Kabar Alumni | April-Juni 2018

Alumni Fahutan Hijaukan Muara Gembong

Kegiatan Angkatan 18 dan 27 menghijaukan muara sungai Citarum, Bekasi.

M. Khulfi Khalwani

Perencana di Biro Perencanaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

ADA tawa dan bahagia di Muara Gembong. Pada 17 Februari 2018 yang mendung, kantor Kecamatan Muara Gembong, dua jam dari Kota Bekasi, dipenuhi oleh alumni Fakutas Kehutanan IPB angkatan 27 dan 18. Mereka datang dari Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang bahkan Sumedang. Mereka akan menanam mangrove.

Kang Wahyu, Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban mewakili Camat Muara Gembong memberikan sambutan. “Selamat datang di Muara Gembong,” katanya. “Bulan lalu pak Presiden juga kesini dalam rangka Perhutanan Sosial. Hari ini bapak-ibu datang untuk penanaman.”

Kecamatan Muara Gembong adalah wilayah terluas di Kabupaten Bekasi. Terdiri dari enam desa: Pantai Harapan Jaya, Jayasakti, Pantai Sederhana, Pantai Bahagia, Pantai Bakti, dan Pantai Mekar. Lima desa berbatasan langsung dengan pantai. Lokasi yang penanaman berada di Desa Pantai Bahagia.

Demikianlah, semua peserta penanaman juga berbahagia hari itu. Selain datang sendiri, banyak pula yang datang bersama keluarga mereka. Menanam mangrove jadi seru dan asyik, sekaligus menjadi liburan keluarga.

Sebelum berangkat ke lokasi penanaman, Ketua Himpunan Alumni Fahutan IPB, Kang M. Awriya Ibrahim, membukanya dengan memotong tumpeng diikuti Ketua Angkatan 18, Kang Deisman Nasution, lalu Ketua Angkatan 27, Kang Apep Yusuf. Selain diikuti alumni dua angkatan itu, hadir juga Dekan Fakultas Kehutanan IPB Kang Rinekso Sukmadi), Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kementerian Lingkungan Kang Helmi Basalamah, Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Kang Agus Justianto, Direktur Operasional Perum Perhutani Kang Hari Priyanto, Kepala Divisi Perhutani Regional Jawa Barat Kang Andi Purwadi, serta beberapa Alumni IPB dari kepengurusan Kota Bekasi.

Kecamatan Muara Gembong merupakan bagian akhir dari sungai Citarum yang memanjang 269 kilometer dari Dana Cisanti di Pangalengan, Bandung. Untuk menuju hutan mangrove kita bisa menggunakan perahu dari sungai Citarum hingga sampai ke Muara.

Kawasan hutan mangrove Muara Gembong merupakan bagian rangkaian ekosistem mangrove di pesisir utara Teluk Jakarta, yang membentang dari Tanjung Pasir di Tangerang-Banten, hingga ke ujung Karawang. Eksositem mangrove di Muara Gembong telahh mengalami degradasi. Awalnya, luas mangrove alami di Muara Gembong 10.480 hektare. Namun kini luas tutupan hutan sangat berkurang. Sekitar 90% telah beralih fungsi menjadi tambak dan lahan pertanian masyarakat.

Kerusakan magrove Muara Gembong mengakibatkan abrasi, intrusi air laut, menurunkan kualitas air dan tanah untuk tambak, serta rendahnya produktivitas tambak. Selain itu juga mengakibatkan ketidakteraturan pemukiman masyarakat yang dibangun di sepanjang pesisir pantai dan bagian hilir DAS Citarum.

Berangkat dari kondisi hutan mangrove di Muara Gembong yang terdegradasi ini, Himpunan Alumni Fahutan IPB menanam kembali mangrove. "Sebanyak 2718 batang sudah kami tanam dengan melibatkan tenaga masyarakat lokal, yaitu kelompok tani yang ada di Desa Pasir Bahagia ini. Hari ini kita ke sini hanya memasang barcode pada tiap batang sebagai penanda bibit yang kita tanam" ujar  Kang Apep.

Menjelang siang seluruh peserta berjalan bersama menuju sungai Citarum. Hujan gerimis bukan penghalang bagi peserta naik ke perahu. Kang Helmi Basalamah begitu mantap menyanyikan lagu Mars Rimbawan diiringi gitar Kang Erik. Setelah 20 menit, perahu merapat ke sebuah dermaga kayu.

Sekitar 5 menit berjalan, sampailah rombongan pada sebuah tambak yang telah ditanami bakau. Selanjutnya masing-masing peserta berbagi barcode yang akan dipasang pada bibit yang sudah ditanam. Seluruh peserta yang hadir turut memasang barcode.

Satu jam bergelimang lumpur mangrove, kami bersih-bersih dan makan siang di sebuah gubuk di tepi tambak. Ikan dan udang bakar Muara Gembong nikmatnya seperti air menyimbah kemarau. “Satu tambak luasnya satu hektare, jika panen bisa dapat 10 kilogram udang,” kata Pak Mulud, seorang penjaga tambak.

Menjelang sore seluruh peserta kembali ke atas perahu kayu bermesin dengan geladak yang terbuka berisi 30 orang. “Semoga angkatan lain melanjutkan apa yang sudah kami mulai,” kata Kang Deisman.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain