Kolom | April-Juni 2019

Make Rantang Great Again

Apa yang kami lakukan bukan hal besar. Ini hal kecil untuk menyelamatkan planet kita yang sekarat

Poernomo Gontha Ridho

Penggerak @sustainableathome

NOVEMBER tahun lalu, selarik pesan masuk ke telepon istri saya. “Anak kamu di pantai, bukannya main malah bolak-balik mengambil sampah plastik.” Istri saya tertegun sejenak. “Hah.. masa?” balas istri saya dengan emoji melongo sambil memegang pipi. “Iya, tuh dia lari lagi ke tempat sampah.”

Penulis pesan itu adalah mertua saya, alias ibu istri saya, alias eyang anak perempuan kami yang dia ceritakan berkali-kali mengambil sampah di pantai Ancol, Jakarta Utara. Mak Deg. Pesan itu membuat perasaan istri saya campur aduk. Senang, tapi lebih banyak sedih. Senang karena anak kami tumbuh sebagai orang yang peduli dengan lingkungan, sedih karena polusi plastik kian parah.

Berdasarkan data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun, sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Indonesia tercatat sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia yang dibuang ke laut.

Sesampainya di rumah, anak kami bercerita, lebih dari tiga kali dia membuang sampah yang berserak di pantai, yang dia pungut kebanyakan botol minuman plastik, keresek, dan plastik pembungkus makanan. Saya jadi ingat pernyataan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya yang ditulis di majalah ini: sebanyak 37 persen sampah plastik ditemukan di pantai dan laut.

Menurut Siti, mengutip data Badan Pusat Statistik, indeks ketidakpedulian orang Indonesia terhadap sampah sebesar 0,72. Artinya, tingkat kepedulian orang Indonesia terhadap sampah masih sangat rendah. Maka tak heran bila dari puluhan atau bisa jadi ratusan orang yang datang ke pantai Ancol, anak saya hanya sebagian kecil yang peduli dengan sampah-sampah itu.

Sampah plastik ini juga mengingatkan kami ketika berlibur ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Kami sempat melihat ada pembungkus makanan dan bungkus mi instan terapung di laut. Ketika snorkeling di salah satu pulau di sana, di antara karang dan ikan warna-warni, saya melihat sampah plastik. Tak seberapa, tapi ada.

Pengalaman ini kemudian menggugah kami sekeluarga. Kami bertekad lebih peduli kepada lingkungan terutama mengurangi sampah plastik. Sebenarnya sejak dulu, kami terbiasa membawa kantung lipat pengganti keresek bila belanja ke supermarket. Rasanya, membawa kantong belanja sendiri di tengah kuburan sampah plastik di laut, apa yang kami lakukan menjadi tak berbekas. Kami harus melakukan lebih.

Lubang biopori (Foto: Purnomo Gontha Ridho)

Kami mulai membawa termos atau botol minum, sedotan besi dan perlengkapan makan sendiri, termasuk sumpit ketika pergi. Kita tahu, banyak tempat makan dan kedai kopi masih memakai sedotan plastik, sumpit sekali pakai, bahkan sendok dan gelas plastik. Ya, sumpitnya memang dari kayu tapi ada yang dibungkus dengan plastik. Sama saja, kan?

Lalu kami meriset data sampah plastik, juga mengikuti akun-akun di media sosial yang berkaitan soal itu. Di antaranya, @sustaination @zerowastenusantara @jirowes @cleanomics @021suarasampah @kotatanpasampah. Merasa tak cukup dengan informasi satu arah, akhirnya istri saya juga bergabung dengan grup WhatsApp Tampah Indonesia. Seperti kami, anggota grup itu umumnya sudah mulai mengurangi sampah dan mereka ingin belajar lebih soal lingkungan.

Dari beragam informasi dan diskusi, kami mendapat pencerahan baru bahwa plastik memang problem besar. Maka setop memakai plastik sekali pakai. Harga mati. Namun bila kita melihat dari atas lagi, masalah yang utama sebenarnya sampah secara keseluruhan. Seharusnya kita memang setop memproduksi sampah. Zero waste!

“Aku mau bikin lubang biopori,” kata istri saya tiba-tiba, ketika kami usai makan malam.

“Di mana?” kata saya.

