Buku | April-Juni 2019

Kapitalisme Lingkungan Hidup

Hutan adalah komoditas dengan lingkungan hidup sebagai sampingannya. Kapitalisme mengeksploitasi secara berlebihan.

Kaka Prakasa

Pemulung angka dan penggiat data, F/LOSS Enthusiast

SERAKAH itu baik, kata Gordon Gekko dalam Wall Street. Kutipan ini seperti jantung film yang tayang pada 1987 itu, di pusat keuangan Amerika yang serba plastis, di jantung kapitalisme dunia yang menawarkan fatamorgana kemewahan. Keserakahan dalam kapitalisme itu kemudian melahirkan krisis ekonomi yang memukul sendi-sendi bahkan tulang punggung Amerika. Keserakahan itu baik hanya jika kita tahu bakal mati besok.

Setengah abad sebelumnya Mahatma Gandhi sudah mengingatkan bahwa alam mencukupi kebutuhan kita tapi tak akan sanggup memenuhi keserakan manusia. Keserakahan identik dengan keinginan, dan keinginan tak punya batas. Ia sering mengabaikan bahkan menjadi lawan kebutuhan. Peringatan Gandhi tak mendapat perhatian serius. Kapitalisme merangsek ke segala aspek. Seperti ditujukan dalam buku ini, lingkungan hidup menanggung beban tak terperi dari praktik kapitalisme di seluruh dunia.

Tak ada hal baru yang menohok sebetulnya. Para pengkritik kapitalisme sudah mengajukan sanggahan bahkan ketika ideologi ini baru saja dipraktikkan secara luas di Eropa dan Amerika.

Sejak Plato yang sudah mengingatkan dalam Critias yang mereportasekan lingkungan Athena yang rusak akibat pemanfaatan sumber daya alam secara masif.

Ivan Illich atau E.F Schumacher, para filsuf dan ekonom modern, telah merumuskan bahaya kapitalisme terhadap rusaknya planet ini. Dengan kata lain, kapitalisme akan membunuh spesies manusia itu sendiri. Bahkan tanpa keserakahan dengan niat sekalipun, bumi rusak jika dieksploitasi. Pemakaian pupuk dan insektisida selama Revolusi Hijau membuat alam rusak bahkan memicu munculnya alien predator yang merusak keseimbangan alam dan penyakit.

Sebab alam tak bisa dipisahkan dari hidup manusia. Buktinya kita lihat hari ini. Revolusi Industri 200 tahun lalu mendorong pemakaian energi fosil tak terbarukan yang mengeruk cadangan minyak dan gas dari perut bumi atas nama kepentingan manusia. Ada yang menghitung, sejak teknologi pengeboran pertama dikenalkan seabad lalu, 450 triliun liter minyak telah diambil manusia dari perut bumi. Hasilnya, 40 persen penduduk bumi tetap hidup dalam kegelapan.

Kapitalisme mengeksploitasi alam terlalu banyak untuk kepentingan manusia yang terlalu sedikit. Negara-negara maju kini menuntut negara-negara berkembang yang punya sisa cadangan alamnya untuk berbuat lebih arif dengan membuat teknologi ramah lingkungan atau mengelola lingkungan secara berkelanjutan. Sementara mereka terus memproduksi teknologi yang membutuhkan bahan bakar. Perubahan iklim telah dijadikan propaganda global menekan negara miskin yang melimpah hutannya untuk tak mengeksploitasinya lalu mereka datang untuk membeli karbon agar terbebas dari kewajiban menahan laju suhu bumi lebih dari 2 derajat.

“Pertumbuhan ekonomi tidak mungkin bisa terus tumbuh dalam lingkungan yang terbatas,” kata Herman Daly, seorang ekonom-ekologis Bank Dunia, yang dikutip di awal buku ini. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi—tulang punggung kapitalisme itu—akan habis ketika sumber daya juga habis dieksploitasi. Lalu apa setelah itu? Herman menawarkan sebuah konsep ekonomi hijau dengan menganjurkan agar menanggalkan Teori Biaya-Manfaat yang berorientasi pada menekan biaya sekecil-kecilnya untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya.

Sebab dalam kapitalisme—dengan keserakahan—bukan moral dan etik yang menjadi tujuan akhirnya, melainkan komoditas. Seperti dikatakan ekologis Richard Lewis pertanian dibuat bukan untuk menghasilkan makanan, tetapi keuntungan. Makanan adalah hasil sampingan dari alat-alat produksi. Layanan kesehatan adalah komoditas, kesehatan adalah hasil sampingannya. Sebangun dengan itu, hutan adalah komoditas sementara lingkungan untuk hidup adalah residunya.

Bagaimana kita bisa berharap pada sebuah sistem yang hanya menyisakan residu untuk hidup planet dan isinya? Bagaimana sebuah sistem bisa menjamin keberlanjutan jika ia mengejar keuntungan untuk memenuhi keserakahan? Meski sebagai pengantar, buku ini memberikan perspektif yang jelas tentang kerusakan lingkungan akibat eksploitasi berlebihan atas nama kapitalisme.

INFO BUKU:


Lingkungan Hidup dan Kapitalisme

Penulis: Fred Magdoff dan John Bellamy Foster
Penerbit: Marjin Kiri
Penerjemah: Pius Ginting
Edisi: Agustus, 2018
Tebal: 185 halaman

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.