Surat dari Darmaga

Sapardi dan Perubahan Iklim

Senin, 20 Juli 2020 01:07 WIB

Sajak Hujan Bulan Juni yang ditulis Sapardi Djoko Damono tentang hujan yang salah musim. Tentang ketabahan kasih sayang, juga pertanda pemanasan global.

Bagja Hidayat

Mengelola blog catataniseng.com

SAPARDI Djoko Damono meninggal, dan kita kehilangan pencatat hal-hal ringan yang bermakna dengan cara yang indah. Ia penyair yang melahirkan sajak semacam Aku Ingin, Hutan Kelabu, Hujan Bulan Juni, Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari.

Hal-hal sepele, soal-soal sederhana, yang acap luput dari perhatian kita itu, menjadi abadi karena Sapardi membekukannya ke dalam puisi sebagai metafora, sebagai alegori, atau satir untuk kita yang acap mengabdi dan mengejar hal-hal besar.

Sajak Hujan Bulan Juni menceritakan hujan yang salah musim. Rintik yang keliru waktu, tapi tak kita pikirkan bisa menjadi asosiasi kasih sayang tanpa syarat. Hujan itu tabah karena begitu menyentuh bumi ia segera hilang ditelan gersang. Tapi justru karena itu hujan di bulan Juni menjadi bermakna, bagi bumi, bagi kita, bagi “pohon bunga itu”.

Ketika rintiknya membasahi bumi, kita akan mencium petrichor—bau tanah kering yang tersiram hujan selintas yang menenangkan dan membangkitkan ingatan pada kenangan purba. Maka, hujan itu malah mungkin tepat waktu karena bumi dan seisinya sedang merindukan tetes hujan di tengah cuaca kemarau yang memanggang.

Maka, Sapardi seperti sajak-sajaknya. Ia dikenang karena ia mengabadikan sesuatu yang segera hilang, yang segera dilupakan, sehingga hal-hal kecil yang sederhana itu menjadi kekal karena tersimpan dalam sajak-sajaknya. Ia mengingatkan agar kita selalu berpaling pada hal-hal sederhana karena makna bersemayam di balik hal kecil maupun besar.

Sajak-sajak Sapardi tak didahului, atau memerlukan, huruf kapital. Ia sekonyong-konyong muncul, menyelinap ke dalam kesadaran kita sebab hal kecil itu sebenarnya dialami oleh tiap-tiap orang. Dengan nada dan suaranya yang sederhana, sajak Sapardi segera menyerap menjadi bagian dalam kenangan tiap-tiap orang.

Tiap-tiap kita mengalami hujan bulan Juni. Tapi kita membiarkannya berlalu, tak peduli pada peristiwa di dalamnya, atau mungkin melupakan detailnya karena ia telah menggenang dalam kenangan. Sajak Hujan Bulan Juni membangkitkan kenangan itu sehingga kita menjadi bagian darinya tiap kali membacanya.

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Kini kita kembali membaca sajak itu ketika mendengar penyairnya wafat karena sakit di usia 80 pada 19 Juli 2020 pagi. Sapardi meninggalkan banyak hal yang berharga, karena ia memberi nilai kepada hal-hal yang kita anggap tak berharga. Tapi penting. Jika kita baca hari ini, Hujan Bulan Juni yang ditulisnya pada 1994 itu tak hanya menyimpan keindahan, juga semacam tanda sebuah perubahan besar.

Tahun 1994 adalah dua tahun setelah Konferensi Tingkat Tinggi Rio de Janeiro, sebuah pertemuan para petinggi banyak negara yang mulai sadar bumi tengah merana. Konferensi itu mempopulerkan seorang anak 12 tahun dari Kanada yang berpidato mengecam para pemimpin dunia karena membuat kebijakan yang tak peduli pada lingkungan. Pidato Severn Suzuki, anak itu, diperbincangkan dunia karena turut menyadarkan kita akan bahaya pemanasan global.

