Bintang | Oktober-Desember 2019

Tasya Kamila: Ancaman Sampah

Cita-citanya memang menjadi Menteri Lingkungan Hidup.

Rifky Fauzan

Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

SEJAK didaulat menjadi Duta Lingkungan Hidup oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2006, Tasya Kamila selalu mengampanyekan siapa pun ramah terhadap lingkungan.

Maka ketika Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa IPB mengundangnya untuk berbagi tips dan pengalaman seputar beasiswa, penyanyi lulusan program Magister School of International and Public Affairs, Columbia University, ini tetap bercerita soal hidup-hijaunya. “Reduce, reuse, and recycle harus kita maksimalkan demi keselamatan lingkungan kita,” kata peraih beasiswa Layanan Beasiswa dan Pendanaan Riset Indonesia itu.

Pelantun lagu anak-anak Libur Tlah Tiba ini juga mendirikan Yayasan Green Movement Indonesia pada 2017. Tasya acap melakukan kunjungan ke daerah untuk membuat program ramah lingkungan dan energi terutama ke desa-desa.

Dalam acara International Talk Program untuk mahasiswa baru IPB itu, Tasya bercerita bagaimana ia mendapatkan beasiswa dan sekolah master di universitas bergengsi di Amerika Serikat itu. Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia lulusan 2010 ini bercerita seputar aktivitasnya di bidang lingkungan. Dia berharap melalui yayasannya bisa membantu pemerintah mengatasi permasalahan lingkungan.

Cita-citanya memang menjadi Menteri Lingkungan Hidup. “Saya lama bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk sosialisasi pengelolaan sampah,” katanya. Ia sadar efek buruk sampah terhadap lingkungan yang merusak.

Ia menyinggung laut Bali dan Wakatobi yang ikannya keracunan plastik. “Coba bayangkan, laut bagus saja,  pencemarannya separah itu, bagaimana lagi dengan lautan yang memang sudah benar-benar tercemar? Apa jadinya biota-biota di laut?" katanya seperti dikutip WomanTalk.com.

Foto: Instagram @tasyakamila

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.