Surat dari Darmaga | 23 Agustus 2020

Manusia dan Satwa Liar: Tak Hanya Berbagi Ruang

Kita mesti mulai menghilangkan kata konflik dalam hubungan manusia dan satwa liar. Selain berkonotasi negatif yang membuat inovasi macet, kita sesungguhnya berbagi ruang hidup dengan mereka.

Wiene Andriyana

Rimbawan tinggal di Kanada

NAIKNYA jumlah manusia mendorong kebutuhan akan tempat tinggal, makanan, dan kebutuhan hidup lainnya, membuat hubungan dengan mahluk lain kian menantang. Para ilmuwan menyebut bahwa kita berada di masa “anthropocene, masa ketika aktivitas manusia berdampak besar terhadap ekosistem dan organisme lain. Salah satu bentuknya ketika ekologi dan satwa liar kian sering bersinggungan karena berebut ruang.

Berbagi ruang dengan sesama manusia yang punya kepentingan, kepercayaan, perilaku, dan nilai-nilai moral serta budaya yang berbeda saja bukan hal mudah, apalagi dengan mahluk lain. Maka betapa kompleks hubungan kita dengan satwa liar dalam rebutan tempat tinggal itu.

Ketidakharmonisan itu kita kenal dengan istilah human-wildlife conflict (HWC), konflik manusia dan satwa liar. Kamus bahasa Indonesia menerjemahkan konflik sebagai bentuk perselisihan atau pertentangan. Madden (2004) mengatakan HWC terjadi ketika kebutuhan dan perilaku satwa liar dan manusia saling berdampak negatif pada kebutuhan dan tujuan hidup masing-masing.

Di Indonesia, makin banyak konflik manusia dengan satwa liar. Manusia dengan harimau, manusia dengan gajah. Harimau memangsa ternak atau gajah merusak kebun masyarakat. Harimau yang terkena jerat, gajah yang diracun, semacam balas dendam manusia kepada mereka.

Fragmentasi habitat menjadi salah satu pemicunya. Atau permukiman yang kian mendesak habitat mereka. Atau habitat mereka yang kian menipis karena hutannya dibabat untuk jadi kebun dan industri, yang membuat satwa liar turun gunung ke permukiman manusia.

Di Kanada, berita terkait hubungan manusia-satwa dipenuhi dengan interaksi tak terduga antara manusia dengan beruang. Mereka menyebutnya HBC—human-bear conflict (Proctor dkk. 2018). Di provinsi Yukon, misalnya, pada 2019 CBC News melaporkan sebanyak 33 beruang terbunuh karena konflik dengan manusia. Angka ini sudah menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 65 beruang.

Pemicu konflik juga karena ketidakharmonisan berbagi ruang antara manusia dengan satwa liar. Perilaku manusia meninggalkan sampah di ruang terbuka, atau tidak memakai tempat sampah anti-beruang telah mengundang mereka datang ke wilayah permukiman yang berdampingan dengan habitat mereka.

Berbagai upaya mitigasi telah dilakukan oleh otoritas konservasi maupun pemerintah kota setempat. Kota Canmore yang berdekatan dengan Taman Nasional Banff menerapkan denda bagi siapa saja yang membiarkan onggokan buah berry di lahan mereka maupun di pohon, karena mengundang datangnya beruang ke properti mereka.

Jika beruang sudah dianggap kehilangan sisi liarnya (termasuk karena terlalu mengandalkan makanan dari sampah manusia atau yang sengaja ditinggalkan manusia) dan berperilaku agresif yang membahayakan manusia, otoritas konservasi Kanada akan melakukan euthanasia, mematikan hewan tersebut dengan cara-cara medis yang tidak menyakitkan.

Ternyata konflik manusia-satwa liar tidak hanya menjadi permasalahan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Masyarakat kota pun mengalaminya. Di wilayah perkotaan Kanada, konflik manusia dengan satwa liar melibatkan jenis-jenis binatang seperti rakun, tupai, Canadian geese (angsa liar berkepala hitam) yang merusak struktur berbagai bangunan, taman, dan wilayah rekreasi. Kecelakaan di jalan raya kadang terjadi karena tabrakan kendaraan dengan hewan-hewan liar yang melintas.

Dengan semakin berkembangnya pendekatan multidisiplin, HWC tak hanya menjadi pelajaran bagi ilmu kehutanan, ekologi atau biologi saja, tapi juga antropologi, sosiologi, psikologi bahkan neuroscience. Seperti dijabarkan secara terperinci dalam buku Human Wildlife Interactions: Turning Conflict into Coexistence oleh Frank dkk (2019), sejumlah ilmuwan berpendapat penggunaan kata “konflik” pada setiap kasus interaksi manusia dan satwa liar bisa serta merta memunculkan konotasi negatif dan perlu dipertimbangkan ketepatan konteks pemakaiannya.

Perlu diingat bahwa konflik bisa memiliki makna yang berbeda bagi berbagai pihak. Suatu interaksi yang dianggap “konflik” pada situasi tertentu, bisa jadi tidak dianggap konflik pada situasi yang berbeda, karena adanya perbedaan budaya, waktu, dan parahnya dampak yang terjadi.

Salah satu penulis di buku tersebut memberikan contoh tradisi berburu singa pada budaya masyarakat adat Maasai di Afrika, yang beda cerita dengan pemicu perburuan ilegal harimau di Sumatra, misalnya. Bahkan persepsi konflik juga akan berbeda antar manusia, yang disebut human-human conflict (HHC). Contohnya, perbedaan persepsi terkait konflik antara masyarakat adat Maasai, yang berburu singa sebagai bagian dari tradisi kehormatan para prajurit adat, dengan pihak lain yang pro-satwa liar, yang menganggap perburuan ini sebagai bentuk konflik dengan satwa liar.

Karena itu, perbedaan nilai antar manusia (HHC) ini menjadi bagian penting mitigasi konflik manusia-satwa liar secara keseluruhan. Dalam kasus budaya perburuan Maasai di Afrika yang mendorong semakin menipisnya populasi singa di sana, titik temu HHC terjadi ketika prajurit adat Maasai, terutama mereka yang lebih muda, perlahan-lahan dilibatkan sebagai penjaga singa melalui model konservasi Lion Guardians.

Salah satu pesan utama buku ini adalah bagaimana ilmuwan dan para praktisi di lapangan terus mendorong pergeseran cara pandang HWC, dari human-wildlife conflict menjadi human-wildlife coexistence. Dari berfokus pada interaksi negatif (misalnya dampak kerugian ekonomis, ekologis, dan korban jiwa), menjadi hubungan manusia-satwa liar yang lebih menyeluruh, termasuk interaksi positif melalui dimensi psikologi dan emosional hingga religi.

Berbagai praktik terbaik hidup berdampingan dengan satwa liar sudah ada di Indonesia. Peringatan berbagai hari satwa sedunia, misalnya harimau, gajah dan orang utan juga bisa menjadi pengingat bahwa manusia perlu berbagi ruang secara harmonis dengan satwa liar. Di Lampung, masyarakat bisa hidup berdampingan secara harmonis dengan gajah.

Seperti halnya hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan hewan seyogianya melibatkan unsur emosi, moral, budaya, dan kepercayaan. Kerja konservasi tidak bisa sendiri. Tekanan terhadapnya terus berubah. Agar pendekatan hubungan manusia-satwa liar tetap relevan, ia mesti adaptif dan dinamis.

Gambar oleh David Mark dari Pixabay.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain