Kabar Baru | 12 September 2019

Ancaman-ancaman Musim Kemarau

Kemarau tahun ini lebih parah dibanding tahun lalu. Kekeringan diperkirakan hingga Oktober 2019. Waspadai tiga penyakit ini.

Redaksi

Redaksi

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sudah memperingatkan bahwa musim kering atau kemarau tahun ini akan lebih parah dibanding tahun lalu.

Selain memicu kekeringan selama Juli-Oktober 2019, kemarau memicu kebakaran hutan dan lahan mengingat banyak kawasan hutan Indonesia merupakan lahan gambut dan hutan kering. Sebagai penyimpan panas yang baik, gambut rentan terbakar dan menyimpan sekam yang tak mudah dipadamkan.

BMKG memperkirakan wilayah yang akan mengalami kekeringan terutama di selatan Indonesia, seperti pesisir Jawa. Jumlah wilayah yang terpapar kekeringan mencakup 28 provinsi.

Hingga 11 September 2019, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat ada 11 provinsi yang mengalami kekeringan yang meliputi 109 kabupaten, 844 kecamatan, dan 2.945 desa. Dari jumlah itu 4 kabupaten berstatus “tanggap darurat” dan 31 kabupaten “siaga darurat”.

Dengan angka-angka itu, kekeringan pada musim kemarau tahun ini akan memapar setidaknya 48,4 juta jiwa atau hampir seperlima penduduk Indonesia. Dampaknya tak hanya kekurangan air bersih, penyakit juga lebih mudah datang karena hawa panas menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan virus.

Kemarau yang memicu debu merentankan penduduk Indonesia terkena penyakit saluran pernapasan, diare akut, dan demam tifoid. Diare akibat air bersih yang berkurang, sementara demam akibat flu karena daya tahan tubuh menurun. Kendati tak berbahaya, flu gampang menular lewat angin, batuk, bersin, dan kontak fisik.

Di Kota Pasuruan, tiga jenis penyakit itu naik lebih dari 2.000 kasus pada Agustus-Sepetember 2019 menjadi 8.777 dibanding Januari-Maret 2019.

Berdasarkan data 50 puskesmas yang tersebar di 31 kecamatan di Kabupaten Jember, jumlah pasien yang menderita “penyakit mirip flu” mencapai 69.968 kasus, lalu diare akut 21.664 kasus, dan demam tifoid 9.165 kasus.

Jember dan Pasuruan adalah kabupaten dan kota di Jawa Timur. Menurut catatan BNPB provinsi ini termasuk rentan terdampak kekeringan. Ada 588 desa di Jawa Timur yang sudah terdampak kekeringan, nomor dua tertinggi setelah Nusa Tenggara Timur.

Peta bencana kekeringan (Sumber: BNPB, 2019)

Adapun kebakaran hutan dan lahan hingga September 2019 tercatat melanda 135.749 hektare. Namun, ini data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Data BNPB mencatat kebakaran yang lebih luas. Lembaga ini mencatat 328.724 hektare dengan luas kebakaran hutan dan lahan terbanyak terjadi pada Agustus 2019 dengan jumlah titik api sebanyak 5.062. Kalimantan Tengah mencatat titik api terbanyak dengan 1.220 disusul Kalimantan Barat 923 titik api.

Untuk memadamkan api, pemerintah mengerahkan 37 helikopter yang telah menyiramkan 239.633.200 liter air 160.816 kilogram garam.

Peta kebakaran hutan dan lahan (Sumber: KLHK, 2019)

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.