Oase | Oktober-Desember 2017

Dari Mana Datangnya Rasialisme?

Rasialisme tak punya tanah air: ia ada di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja. Lalu, dari mana datangnya rasialisme?

Bagja Hidayat

Mengelola blog catataniseng.com

PENINDASAN berasal dari prasangka. Kalimat ini diucapkan Bu Gates, guru sekolah dasar di Desa Maycomb—kampung fiktif yang diciptakan Harper Lee dalam novel To Kill A Mockingbird. Ini kampung kumuh dengan orang-orang yang akrab tapi saling curiga di dekat sungai Alabama di selatan Amerika. Di tahun 1933 itu, depresi hebat yang menghunjam dunia akibat malaise sampai juga di kota ini.

Pada 21 November 1934, kampung itu geger karena seorang negro telah ditangkap. Ia, Tom Robinson, dituduh menganiaya dan memperkosa perempuan muda kulit putih. Di tahun 1930-an, negro di Amerika belum dianggap sebagai manusia seutuhnya. Rasialisme berkembang bahkan jauh setelah R.A Kartini menyuarakan persamaan hak penduduk tanah jajahan nun di Jepara. Tom diajukan ke peradilan dengan vonis bersalah yang sudah tertera di keningnya jauh sebelum hakim mengetuk palu, karena ia berkulit hitam yang hidup di antara orang-orang kulit putih.

Bagi orang kulit putih, negro berarti picik, jahat, bejat. Maka Tom yang tangan kirinya buntung diajukan ke muka hakim dengan tuntutan vonis mati. Atticus Finch, seorang pengacara berhati malaikat, membelanya. Ia bisa membuktikan, di zaman ketika teknologi sidik jari belum ditemukan, negro 24 tahun itu tak bersalah karena luka-luka di tubuh perempuan kulit putih itu khas akibat pukulan orang kidal. Atticus berhasil mengungkap penganiaya perempuan itu tak lain ayahnya sendiri.

Prasangka dan curiga yang mengakar di masyarakat Maycomb membuat pembuktian dan pembelaan Atticus sia-sia. Para juri, orang-orang kulit putih itu, tetap menyatakan Tom bersalah dan ia dikirim ke penjara. Di sana ia dibunuh sipir dengan alasan negro yang cacat itu itu hendak melarikan diri dengan memanjat tembok. Tujuh-belas peluru membolongi tubuhnya yang hitam. Prasangka berubah jadi pembantaian.

Harper Lee tak menjelaskan akar rasialisme di Maycomb itu. Ia hanya mempertanyakan, lewat Scout yang polos, mengapa orang Maycomb bisa mengutuk Hitler yang jauh tapi membenci Tom Robinson yang dekat karena ia hitam? Sebab kebencian itu tak melulu akibat berita palsu yang direkayasa ayah perempuan muda itu. Ikatan sosial, budaya, berita, pergaulan menjadi dasar berkembangnya rasialisme.

Soalnya, kata Atticus Finch, penindasan bisa dilakukan siapa saja. Ketika ia dihujat semua orang kulit putih di Maycomb karena membela Tom, pada saat yang sama orang-orang negro juga menolak dua anaknya masuk gereja mereka. Para negro itu marah atas prasangka dan kesemena-menaan orang kulit putih kepada mereka yang hitam. Rasialisme telah melahirkan rasialisme berikutnya. Demikian seterusnya.

Dengan kata lain, rasialisme tak lahir dari gen. Rasialisme muncul karena kebencian yang disebabkan oleh ketidakmampuan kita menerima perbedaan. Rasialisme tak seperti rasa takut Scout dan James Finch (dua anak Atticus Finch yang menuturkan alur cerita novel ini) kepada Boo Ridley yang mengurung diri di rumah selama 25 tahun. Takut itu insting yang inheren, seperti kita takut kepada hantu meski belum pernah bertemu dan melihatnya.

Ketika bertemu mungkin kita tak akan setakut seperti sebelumnya. James dan Scout akhirnya bersahabat dengan Boo Ridley. Prasangka karena ketakutan terhadap Boo pupus begitu mereka bertemu dan bercengkerama. Sementara prasangka orang Maycomb terhadap negro lahir dari kebencian dan stereotip. Kebencian seperti ini tak akan hilang kendati kebenaran muncul di depan mata. Harper Lee seperti sedang meramal dunia di zaman Facebook dan Twitter ini, ketika orang yang menyebarkan kebohongan tak merasa bersalah ketika dusta itu terungkap.

Rasialisme tumbuh oleh kesombongan. Holocaust muncul karena Hitler merasa perlu menegakkan kebanggaan bangsa Aria atas suku-suku bangsa lain. Kebanggaan dan menepuk dada pada hal-hal yang menjadi predikat manusia itulah yang melahirkan rasisme. Aku Jawa, maka aku ada. Aku Islam, maka aku berbeda.

Keangkuhan-keangkuhan primordial ini agaknya akan muncul sepanjang manusia ada di dunia, kendati ada manusia lain yang terus memeranginya. Di Amerika Serikat, 70 tahun setelah kejadian yang menginspirasi Harper Lee menulis To Kill A Mockingbird, kecurigaan rasial dan keangkuhan primordial malah meluas. Ada sekelompok orang yang merasa orang kulit putih berhak atas tanah Amerika. Ada sekelompok orang yang merasa orang yang tak berkulit putih tak berhak hidup berdampingan dengan mereka.

Presiden Donald Trump yang rasis pun mendapat dukungan mayoritas sehingga ia menjadi Presiden Amerika Serikat. Di saat bersamaan, tulisan Presiden Barrack Obama yang mengutip Nelson Mandela di Twitter tentang "tak ada seorang pun yang lahir dengan membenci orang lain karena warna kulit dan agama" disukai lebih dari 3 juta orang. Barangkali ini yang disebut paradoks zaman modern. Rasialisme berkembang justru ketika informasi cukup dan pintu ke arah pengetahuan terbuka lebar.


Dan rasialisme tak punya tanah air: ia ada di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain