Salam Ketua | Oktober-Desember 2017

Satu Tahun Forest Digest

Kami berharap majalah ini terus ada, tetap terbit tepat waktu, terus menyapa Anda para pembaca, sampai 1.000 tahun lagi.

M. Awriya Ibrahim

Ketua Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan IPB periode 2015-2018

TAK ada yang lebih menyenangkan selain menerima surat seperti ini: “Terima kasih atas kiriman majalah Saudara, akan kami koleksi untuk menambah referensi pembaca.” Surat itu ditulis Profesor Djoko Saryono, Kepala Perpustakaan Universitas Negeri Malang, untuk menanggapi kiriman majalah Forest Digest edisi 4.

Surat seperti ini kami terima hampir setiap bulan dari rektor universitas, kepala perpustakaan lembaga pemerintah, atau organisasi non pemerintah, yang menerima kiriman majalah Forest Digest. Selain kepada alumni Fakultas Kehutanan di seluruh Indonesia, kami memang mengirimkan majalah ini kepada lembaga-lembaga yang berkutat dengan isu lingkungan dan kehutanan dan dokumentasi.

Para penerima senang dikirimi majalah ini. Kami lebih senang lagi menerima pemberitahuan dari mereka bahwa majalah ini dibaca dan bermanfaat bagi khalayak. Ini sesuai dengan misi Forest Digest yang ingin menambah referensi dalam isu lingkungan dan kehutanan, dengan memadukan artikel ilmiah dan tulisan populer.

Tak terasa, usia majalah ini telah setahun, telah empat kali terbit secara konsisten tiap tiga bulan. Kami belum pernah terlambat terbit dari jadwal yang kami tetapkan sendiri dalam tiap edisi.

Bagi kami, bertahan hingga satu tahun tak terbayangkan karena para pengelola majalah ini tak punya pengalaman dalam bidang jurnalistik, tak punya pengetahuan menulis, apalagi mengelola sebuah majalah. Kami baru sadar bahwa majalah perlu reporter, butuh desainer, perlu ada yang mengatur tata letak dan komposisi artikel, juga penamaan rubrik yang sesuai visi dan misi Forest Digest saat menyiapkan tiap edisi. Ketika menerbitkan pertama kali majalah ini setahun lalu, kami cemas apakah bisa menerbitkan edisi kedua dan seterusnya karena dihantui keruwetan menentukan tema dan mengumpulkan artikel yang cocok dan bagus.

Tantangan terberat mengelola majalah ternyata bukan hal-hal tersebut. Paling utama adalah patuh pada tenggat. Hanya tenggat yang bisa memacu kami untuk terus ingat kami punya majalah yang harus terbit karena kami telah menjanjikan membahas sebuah tema dalam edisi sebelumnya kepada pembaca. Hanya tenggat yang jadi alarm kami harus menggelar rapat di tengah kesibukan tiap awak redaksi yang bekerja dalam pelbagai bidang, di hari libur kerja. Para awak redaksi datang dari pelbagai profesi: pegawai negeri, konsultan, dosen, mahasiswa, ahli IT.

Sejak awal majalah ini disebarkan secara gratis, dan akan begitu seterusnya. Kami mengandalkan pemasukan dari iklan dan sumbangan para alumni Fakultas Kehutanan IPB untuk ongkos cetak dan ongkos kirim. Tak mudah mengelola media dengan cara seperti itu, tapi edisi kelima ini membuktikan selalu ada jalan dalam tiap kemauan. Para alumni mendukung sepenuhnya kerja probono awak redaksi. Pemasukan iklan dan sumbangan itu kami jadikan amanah sehingga tak sepeser pun awak redaksi dibayar untuk kerja keras mereka. Kami menyampaikan terima kasih tak terhingga untuk itu.

Sebagai majalah tiga bulanan kami sadar tak bisa berpacu dengan isu. Tema yang disiapkan tiga bulan sebelumnya akan segera basi ketika diterbitkan jika kami mengejar informasi yang aktual. Karena itu untuk setiap tema kami menonjolkan sikap redaksi atas isu-isu tersebut. Kami lebih banyak memuat kolom, artikel ilmiah, dan opini tentang sebuah masalah yang sedang hangat dibicarakan di bidang lingkungan dan kehutanan. Reportase dan Laporan Utama menyajikan liputan yang isunya tak terkurung oleh waktu.

Semoga dengan cara itu majalah Forest Digest memberi sumbangan pemikiran dalam perbaikan lingkungan dan kehutanan serta memberi perspektif kepada pembaca tentang sebuah isu, di luar soal informasi yang mungkin berguna bagi para pembaca. Ikhtiar ini tak sempurna, karena itu kami meminta para pembaca, para ahli, para stakeholder untuk tak sungkan menyampaikan kritik dan saran-saran bagi perbaikan majalah ini ke depan.

Kami berharap majalah ini terus ada, tetap terbit tepat waktu, terus menyapa Anda para pembaca, sampai 1.000 tahun lagi.

Salam rimbawan!

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.