Surat dari Darmaga | 28 Juni 2020

Secangkir Kopi Ekoturisme

Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

Wiene Andriyana

Rimbawan tinggal di Kanada

ARTIKEL ini saya tulis sambil minum kopi di kafe lokal favorit warga Kanada yang ada di hampir semua sudut negara ini: Second Cup Coffee & Co yang berdiri sejak tahun 1970. Saya minum kopi di kafe ini di Ottawa, ibu kota Kanada.

Sambil menyeruput kopi hitam tanpa gula, saya mengamati barista muda yang meracik segelas vanilla latte untuk seorang pelanggan. Prosedurnya standar saja: menyiapkan espresso dasar, memanaskan susu, menyiapkan sirop vanila dan gelas yang cantik. Barista itu meracik tiga bahan dasar vanilla latte dengan cekatan tapi terukur hingga ia menaburkan bubuk kayu manis dan coklat di atasnya lalu menyodorkannya kepada pemesan itu.

Untuk menghasilkan satu gelas vanilla latte butuh proses yang panjang. Ada jenis kopi, susu, sirop, dan seorang barista yang paham meraciknya. Desain kafe akan membuat vanilla latte itu kian bertambah nilai cerita di belakangnya. Benar kata orang. Segelas kopi hanyalah segelas kopi. Ia berbeda karena ada cerita yang menyertainya.

Entah mengapa ketika memikirkan proses itu pikiran saya jadi melayang ke Taman Nasional Banff di Provinsi Alberta, taman nasional tertua di Kanada yang berdiri tahun 1885 dan menjadi cikal bakal sistem taman nasional di negara ini. Musim panas lalu saya berkunjung ke sana. Ada kesamaan antara meracik kopi dengan ekoturisme taman nasional.

Lanskap taman nasional secara fisik berperan sebagai espresso, bahan utama atau modal dasar ekoturisme. Untuk mendapatkan espresso dengan kualitas yang baik, kita perlu biji kopi yang berkualitas baik, yang bersumber dari kebun kopi yang legal dan dikelola dengan prinsip berkelanjutan.

Untuk menjadi espresso yang berkualitas, taman nasional perlu menerapkan tata kelola kawasan yang berkelanjutan sesuai dengan fungsinya, di antaranya melakukan perlindungan kawasan dan pemberdayaan masyarakat. Biji kopi yang sustainable dan traceable, menjadi metafora untuk pentingnya pengelolaan kawasan yang dilakukan secara transparan dan akuntabel.

Infrastruktur, ketersediaan logistik, dan berbagai fasilitas adalah susu dan sirop vanila. Konektivitas, komunikasi, dan promosi, pendekatan yang terintegrasi, semuanya berperan sebagai “mesin kopi”, yaitu alat yang akan membuat espresso dan bahan tambahannya bisa diracik lebih lanjut.

Barista adalah pemerintah, sebagai pengelola taman nasional, yang mengidentifikasi, mengenali, menganalisis permintaan pelanggan, dan meracik bahan-bahan itu hingga menjadi suatu produk ekoturisme. Pemerintah juga adalah manajer kafe yang memastikan keterhubungan, keharmonisan, dan keberlanjutan antara sisi permintaan dan sisi suplai melalui berbagi kebijakan dan standar operasi pengelolaan kafe. Bahkan jika dibutuhkan, pemerintah berperan membuat permintaan yang tak ada menjadi ada.

Dari semua bahan dan alat itu, dengan asumsi semua diracik dengan takaran yang tepat, kita akan bisa menyajikan satu paket ekoturisme seperti secangkir vanilla latte yang menggiurkan. Tapi tunggu dulu, bagaimana kita meyakinkan pembeli untuk membeli produk itu?

Di sinilah teknik penyajian, promosi, dan strategi pemasaran menjadi sangat penting. Artinya, walaupun memiliki bahan, alat, dan skill prima, seorang barista tidak bisa bekerja sendiri untuk mengundang pengunjung akan datang dan memesan vanilla latte tersebut. Artinya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri jika ingin ekoturisme menjadi salah satu produk terbaik hutan kita.

Pemerintah perlu bermitra dengan masyarakat, pemerintah daerah, NGO, swasta, akademisi dan yang pasti para pelaku bisnis. Nilai ekoturisme perlu dikemas dengan akurat dan tepat dengan mempelajari keinginan mengalami (willingness to pay) calon pengunjung. Sehingga pengunjung mendapat kejelasan dari harga yang harus mereka bayar untuk menikmati ekoturisme tersebut.

Harga di sini mencerminkan pengorbanan yang mereka keluarkan terkait biaya maupun waktu. Pemerintah perlu jeli membidik influencer yang tepat, untuk mendorong ketertarikan dan rasa penasaran calon pengunjung untuk mencoba menu-menu ekoturisme yang itu.

Saya merasa menjadi “korban” pemerintah Kanada. Mereka pintar sekali mengemas Taman Nasional Banff tak hanya menjadi kebanggaan mereka, tapi juga kebanggaan siapa pun yang berkunjung ke sana.

Biaya berkunjung ke taman nasional ini tidak murah—hampir setara berkunjung ke Eropa. Dari Ottawa kita perlu terbang empat jam 15 menit ke Calgary. Dari ibu kota provinsi ini masih naik mobil ke kota Canmore selama satu jam. Dari kota kecil yang tua ini Taman Nasional Banff berjarak 20 menit. Jadi total perjalanan kira-kira 3.645 kilometer—sama jaraknya dari Jakarta ke Papua. Jika jalan darat butuh 42 jam nonstop melewati beberapa negara bagian Amerika Serikat.

Butuh perjuangan luar biasa untuk bisa melihat berbagai keindahan dan keunikan taman nasional ini. Untuk sampai ke Danau Moraine, misalnya, tiap orang harus berangkat pukul 3 pagi dari Canmore sebelum pengunjung membludak sehingga jalan ditutup. Dengan kemasan nilai historis sebagai bonus keindahan lanskap di sekujur Banff, rebutan sampai ke sana, saya tidak ragu membayar tiket masuk ke sana.

Danau Moraine di kawasan Taman Nasional Banff, Kanada.

Bahkan banyak eks-pengunjung (termasuk saya) yang secara sukarela mengiklankan hasil kunjungan mereka, yang menjadi sarana promosi dan pemasaran gratis bagi taman nasional ini. Lebih parah lagi, saya jadi ketagihan berkunjung ke sana. Saya yakin, saya tidak sendirian.

Dampaknya, tidak hanya lanskap taman nasional yang terjaga secara fisik, geliat ekonomi di wilayah taman nasional menjadi hidup. Taman Nasional Banff menjadi salah satu taman nasional yang paling banyak dikunjungi di wilayah Amerika Utara, dengan rata-rata pengunjung lebih dari 3 juta per tahun, bahkan mencapai 4,18 juta pengunjung pada 2017.

Jika melihat salah satu definisi “tourism” secara umum yang sering dirujuk, yaitu menurut Leiper (1990:381) yang juga sejalan dengan MacCannell (1989), ada tiga unsur utama yang membentuknya, yaitu: 1) turis atau pengunjung yang memiliki kebutuhan berwisata; 2) nucleus atau inti, yaitu suatu fitur atau karakteristik dari tempat yang akan mereka kunjungi, dan 3) setidaknya satu penanda, yaitu informasi tentang fitur atau karakteristik tersebut.

Pemahaman wisata menurut Leiper ternyata sejalan dengan pendekatan memakai kacamata vanilla latte. Misalnya, unsur nucleus yang terwakili sebagai espresso dalam secangkir vanilla latte.

Beberapa rujukan ilmiah menyebutkan bahwa beberapa hal yang membuat kegiatan wisata secara umum masuk menjadi kategori “eko”, yaitu bahwa unsur nucleus berupa sumber daya alam dan pengunjung maupun pelaku usaha wisatanya menerapkan prinsip-prinsip “hijau” dan mendukung upaya-upaya konservasi lingkungan.

Titik favorit para pengunjung Taman Nasional Banff di Kanada.

Dengan memakai kacamata secangkir kopi, prinsip hijau ini bisa dilihat dari penggunaan biji kopi dari pemasok yang menerapkan praktik-praktik berkelanjutan.

Anyway, ternyata hubungan antara ekoturisme dengan segelas vanilla latte menjadi lebih rumit dari yang saya bayangkan. Namun, pada akhirnya, semua jenis racikan kopi pada dasarnya sama.Mereka berbahan utama kopi hitam pekat alias espresso. Salah satu yang membedakan adalah bagaimana espresso tersebut diracik dan dikemas menjadi suatu produk yang menjual dan pada akhirnya membuat pengunjung memilih menikmatinya. Bahkan mungkin ketagihan meminumnya lagi.

Begitu pun dengan ekoturisme, sebesar apa pun potensinya, ia tidak akan terlihat dan menjual jika tidak diracik, dikemas, dan dipasarkan dengan strategi yang tepat dan komprehensif.

* Koreksi 11 Juli 2020 tentang tahun berdiri Taman Nasional Banff. Tertulis sebelumnya 1887.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain