajat. Tak terbayangkan jika kenaikan suhu itu mencapai 1-2 derajat. Jika itu terjadi, barangkali, tak ada lagi salju di kutub utara, pulau-pulau akan hilang karena volume air laut naik akibat bertambah dari es-es yang mencair. Ujungnya, peradaban manusia akan terancam punah akibat alam yang berubah sebagai dampak ulah kita sendiri.

20190430121206.png

Penyumbang emisi gas rumah kaca 2017 dalam giga ton CO2/tahun (Sumber: UNFCCC, UNFAO, KLHK)

Maka ada perundingan-perundingan serius di tingkat dunia membahas perubahan iklim. Negara maju dan berkembang berembuk untuk menjalin kolaborasi menahan laju kenaikan suhu agar tak sampai lebih dari 1,5 derajat pada 2050. Sebab, tanda-tanda ke arah itu sudah terlihat. Naiknya jumlah manusia, kian modernnya produksi kita, membuat energi yang kita lepaskan untuk keperluan-keperluan hidup itu menjadi meningkat. Dan energi melepaskan karbon yang akan menaikkan suhu itu. 

Lingkaran setan ini harus diputus sebelum kerusakannya kian masif dan kita terlambat mengantisipasinya. Sejarah telah membuktikan manusia gagal mengembalikan bumi ke suhu semula akibat gaya hidup dan konsumsi kita yang tak berubah, akibat keserakahan kita mengeksploitasi sumber daya alam, akibat tak imbangnya usaha-usaha pencegahan dengan tingkat kerusakan.

20190428093456.jpg

Burung-burung terjebak di perairan yang dipenuhi sampah di Jakarta Utara (Foto: R. Eko Tjahjono)

Tahun 1973, ekonom E.F Schumacher sudah mengingatkan kita akan bahaya teknologi maju yang akan mengamplifikasi keserakahan manusia. Dengan tegas ia menyatakan bahwa Revolusi Industri dan peradaban modern akan membunuh manusia secara pelan-pelan. Pemakaian energi fosil yang tak terbarukan akan merusak ozon kita sehingga bumi akan rusak akibat cuaca yang tak lagi sesuai dengan daya tahan tubuh manusia. Ia menganjurkan pada kebajikan dan kearifan kuno dalam cara-cara konsumsi dan produksi. Ia menyebut teknologi madya yang lebih sesuai dengan cara hidup alami kita. Ia memilih Small is Beautiful, sebagai judul bukunya yang terkenal itu, ketimbang “bigger is better” yang menjadi jargon kapitalisme modern.

Toh, kajian-kajian ilmiah serta kritik-kritik para ilmuwan tak membuat kita menurut, keserakahan kita tak kunjung surut. Negara-negara maju kian meluaskan skala ekonomi mereka dan memproduksi teknologi modern sebagai pencapaian-pencapaian peradaban. Negara berkembang terus mengejar tetangga mereka yang sudah maju dengan turut memproduksi teknologi dan menaikkan pertumbuhan ekonomi. Hasilnya adalah ketakseimbangan alam yang membuat ia tak sanggup memikul beban hukum-hukumnya sendiri. Perubahan iklim adalah buah sekaligus hukuman kepada kita yang mengabaikan kebutuhan lingkungan.

20190428115320.png

Kenaikan penyumbang emisi karbon di Indonesia (Sumber: KLHK)

Benar kata Mahatma Gandhi: alam sangat melimpah untuk menyediakan kebutuhan hidup kita, tapi tak akan cukup memenuhi keserakahan manusia. Maka poin pokoknya adalah keseimbangan antara produksi dan konsumsi. Era Internet yang membuat sekat dunia dan negara roboh menjadi peluang bagi kita untuk menjalin kolaborasi dan saling mengingatkan tentang bahayanya keserakahan. Dunia harus bersatu untuk menyeimbangkan kebutuhan dan keinginan. Prakarsa-prakarsa untuk mengembalikan lingkungan yang seimbang harus dieksekusi segera sebelum kerusakan kian parah. 

Pada tingkat individu kita harus memulai upaya-upaya menyeimbangkan kebutuhan dengan memulainya dari kesadaran bahwa setiap napas dan gerak kita akan mengancam kita sendiri karena berdampak pada rusaknya bumi. Kesadaran bahwa segala tindakan punya konsekuensi pada masa depan semesta akan membuat kita lebih berhati-hati dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan. Upaya-upaya kecil tiap individu itu akan terakumulasi menjadi tindakan besar untuk mengembalikan bumi sebagai planet yang nyaman dan alamiah bagi hidup mamalia seperti manusia.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.