Kabar Alumni | Juli-September 2018

Rimbawan Menjadi Relawan Gempa Lombok

Para rimbawan IPB di Lombok bahu-membahu membantu para korban gempa.

Libriana Arshanti

Anggota Dewan Redaksi, bekerja sebagai konsultan kehutanan dan lingkungan.

GEMPA mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 29 Juli 2018. Berkekuatan 6,5 pada skala Richter membuat banyak bangunan roboh dan penduduk yang meninggal. Belum hilang trauma akibat gempa itu, pada 5 Agustus 2018 Lombok kembali terguncang oleh gempa lebih besar, 7 pada skala Richter.

Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan (HAE) Komisariat Daerah NTB dengan segera membentuk tim relawan untuk membantu para korban. Di bawah komando Oman Somantri, angkatan 28, Ibu Sitti Latifah dari angkatan 27, dan  Linda S dari angkatan 39, dengan sigap para alumni Fakultas Kehutanan IPB bekerja sama dengan tim penanganan bencana pemerintah NTB dan Aksi Cepat Tanggap menyalurkan bantuan yang dikirimkan oleh anggota HAE dari seluruh penjuru Indonesia.

Tidak hanya satu tempat yang dibantu oleh para Rimbawan IPB ini, namun banyak desa yang sudah menerima bantuan para alumni. Beberapa desa paling parah rusak akibat gempa yang mendapat bantuan itu adalah Desa Sokong Kecamatan Tanjung, Kecamatan Batuyang, Desa Bengkaung Kecamatan Batulayar, Gunung Sari, Glangsar, Jeringo,  Dopang,  Krandangan,  Mangsit,  Narmada, Bukit Segara Katon, Desa Karang Bajo, Bayan, Dusun Tanak Sanggar, Desa Sokong, Camp Pengungsi Lapangan, Gondang, Desa Salut Kec. Kayangan, Dusun Mengkudu, Sokong, Dan Desa Nipah.

Sampai 14 Agustus 2018, jumlah dana tunai bantuan yang telah disalurkan sebanyak Rp 119.961.152. Selain uang, bantuan juga berupa barang seperti terpal, selimut, tikar, beras, bahan makanan instan, susu bayi, popok bayi, obat-obatan, air minum kemasan, dan biskuit. Pemberian bantuan disesuaikan dengan kebutuhan dari masing-masing lokasi.

Trauma healing (penyembuhan trauma pasca bencana) dan pendampingan korban juga merupakan jenis bantuan yang diberikan para Rimbawan IPB. Saat ini tim relawan HAE KOMDA NTB mulai membangun tempat untuk mandi, cuci, dan kakus pada lokasi-lokasi pengungsian.

Off-Road Rimbawan IPB

20180904025336.jpg

SALAH satu rangkaian acara Hari Pulang Kampus ke-17 tahun ini adalah Fun Off Road Hapka 2018 yang dilaksanakan pada Sabtu, 11 Agustus 2018, di Sentul, Bogor. Kegiatan ini diikuti oleh 165 orang peserta yang merupakan alumni Fakultas Kehutanan IPB, 4WD Rimba Club, Direktorat Pengelolaan Sampah, IOF dan partisipan lainnya.

Peserta tidak hanya offroader sejati namun juga diikuti oleh peminat kegiatan alam dari berbagai angkatan bahkan ada peserta paling senior dari angkatan 3 dan 9. Peserta tidak harus membawa kendaraan jenis 4WD karena panitia menyiapkan beberapa mobil sewaan yang bisa digunakan oleh alumni yang tidak memiliki kendaraan 4wd.

Total ada 60 mobil berjalan beriringan untuk menuju ke titik pos yang telah ditentukan oleh panitia. Ketua Koordinator Fun Offroad, Ir. Sukarya M.Sc, menjelaskan bahwa off road tidak hanya menguji kepiawaian mengendalikan kendaraan roda 4WD di medan yang sulit, juga untuk menggugah kesadaran peserta terhadap lingkungan sekitarnya. “Tujuannya bukan untuk kompetisi, namun menjalin silaturahmi,” kata Sukarya.

Saat melakukan off road para peserta ikut turun memungut sampah plastik. Sesampainya di Gate Astra mereka berjalan kaki naik ke bukit menuju aula Astra untuk melakukan penanaman dan pelepasliaran burung. Perjalanan diakhiri dengan melakukan Bakti Soisal membagikan 150 paket bantuan hasil donasi dari Mandiri Amal Insani Foundation kepada warga Parung Ponteng.

Perjalanan pulang kembali ke Sentul melalui dua jalan: melewati jalan lintas tembus di Jungle Land dengan kondisi jalan sempit dan ada tanjakan turunan yang cukup curam. Jalan kedua melewati jalan lintas yang menuju ke tol Citeureup. Di sini kondisi jalan lebih landai tapi agak rusak di beberapa titik.

Beberapa peserta mengatakan bahwa mereka cukup terkesan dengan medannya karena mengingatkan masa-masa praktik di tengah hutan pada masa kuliah dahulu.

Mengantarkan barang-barang bantuan bukan sebuah perkara yang mudah. Jalan yang putus, transportasi yang terbatas, bahkan gempa-gempa susulan kerap menjadi ujian. Bantuan juga didapatkan dari KPH Rinjani Barat dan Taman Nasional Gunung Rinjani untuk mendata dan mengirimkan bantuan menggunakan kendaraan operasional yang ada.

Banyak juga kisah-kisah mengharukan yang dialami tim relawan. Sekali waktu saat Ibu Siti Latifah sibuk dengan penyiapan-penyiapan bahan bantuan, tiba-tiba ia sadar bahwa anaknya menghilang. Kabar ini kemudian berantai disampaikan ke grup WhatsApp untuk mencari keberadaan anak ini. Rupanya anak Ibu Siti ikut tim lain yang akan mengantarkan bantuan ke lokasi terkena dampak gempa.

Para alumni, seperti terekam dalam banyak grup WhatsApp, bangga melihat bagaimana teman-teman relawan berjuang melawan keterbatasan dan trauma psikologis yang juga mereka alami sebagai sesama korban gempa. Saat berita ini ditulis, NTB masih terus diguncang gempa.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain