Teroka | Januari-Maret 2019

Dari Hobi Turun ke Kedai Kopi  

Tiga mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB yang merintis usaha kedai kopi di Bogor. Bermodal nekat.

Fitri Andriani

Rimbawan IPB

KETIKA mereka bersepakat menjadikan hobi “ngopi bareng” untuk dijadikan bisnis membuka kedai, tiga mahasiswa Fakultas Kehutanan ini kebingungan mencari nama. Mereka lalu ingat Mars Rimbawan, yang akrab di telinga para alumnus Fakultas Kehutanan di kampus mana pun karena ini lagu wajib mereka.

Dalam mars itu ada potongan lirik di stanza keempat: rimba raya... rimba raya/indah permai dan mulia/maha taman tempat kita bekerja. “Mahataman itu bagus, mudah diingat,” kata Mochamad Hendri, yang akrab disapa Ikang (di foto posisi paling kanan). Mustofa (di foto paling kiri) dan Aswin Rahadian setuju dengan ide itu. Jadilah, mereka bersiap mendirikan kedai kopi bernama “Mahataman” pada awal 2015. 

Ketiganya satu almamater di Fakultas Kehutanan IPB, hanya beda angkatan. Hendri paling muda, angkatan masuk 2008, atau usianya 27 tahun. Mustofa lebih tua dua tahun dan Aswin lebih tua empat tahun. Kendati beda angkatan mereka berteman karena aktif di Rimbawan Pencinta Alam. Selepas lulus, Aswin bekerja di NGO Internasional dan Mustofa di lembaga konsultan.

Tinggal Ikang yang belum bekerja. “Gue enggak bisa ke mana-mana,” katanya. Menurut Mustofa, kalimat itu merujuk pada Indeks Prestasi Ikang yang “dua koma alhamdulillah bisa lulus.” Maka berbisnis adalah cara terbaik bagi Ikang untuk mengembangkan bakat berdagang yang tak memerlukan pamer ijazah. “Ridwan Kamil pernah bilang, pekerjaan paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar,” kata Ikang, menyebut nama Gubernur Jawa Barat.

Maka ke sanalah mereka: membuka kedai kopi. Ikang yang setiap hari keluyuran di Kota Bogor melaporkan bahwa kedai kopi bisnis yang menjanjikan karena tak banyak pesaingnya. Waktu itu hanya ada dua kafe yang menyediakan kopi segar, itu pun memakai alat-alat otomatis. “Kalau manual belum ada kafe yang menyediakannya,” kata Ikang.

20190311151842.jpg

Analisis pasar sudah ada, keberanian sudah punya, kesempatan juga terbuka, yang belum ada adalah pengalaman. Menurut Mustofa, kendati tiga faktor itu menunjang dalam berbisnis pengalaman nol bisa menjerat mereka ke dalam kesalahan. Kesalahan memang tak bisa dielakkan, “tapi kita harus menguranginya sekecil mungkin.” “Caranya mendengar cerita orang yang sudah sukses,” kata dia.

Hampir tiap pekan mereka mendatangi kedai-kedai kopi di Jakarta atau Bandung atau kota lain ketika mereka mendapat tugas dari kantor masing-masing. Di Bogor, salah satunya adalah Malabar Mountain Coffee. “Alih-alih dianggap pesaing, pemiliknya sangat senang kami berniat buka kedai,” kata Aswin.

Itu pula kesan yang ditangkap Ikang ketika ia ke Yogyakarta untuk belajar cara menyeduh kopi manual di Klinik Kopi. Di Yogya, kafe di sana umumnya menyediakan seduh manual. Ikang mempelajari semuanya di sana. Pulang ke Bogor ia menyimpulkan, niat menyediakan seduh manual sudah tepat. “Rasa kopi lebih variatif dan hemat energi karena tak perlu memakai listrik,” katanya.

Dengan modal Rp 5 juta membeli alat seduh, mereka membuka kedai di rumah toko Jalan Abdullah bin Nuh di Pasir Jaya, Kota Bogor. Agar tak perlu membayar sewa tempat, mereka mencari mitra yang mau meminjamkan lokasi. Tapi kerja sama itu hanya bertahan delapan bulan karena pemilik ruko menjualnya ke orang lain.

Tak punya tempat untuk kedai, mereka membeli alat roasting kopi untuk memangkas biaya produksi. Ikang membuat kopi bubuk untuk dipasok ke kedai-kedai di Bogor dan Jakarta. Sedangkan ground beans dijual kepada pelanggan rumahan dan kantoran.

Pada Februari 2016 mereka mendapat tawaran mengisi kantin di Gedung Pusat Informasi Kehutanan Fahutan IPB di Dramaga. Pucuk dicita ulam tiba. Mereka tak menyia-nyiakan tawaran itu kendati ongkos sewanya lumayan mahal. Mereka memutuskan mengambilnya dengan perhitungan biaya sewa akan tercukup dengan menjual kopi seduhan.

Masalahnya adalah mengenalkan seduhan kopi segar kepada mahasiswa dan dosen. Di Bogor saja, kopi seduh manual tak populer, apalagi di kampus. Harganya relatif mahal pula untuk kantong mahasiswa, Rp 6.000 per gelas. “Bulan pertama buka per hari hanya laku satu cangkir,” kata Mustofa.

Untuk mengenalkan kopi single-origin ke mahasiswa, mereka acap ikut menjadi sponsor dalam acara-acara kampus. Awalnya kopi mereka gratiskan sembari memberi tahu mahasiswa bahwa minum kopi yang benar adalah bukan kopi instan. Mereka juga menambahkan sajian cappuccino agar mahasiswa tertarik nongkrong di Mahataman.

Kopi Mahataman merupakan jenis arabika, dari Gayo, Pangalengan, Kintamani, Toraja, sampai Wamena. Mereka memburu biji-biji kopi itu langsung kepada petani atau dari kedai lain ketika tak bisa menjangkau ke daerahnya. “Prioritas utama kami membeli langsung ke petani karena misi kami mengenalkan kopi asli daerah Indonesia,” kata Ikang.

20190311152217.jpg

Lambat laun, mahasiswa yang mencibir “kopi pahit” itu mulai menerima kopi racikan Mahataman. Mereka mulai terbiasa meminum kopi “single-origin” tanpa gula. Slogan #ngopidikampus pun mulai populer sehingga pada jam-jam istirahat, mereka datang ke Mahataman. Apalagi, di sana tak hanya menyediakan kopi tapi juga makanan lain.

Kini omzet Mahataman sudah melampaui harga sewa kantin setahun sebesar Rp 20 juta. Kendati untungnya masih tipis, kata Mustofa, penghasilan mereka cukup untuk membayar pegawai dan membeli bahan baku, juga menambah koleksi alat seduh. Ketiga berbagai saham 30 persen. Sebanyak 10 persen merupakan milik “umat” yang akan mereka sedekahkan kelak jika usaha sudah membesar.

Setelah usaha mereka stabil, ketiganya kini paham berbisnis memang hanya perlu “dilakukan” saja. “Istilahnya just do it,” kata Mustafa. “Perencanaan perlu tapi takut mengeksekusinya sama saja bohong.”

“Dan yang penting pakailah hati dalam menjalankannya,” Ikang menambahkan.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Artikel Terkait

Komentar

Artikel Lain