Kabar Baru | 10 Agustus 2019

3 Cara Mencegah Pemanasan Global Menurut PBB

Laporan PBB tentang pemanasan global yang dipicu pembukaan dan pemakaian lahan terbit 8 Agustus 2019. Ada banyak cara mencegah bumi memanas akibat penggunaan lahan untuk mencukupi kebutuhan manusia, tiga hal ini di antaranya.

Redaksi

Redaksi

RATUSAN ilmuwan dari 143 negara telah selesai menyusun laporan tentang pengaruh pemakaian lahan dan hutan terhadap pemanasan global. Dalam 300 halaman laporan yang diluncurkan pada 8 Agustus 2019 itu, para ilmuwan menyimpulkan bahwa 72% lahan di bumi ini terpakai untuk memenuhi kebutuhan 7,5 miliar manusia yang sekarang nongkrong di planet ini.

Dari luas  lahan terpakai itu, sebanyak 37% terpakai untuk pertanian, peternakan, penggembalaan. Sementara hutan yang dikonversi untuk memenuhi kehidupan manusia—dalam bisnis kayu maupun memacu pertumbuhan ekonomi dan kehidupan sehari-hari—sebanyak 20% plus 2% terpakai untuk konversi lahan perkebunan.

Pemakaian lahan  untuk pertanian, bisnis kehutanan, dan pemakaian lahan seperti perkebunan telah menyumbang 28% emisi gas rumah kaca seluruh dunia. “Di saat yang sama secara alami tanah menyerap sepertiga karbon dioksida yang dilepas bahan bakar fosil,” kata Jim Skea, Wakil Ketua IPCC, seperti dikutip web IPCC.

IPCC adalah Intergovernmental Panel on Climate Change, sebuah badan yang dibentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berisi para ilmuwan untuk merumuskan hasil-hasil dalam perundingan PBB dalam perubahan iklim tiap tahun. IPCC rutin membuat laporan mengenai perubahan iklim. Pada Mei lalu, mereka menyimpulkan 1 juta satwa liar terancam punah akibat pemanasan global dan aktivitas manusia.

Laporan kali ini, menurut Jim penyusunnya 58% berasal dari negara berkembang dengan 43% perempuan, menyoroti pemakaian lahan yang berdampak pada pemanasan global. Anggota PBB sudah bersepakat mencegah suhu bumi memanas melewati batas 1,50 Celsius dibanding suhu sebelum Revolusi Industri.

Menurut laporan sebelumnya, sejak Revolusi Industri 1850, suhu bumi telah naik 0,80 Celsius hingga 2017. Kenaikan suhu setinggi itu telah mencairkan es di kutub Utara dan Selatan yang membuat permukaan air laut naik 3 milimeter.

Laporan terbaru (silakan klik untuk mengunduhnya) ini menghitung dampak pembukaan dan pemakaian lahan terhadap kenaikan suhu bumi akibat emisi yang dilepas oleh aktivitas manusia mencapai 11,2 Giga ton setara karbon dioksida per tahun dalam periode 2007-2016. Jumlah sebanyak itu setara 28-29% emisi karbon yang ada di planet ini.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya? Para ilmuwan mafhum bahwa pembukaan lahan terjadi akibat makin banyaknya populasi manusia di planet ini. Merek membuka hutan, membuat lahan pertanian, sebagai cara bertahan hidup. Berikut ini beberapa cara yang disarankan para ilmuwan tersebut dari banyak cara yang mereka rekomendasikan.

Krisis lahan akibat aktivitas manusia

 
  1. Agroforestri

Ini cara lama yang sudah terbukti ampuh menjaga kestabilan ekologi di lahan pertanian. Kearifan lokal di banyak negara telah mempraktikkan menanam tanaman pertanian dengan mengombinasikannya dengan pohon berkayu. Di Indonesia, misalnya, ada repong damar di Lampung, talun di Priangan, dan banyak ragam agroforestri yang terbukti bisa menahan erosi lahan pertanian seraya memelihara hutan.

