Salam Ketua | Januari-Maret 2018

Bajiguran

Di bajiguran kita melebur sebagai rimbawan, sebagai sesama alumni Fakultas Kehutanan IPB, kita saling share untuk mempererat kekeluargaan ala HAE.

M. Awriya Ibrahim

Ketua Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan IPB periode 2015-2018

MEMASUKI tahun 2018, saya bungah karena  tahun ini kegiatan HAE  dibuka dengan acara bajiguran. Bajiguran adalah tradisi kita  untuk  mempertemukan HAE  tanpa memandang latar-belakang.

Di bajiguran kita saling memanggil Akang dan Teteh tanpa melihat strata umur dan status. Di bajiguran kita melebur sebagai rimbawan, sebagai sesama alumni Fakultas Kehutanan IPB, kita saling share untuk mempererat kekeluargaan ala HAE.

Sebetulnya, acara ini ingin kami gelar di pengujung 2017. Apa daya kesibukan kita membuat acara itu harus diundur hingga melewati tahun baru. Alhamdulillah acara temu kangen  sukses, ada 217 alumni tiap angkatan yang datang pada hari Minggu, 7 Januari 2018 di Gedung Pertamina-Sylva.

Seorang peserta mengatakan, acara bajiguran harus lebih sering diadakan. Saya setuju. Bagaimana pun, dalam silaturahim, pertemuan adalah tanda kita mensyukuri nikmat memiliki teman. Sebab dengan bertemu, Allah masih memberikan kita nikmat usia, nikmat waktu longgar, dan nikmat tertawa bersama mengenang kampus kita tercinta. Bagi akang-teteh yang belum sempat hadir karena kesibukan atau tempat yang jauh semoga diberi kesempatan itu agar kita makin bisa mempererat persaudaraan.

Saat panitia memberikan waktu saya berbicara, saya menyinggung banyak program yang sudah dilakukan oleh pengurus HAE. Ketika menengok kembali datanya saya terharu bahwa persaudaraan Fahutan makin erat. Itu terlihat dari belum sepeser pun kas Himpunan keluar untuk menolong sesama alumni yang membutuhkan.

Sebab, koordinasi tiap angkatan ternyata sangat solid. Tiap kali saya mendengar kabar ada seorang alumni yang kebetulan mengalami kesulitan, ketua angkatan telah mengkoordinasikan bantuan untuk akang-teteh yang membutuhkan. Kas alumni menyediakan dana sosial dan memang disiapkan untuk itu. Tapi, kekompakan angkatan ternyata betul-betul telah dipraktikkan, sehingga akang-teteh yang membutuhkan bantuan itu telah tertangani.

Semboyan kita adalah ASIK: agamis, sportif, intelek, dan kompak. Kita mengenal filosofinya sejak ospek di tingkat satu dan akan mempraktikkannya hingga akhir hayat. Apa yang dilakukan akang-teteh alumni di atas adalah perwujudan semboyan itu. Juga pelaksanaan semboyan himpunan alumni kita yaitu care and respect, peduli dan saling menghargai. Di mana pun dan kapan pun, semua rimbawan bersaudara.

Hal lain yang saya laporkan adalah tentang  penerbitan majalah ini. Alhamdulillah, dengan kerja keras awak redaksi, majalah ini sudah  terbit hingga enam edisi. Artinya sudah melewati satu tahun, sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat Forest Digest ini dikerjakan tanpa pengetahuan yang mengelola sebuah penerbitan. Sekali lagi terbitnya majalah yang sedang akang dan teteh baca ini adalah bukti kekompakan HAE, tanpa memandang angkatan, yunior atau senior.

Meskipun ada awak redaksi, sesungguhnya majalah ini dikerjakan oleh kita dan untuk kita. Awak redaksi hanya bertugas menjadi koordinator lalu-lintas naskah dan foto hingga sampai di penerbit untuk dicetak. Pengisi majalah ini adalah kita semua: alumni, mahasiswa, civitas academica Fahutan. Potensi kita sangat besar, karena Para alumni kita tersebar di pelbagai bidang. Saya mengundang Akang dan Teteh untuk dapat menulis di majalah kebanggaan kita ini

Saya melihat ada semangat sangat besar dari tim untuk mengelola majalah ini secara profesional. Saya senang bila setiap kali membaca sebuah artikel ada nama akang dan teteh alumni HAE di sana. Seperti dikatakan penulis besar Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah memberikan jejak dalam hidup kita. Menulis adalah mengabadikan sejarah yang akan menjadi penanda untuk anak-cucu kita kelak.

Akang Teteh sekalian,

Kepengurusan kami hanya  tinggal sembilan bulan lagi, saya ingin majalah ini terus terbit sampai kapan pun. Sebab Forest Digest adalah wajah kita, wajah alumni Fakultas Kehutanan IPB, yang akan dilihat oleh dunia.

Salam hangat, jabat erat. Selamat tahun baru. Sampai berjumpa di acara bajiguran berikutnya.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.