Oase | Juli-September 2019

Bahasa Iklim

Persepsi kita dimulai dari bahasa. Makna peristiwa tergantung bagaimana kita memakai kata.

Bagja Hidayat

Mengelola blog catataniseng.com

BAHASA dan cara kita mengolah kata adalah sebermula sebuah konsep bekerja. Maka pada 17 Mei 2019, Pemimpin Redaksi The Guardian Katharine Sophie Viner mengirim memo internal kepada seluruh reporter di koran Inggris yang terkenal itu: ada beberapa perubahan istilah jika menulis tema “perubahan iklim”.

Alih-alih memakai “perubahan iklim (climate change)”, pakailah “darurat iklim (climate emergency) atau “krisis iklim (climate crisis)”. Alih-alih memakai “penghangatan global (global warming)”, lebih tepat istilah “pemanasan global (global heating). Jangan pakai “keanekaragaman hayati (biodiversity), karena yang pas “kehidupan liar (wildlife)”. Tak boleh lagi memakai “peragu ilmu iklim (climate skeptic)” tapi “penolak ilmu iklim (climate science denier)”.

Bahasa adalah pembentuk persepsi. Kita akan mengikuti logika tiap kata ketika memakainya, sesuai dengan makna yang disepakati oleh mayoritas penuturnya atau makna yang kita pahami dalam percakapan sehari-hari. Bagi redaksi Guardian, “perubahan iklim” tak lagi mewakili fakta ketika makin banyak data ilmiah yang menunjukkan planet bumi tengah menuju kehancuran akibat suhu yang naik karena emisi gas rumah kaca. “Global warming” bukan lagi istilah yang tepat karena kenyataannya bumi tengah terpanggang akibat panas matahari terperangkap di atmosfer karena naiknya konsentrasi karbon dioksida akibat polusi dan segala aktivitas manusia.

“Darurat iklim”, “krisis iklim”, dan “pemanasan global”, bagi Guardian, adalah istilah-istilah yang lebih tepat mewakili fakta dan kenyataan sekarang. Sebab, menjuluki satwa liar dengan “keragaman hayati” membuat keberadaan hewan kita diburu untuk diawetkan, dijual, dipelihara—padahal mereka adalah “satwa liar” yang habitatnya ada di hutan, bukan dikandang, rumah, apalagi di restoran.

Guardian agaknya meniru, jika tidak terinspirasi, oleh Greta Thunberg—gadis Swedia berusia 16 tahun yang berhasil memprovokasi dunia agar mogok sekolah dan turun ke jalan menuntut para pembuat kebijakan melakukan sesuatu mencegah krisis iklim ini.

BACA: Peran Rimbawan di Era Milenial

Sejak awal, dan dalam pidato-pidatonya yang dibukukan dan terbit Juni ini dengan judul No One is Too Small to Make a Difference, Greta mengajak tiap-tiap orang untuk panik, kepanikan yang muncul seperti ketika kita melihat atau terjebak dalam rumah yang terbakar. Panik memang tidak bagus. Karena dengan panik kita biasanya berpikir pendek. Dalam kepanikan kita tidak bisa tenang. Tapi dengan “merasa” panik kita akan terdorong untuk merasa terdesak dan melakukan satu-satunya cara tersisa untuk mencegah api kian membesar—seperti teori manajemen perubahan yang dimulai dengan rasa keterdesakan (sense of urgency).

Kamus iklim. Kata mengendalikan makna, bahasa menentukan tindakan kita.

Barangkali karena tak ada kepanikan terhadap bumi yang terpanggang itulah, negosiasi-negosiasi dalam konferensi perubahan iklim tiap tahun selalu mentok. Negara kaya dan miskin selalu terbelah tiap kali membuat kesepakatan cara-cara mencegah pemanasan bumi. Meski penelitian tentang iklim dimulai pada 1834 dan dipublikasikan sejak 1951, suhu bumi malah naik 0,8 derajat dalam 100 tahun terakhir. Kita tak merasa terdesak dan panik oleh istilah “iklim yang berubah”.

Walaupun anggapan itu tak terlalu akurat jika kita melihat apa yang terjadi di Indonesia. Sejak awal, istilah populer sejak 1990 di Indonesia adalah “pemanasan global”, bukan “penghangatan global” yang terdengar aneh. Apa yang terjadi setelah itu? Toh, laju deforestasi Indonesia sebesar 1,5 juta hektare per tahun atau hampir tiga kali luas lapangan sepak bola per menit.

Indonesia menikmati bonanza kayu dengan menebang pohon dan menggunduli hutan tanpa pikir panjang. Istilah “pemanasan global” tak menakuti para pembuat kebijakan dengan memikirkan ulang, misalnya, menyetop kebijakan memberikan izin jor-joran hak pengusahaan hutan (HPH). Istilah ini tak membentuk perspektif di masyarakat Indonesia yang sedang pesta pora mengeruk kekayaan bumi yang gemah ripah loh jinawi. Kita lebih terbuai oleh satu kata lain yang mewarnai hari-hari kita di masa Orde Baru: pembangunan.

BACA: Saatnya Meninggalkan Kayu

Alhasil, kritik-kritik dengan perspektif lingkungan menjadi mental karena akan dianggap mengganggu Indonesia yang sedang “mengejar ketertinggalan” dan berharap segera “tinggal landas” dari lembah keterbelakangan. Frase-frase itu menjadi bagian dari politik bahasa Soeharto hingga anak-anak seluruh Indonesia tak lagi kritis bahkan pada pemakaian-pemakaian kata yang keliru.

Indonesia mungkin jalan di tempat karena dalam pikiran kita ditanamkan untuk terus “mengejar ketertinggalan” bukan “mengejar kemajuan” bangsa lain. Kita bertahan di runway karena tujuan kita memang “tinggal landas” seperti makna pada frase “tinggal di rumah”, bukan “melesat dari landasan” pacu ketika mesin pesawat sudah panas.

Bahasa memang menunjukkan bangsa. Apa yang dilakukan Guardian adalah alat pertama membuat sebuah gerakan global mencegah planet kian terpanggang, dengan cara menanamkan persepsi hidup manusia sedang terancam dalam kegawatan, melalui bahasa.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.