Sistem tumpang sari ini diadopsi dalam program perhutanan sosial yang menjadi program unggulan pemerintahan Joko Widodo di periode pertama. Kendati tak mencapai target memberikan skema perhutanan sosial seluas 12,7 juta hektare, program ini direkomendasikan PBB sebagai cara tradisional yang layak dikembangkan untuk menjaga hutan tetap lestari seraya mencukupi kebutuhan pangan penduduk bumi.

Di Indonesia, perhutanan sosial didefinisikan sebagai pemberian hak akses kepada masyarakat mengelola kawasan seluas 2 hektare per kepala keluarga selama 35 tahun dengan lima skema: hutan desa, hutan adat, hutan kemasyarakatan, kemitraan kehutanan, dan hutan rakyat. Hingga Juni lalu, pemerintah telah memberikan 3,09 juta hektare melalui lima skema itu.

  1. Restorasi

Indonesia memulai restorasi ekosistem sejak 2007. Meski masih centang-perenang dalam merumuskan kebijakan dan implementasinya di lapangan, restorasi telah berjalan di 600 ribu hektare oleh 16 unit manajemen. Restorasi berupa pemulihan kawasan hutan yang rusak setelah pengelolaannya diberikan melalui HPH dan HTI yang dilakukan oleh perusahaan swasta.

Jika selama 30 tahun izin usaha hutan diberikan kepada perusahaan dengan menebang kayu, izin hutan produksi kini diberikan kepada perusahaan untuk menjaga dan menanami kembali hutan yang gundul, menjaganya dari kebakaran, perambahan, hingga pembalakan liar.

Izin HPH dan HTI, juga perambahan dan pembalakan liar, serta konversi ke perkebunan membuat 34 juta hektare tutupan hutan Indonesia hilang hingga 2016. Kini hutan Indonesia ditetapkan seluas 120 juta hektare dengan laju deforestasi masih 1,2 juta hektare per tahun atau dua kali luas lapangan sepak bola per menit.

Restorasi adalah jalan terbaik mengelola hutan secara lestari. Perusahaan yang mengelolanya bisa mendapatkan keuntungan dengan menjual karbon, ekowisata, atau memanen hasil hutan bukan kayu yang menjadi kekayaan dan keragaman alami hutan tropis Indonesia.

  1. Manajemen produksi pertanian dan peternakan

Pengolahan makanan menjadi problem serius terhadap lingkungan, di luar soal pemakaian energi tak terbarukan setelah Revolusi Industri. Menurut laporan PBB itu, sebanyak 30% makanan di dunia menjadi sampah. Tanpa manajemen makanan di tiap negara, sektor pertanian akan terus meluas seraya menghasilkan produk mubazir karena menjadi sampah. Sampah akan memicu gas metana yang membuat emisi karbon dan pemanasan global.

Manajemen makanan akan berpengaruh besar terhadap manajemen suplai lain seperti peternakan. Peternakan telah memicu pembukaan lahan yang luas dan memicu pemanasan global akibat emisi yang dihasilkannya. Emisi yang dilepas dari sektor ini sebanyak 5 Giga ton setara CO2 per tahun, hampir menyamai emisi yang dihasilkan seluruh emisi Amerika Serikat pada 2017.

Di Indonesia, dari 64 juta ton sampah per tahun, 50 persen berupa sisa makanan. Padahal, makanan tersebut diolah dari pertanian dengan membuka lahan atau konversi kawasan hutan yang memicu pemanasan global.

Di luar soal manajemen makanan, Indonesia telah dan sedang melakukan dua hal pertama kendati prosesnya masih tersendat, perlu diawasi, dan dievaluasi secara terus-menerus agar implementasinya di lapangan sesuai tujuan mencegah bumi kian terpanggang: secara ekologi, secara ekonomi, maupun sosial.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.