“Ya, di halaman. Nanti kita pilah sampah. Sampah organik kita masukkan ke dalam lubang biopori.”

Emang enggak bau? Biopori bukannya buat resapan air?”

“Duh, kamu riset deh soal bipori.”

Dalam situs zerowaste.id, biopori adalah teknologi alternatif dan sederhana untuk penyerapan air hujan selain dengan sumur resapan. Selain untuk resapan air, biopori juga berguna sebagai pengolah sampah rumah tangga yang bisa diterapkan di lahan pemukiman perkotaan yang sempit.

Kompos

Lubang biopori memiliki diameter 10-30 sentimeter dan tidak memiliki muka air tanah dangkal. Lubang tersebut kemudian diisi dengan sampah organik yang memiliki fungsi sebagai makanan makhluk hidup yang ada di tanah, seperti cacing dan akar tumbuhan.

Manfaatnya banyak: mengurangi sampah organik, menyuburkan tanah dan mempengaruhi jumlah air tanah. Cara membuatnya juga mudah dan tidak mengeluarkan bau busuk. Singkat cerita, akhirnya kami membuat tiga lubang biopori di rumah dengan kedalaman sekitar 30 cm. Tidak sulit membuatnya, cuma butuh niat dan tenaga untuk “ngebor.”

Lubang jadi, tahap berikutnya adalah memilah sampah. Kami mulai membuat tempat pemilahan. Ada sampah organik yang bisa dimasukkan ke lubang biopori; kulit buah, sisa sayuran, cangkang telur juga tulang ayam dan ikan.

Lalu, tempat sampah untuk kertas, karton, non kertas; botol kaca, kaleng dan plastik. Nah untuk tiga jenis sampah ini kami kumpulkan hingga cukup banyak. Setelah itu kami masukkan ke dropbox milik @waste4change, perusahaan rintisan yang bergerak di bidang pengelolaan sampah.

Lubang-lubang biopori pun penuh, tempat sampah “biasa” kami yang dulunya setiap hari penuh, kini berkurang drastis. Bisa 4 hari baru penuh. Oh ya, kami masih punya tempat sampah biasa untuk sampah-sampah yang memang tak bisa dipilah atau menunggu waktu lama dikumpulkan. Makin lama lubang biopori makin sesak, belum terurai sudah ada lagi sampah baru.

Menjadikannya kompos adalah solusi terbaiknya. Kami mulai dengan cara sederhana dengan menampung di pot-pot bekas. Kompos ini juga bermanfaat untuk tanaman-tanaman kami, jadi tidak perlu lagi membeli pupuk. Hemat.

Kami juga mengubah kebiasaan belanja dan konsumsi. Semua barang-barang isi ulang, seperti sabun cuci piring, sabun cair untuk mandi dan cuci tangan, sampo, cairan untuk mengepel. Semua produk yang menggunakan plastik kemasan kami pangkas, termasuk kecap, teh, dan gula.

Bank sampah

Sekarang, kami kembali ke era jadul: menggunakan sabun batangan sekaligus menjadikannya sampo. Kami membuat sabun cuci piring sendiri, cairan pel, dengan sabun dasar yang dibeli literan dan bisa diisi ulang. Sabun dasar ini kemudian bisa diolah dengan berbagai bahan lain untuk beragam kebutuhan. Sabut untuk mencuci piring juga kami ganti dengan loofah (terbuat dari sayur oyong) biasanya untuk penggosok tubuh. 

Kami sekarang juga lebih sering belanja di pasar dan toko yang tidak menyediakan kemasan, jadi setiap kali belanja kami harus membawa wadah-wadah dari rumah untuk membawa pulang gula, kecap, teh, tepung, termasuk madu.

Untuk soal jajan, kami juga memangkas kebiasaan, yang dulunya sering sekali jajan dengan acara pesan antar via aplikasi, sebisa mungkin kami sekarang memilih membeli sendiri dengan wadah dari rumah. Kami mengikuti slogan Make Rantang Great Again.

Apa yang kami lakukan bukan hal besar. Sebab, memang, ini hal kecil untuk menyelamatkan planet kita yang sekarat. Bagi yang ingin tahu lebih jauh silakan ikut kami di akun Instagram @sustainableathome. Kami percaya perubahan bisa dimulai dari rumah kita sendiri.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.