Kabar Baru | 17 Desember 2019

Konflik Manusia dan Harimau Tak Kunjung Usai

Seorang petani kopi di Lahat, Sumatera Selatan, tewas diterkam harimau. Rebutan lahan.

Redaksi

Redaksi

KEMATIAN Muhtadi, 52 tahun, yang diterkam harimau pada 12 Desember 2019 menunjukkan konflik antara manusia dengan hewan ini tak kunjung usai. Sebelum Muhtadi, seorang petani di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, juga tewas diserang hewan besar ini.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Lahat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, Martialis Puspito, mengatakan lokasi dua serangan itu satu garis jelajah harimau di kantong Jambul Patah Nanti seluas 282.000 hektare yang terbentang dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, hingga Kabupaten Muara Enim.

Menurut Martialis, lokasi kebun kopi Muhtadi berada di hutan lindung Lahat dan berada dekat dengan kantong harimau yang dianggap sebagai hutan larangan. “Itu informasi dari warga,” kata Martialis seperti dikutip Antara. “Secara lanskap lokasinya memang termasuk wilayah hutan lindung.”

Muhtadi tewas dengan luka gigit harimau di dada kanan, hilang jari kaki kanan, dan separuh kaki kirinya putus. Ia usai menggiling kopi ketika bersirobok dengan harimau itu yang langsung menerkam dan memakannya. Sementara istri dan satu petani lain bersembunyi di pondok ketika serangan itu terjadi.

Meski banyak yang mendesak agar Tim BKSDA Sumatera Selatan menangkap harimau tersebut, Murtalis menolaknya. Selain lokasinya 8 kilometer dari permukiman dengan rute yang sulit, BKSDA memilih menghimbau agar petani tak merambah hutan lindung.

“Kami lebih mendorong agar ada tindakan tegas terhadap masyarakat yang sudah merusak habitat satwa liar entah itu harimau atau yang lain, bagaimanapun satwa liar itu anugerah yang tidak akan mengganggu kalau tidak diganggu,” kata Martialis.

Jenazah Muhtadi, 52 tahun, dengan luka gigitan harimau di dada kanan.

Soalnya dari pemetaan timnya, kata Martialis, jalur jelajah harimau di Lahat sudah berada di jantung habitatnya. Tetapi di jantungnya pun mereka masih bertemu manusia yang membuka kebun-kebun di hutan lindung.

Konflik ini manusia dan harimau akibat rebutan ruang hidup dan ekonomi ini merupakan konflik lazim di hutan-hutan Sumatera. Pada kurun 1990-2010 seluas 7,54 juta hektare lahan hutan primer di Sumatera hilang, atau 0,38 juta hektare per tahun. Padahal, harimau menyukai habitat hutan hujan lembap dengan kanopi yang rapat dan jumlah tumbuhan bawah yang sedikit.

Harimau dewasa bisa menjelajah 5-30 kilometer per hari dan membutuhkan pakan minimal 1 ekor mangsa seukuran rusa dewasa setiap pekan. Dengan kondisi hutan yang tercerai berai serta minimnya satwa mangsa, konflik manusia dan harimau tak terhindarkan.

Konflik harimau dan manusia paling banyak terjadi Sumatera Barat (48 kasus), Riau (38), Aceh (34), Jambi (14), Lampung (6), Sumatera Utara (6). Mayoritas konflik terjadi di daerah dengan berbagai tipe penggunaan lahan yang berdekatan dengan hutan di mana manusia dan harimau hidup bersama.

Pada 2001-2016, Forum Harimau Kita (FHK) mendokumentasikan setidaknya ada 1.065 kasus konflik manusia-harimau, termasuk serangan terhadap 184 orang dan 376 ekor ternak yang menyebabkan sekitar 130 harimau terbunuh atau dipindahkan dari habitatnya yang telah terusik.

Harimau Sumatera kini tinggal 700 ekor. Jika konflik terus terjadi, ia akan punah mengikuti jejak saudaranya yang telah hilang dari muka bumi: harimau Bali (Panthera tigris balica) dan harimau Jawa (Panthera tigris sondaica).

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.