Mitigasi perubahan iklim mulai menjadi perbincangan sejak hari itu. Sejumlah inisiatif muncul sejak konferensi itu. Perhatian terutama ditujukan kepada konsentrasi gas CO2 di atmosfer yang mencapai rekor baru pada 1992, 355 part per million—melonjak dari 280 ppm yang stabil selama ribuan tahun sebelumnya.

Perubahan kadar CO2 sebanyak itu telah menaikkan suhu bumi 0,80 Celsius. Suhu sekecil ini sanggup mencairkan 11 miliar ton es di kutub utara setiap hari. Akibatnya tinggi muka air laut bertambah 3 milimeter per tahun yang membuat sejumlah pesisir menghilang. Suhu sekecil itu sanggup memutihkan karang karena air laut menjadi asam akibat reaksi karbon dioksida dan air yang membuat tiram mati sehingga burung laut merana lalu menyebarkan virus ganas yang jadi pandemi.

Sapardi Djoko Damono

Revolusi Industri yang dimulai pada 1750 telah terasa dampaknya. Gas-gas berbahaya yang disemburkan cerobong pabrik karena memakai sumber energi fosil memicu efek gas rumah kaca. Gas-gas beracun itu mencemari selubung planet kita sehingga ia tak sanggup lagi menyerap panas dari bumi, juga matahari. Panas itu memantul kembali ke bumi yang menaikkan suhu. Di bumi, sementara itu, kita mengeruk mineral dan membabat hutan sehingga panas yang terpantul itu kehilangan penyerap alamiahnya. Polusi menjadi problem besar dunia modern hari ini.

Istilah climate change memang dipakai sejak tahun 1940-an. Tapi menjadi kosa kata yang umum tahun 1980-an. Istilah ini kemudian dipertukarkan dengan istilah lain yang memiliki makna lebih menukik: “pemanasan global”. Majalah Tempo pertama kali memakai istilah ini pada 1990 yang muncul dalam sebuah kolom lingkungan tentang kerusakan hutan yang dihubungkan dengan pelbagai bencana, seperti longsor dan banjir.

Kini, kita memakai istilah penggantinya semacam “krisis iklim” atau “darurat iklim”—terutama setelah dipopulerkan Greta Thunberg, remaja Swedia yang menjadi “juru bicara” bahaya pemanasan global sejak 2018. Menurut Greta, climate change tak membuat kita segera sadar akan bahaya pemanasan global. The Guardian, media besar dan terkenal di Inggris, mengadopsinya. Para wartawannya tak lagi memakai istilah usang yang tak menggambarkan kegawatan tersebut.

Sapardi menulis sajak Hujan Bulan Juni sebagai metafora ketabahan, kasih sayang dan cinta tanpa syarat. Hujan yang selintas di musim kemarau itu menjadi tak berarti apa-apa kendati berkesan dan bermakna. Kejadian dalam sajak itu mungkin tak lagi kekal karena musim kian menyeleweng dari kebiasaan.

Bulan Juni tak lagi seperti musim kemarau tahun 1990. Pada bulan Juni, hujan masih turun dan tak berhenti di bulan April. Pada Juni 2018, Jakarta bahkan direndam banjir setinggi 1,5 meter. Tahun-tahun sebelum dan sesudahnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika acap memperingatkan cuaca yang tidak menentu pada bulan ini.

Jarak antara 1994 dan 2020 hanya berselang 26 tahun, seperempat abad, tapi cuaca berubah dengan drastis. Juni tak layak lagi disebut musim kemarau karena hujan dan rob justru mengancam pada bulan ini. Hujan di bulan Juni bukan lagi metafora ketabahan, melainkan keberlimpahan dalam makna yang mencemaskan.

Selamat jalan Pak Sapardi, sajakmu abadi...

Gambar oleh klimkin dari Pixabay.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain