Kabar Alumni | Agustus-Oktober 2016

Taman Hutan Kampus Kehutanan

Jika pohon-pohon di arboretum ditanam para dosen dan mahasiswa Fakultas Kehutanan, pohon di hutan lanskap yang kini meneduhi plaza yang luas dan jalan-jalan di sekitarnya itu ditanam para alumninya.

Libriana Arshanti

Anggota Dewan Redaksi, bekerja sebagai konsultan kehutanan dan lingkungan.

ADA dua taman hutan kampus Institut Pertanian Bogor di Dramaga. Arboretum kecil di depan Fakultas Kehutanan yang pertama kali dibangun setahun sejak fakultas ini menjadi penghuni pertama kampus Dramaga pada 1968, atau lima tahun sejak IPB berdiri. Taman hutan ini didesain dan disupervisi oleh Profesor Zoefri Hamzah di era Dekan Fakultas Kehutanan Profesor Rudy Tarumingkeng.

Mereka yang aktif mendirikan arboretum itu adalah kepala-kepala bagian Silvikultur, seperti Ir Sjafii Manan, MSc dan Ir Salman Farisi, MS. Arboretum atau taman hutan kedua di Dramaga ukurannya lebih luas, berada di seberang plaza Gedung Rektorat.

Jika pohon-pohon di arboretum ditanam para dosen dan mahasiswa Fakultas Kehutanan, pohon di hutan lanskap yang kini meneduhi plaza yang luas dan jalan-jalan di sekitarnya itu ditanam para alumninya. “Kami sedang menyiapkan agar arboretum lanskap diberi nama,” kata Rinekso Soekmadi, Dekan Fakultas Kehutanan (2015-2020), kepada Forest Digest akhir Juli lalu.

Menurut Rinekso, pemberian nama itu penting sebagai wujud terima kasih kampus kepada para alumni yang telah peduli kepada almamater dengan menanam pohon di sana, bahkan banyak yang menjadi “bapak asuh” pohon dengan merawatnya sejak ditanam.

Di luar kedua arboretum itu, Fakultas Kehutanan juga mendapatkan amanah dari IPB mengelola taman hutan seluas 12 hektare di area kampus Blok Cikabayan. Amanah ini sudah cukup lama ketika rektor dijabat Profesor Aman Wirakartakusumah pada 1995. Profesor Aman menerbitkan keputusan nomor 086/Um/1995 agar blok Cikabayan dijadikan Taman Hutan Kampus oleh Fakultas Kehutanan.

Selain sebagai penghijauan dan konservasi, taman hutan kampus ini akan difungsikan sebagai sarana praktek mahasiswa, dan ekowisata. Menurut Rinekso, pembangunannya akan dimulai tahun depan dengan melibatkan tim profesional. “Soalnya membangun taman kampus tidak sulit, tapi juga tak mudah,” kata Rinekso.

Saat ini blok Cikabayan sebagian besar arealnya tumbuh pohon mahoni, ketapang, dan puspa, yang ditanam oleh para mahasiswa saat praktek. Dalam penataannya kelak, tim akan mengelompokkan pohon-pohon itu berdasarkan familinya sehingga mudah dikenali saat jadi objek praktek para mahasiswa.

Rinekso sudah menghitung biaya yang diperlukan membangun taman hutan Cikabayan itu sekitar Rp 500 juta per hektare. Beberapa pihak, kata dia, sudah bersedia menjadi sponsor hingga pembangunan selesai. “Kabar dari Kang Ketua Umum Himpunan Alumni, BRI siap menjadi sponsor,” kata Rinekso.

Ia berharap para alumni berperan serta dalam pembangunan hutan kampus ini agar arboretum itu segera terwujud dan menjadi milik civitas akademika Fakultas Kehutanan dan para alumninya. Ia menghimbau saat Hari Pulang Kampus dua tahun mendatang, alumni yang tersebar di pelosok nusantara datang ke Bogor membawa bibit tanaman untuk ditanam di hutan kampus itu. “Sehingga arboretum ini menjadi pemersatu kita semua,” kata dia.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain