Buku | April-Juni 2020

Kalau Pohon Bisa Ngomong

Melalui Thus Spoke the Plant, Monica Gagliano membuktikan bahwa tanaman bisa berpikir dan berkomunikasi satu-sama-lain. Kecurigaan para biologis tiga abad lalu.

Redaksi

Redaksi

CHARLES Darwin sudah lama curiga bahwa tanaman punya pikiran. Ia bahkan berani berasumsi tanaman punya jenis kelamin, seperti manusia, seperti hewan. Dalam Origin of the Species, Darwin menulis bahwa tanaman bisa berhubungan seksual. Para ilmuwan meragukannya. Thomas H. Huxley, biologis koleganya dari Inggris, menyebut dugaan Darwin itu sebagai “hipotesis cakep dengan fakta pendukung yang buruk.”

Satu abad sebelumnya, ilmuwan Swedia, Carl Linnaeus, juga punya hipotesis serupa. Menurut dia, tanaman bisa bercinta seperti hewan dan manusia. Biologis Erasmus Darwin, kakek Charles, bahkan menerbitkan bab The Loves of The Plants, dalam buku The Botanic Garden, yang kemungkinan mempengaruhi cara berpikir dan hipotesis cucunya

Satu abad kemudian, asumsi Darwin itu terbukti. Para ilmuwan memastikan bahwa tanaman berkomunikasi satu sama lain. Suzanne Simard, pengajar ekologi hutan di University of British Columbia, Kanada, lama meneliti percakapan tumbuhan. Memakai mikoriza, jamur pada akar, ia tahu bahwa pohon saling bertukar karbon melalui jaringan rumit akar di dalam tanah.

Sebuah pohon tumbang atau hendak sekarat karena habis masa usianya akan segera mengirimkan karbon tersisa yang ia miliki kepada pohon yang tumbuh di sampingnya. Pohon yang menjatuhkan biji akan mengasuh melalui transfer karbon seperti seorang ibu menyapih anak-anaknya. “Itulah komunikasi tanaman paling bijak,” kata Simard.

Simard memberi kata pengantar dalam buku Monica Gagliano yang menyelidiki hal serupa, tentang kemampuan kognitif tanaman dan cara komunikasi mereka. Monica memberi judul Thus Spoke The Plant, mengingatkan kita pada judul terkenal buku babon filsafat karya Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra. Memang begitulah buku ini. Ia memaparkan dengan gaya prosa yang memikat percakapan tanaman dan pohon-pohon.

Sesungguhnya bahan dasarnya adalah penelitian Monica yang sudah dimuat di banyak jurnal ilmiah. Ia menulis ulang penelitiannya dengan membubuhkan pengalaman meneliti pohon-pohon di hutan Amazon dan tinggal berbulan-bulan di hutan tropis Peru. Ia dan pohon-pohonnya menjadi tokoh utama buku yang seperti novel ini. Karena itu pohon punya nama, sebab itu Monica menyebut buku ini phytobiography, otobiografi pohon.

Maka tak hanya Monica yang menuturkan kisah-kisah di buku ini, tapi pohon-pohon juga berbicara. Mereka bisa mengatakan “oryngham”, kata dalam bahasa pohon yang berarti “terima kasih”. Tentu saja, kata itu hanya bisa didengar Monica. Ia mengakui bahwa ia akan disebut “gila” karena berkeras apa yang ia tulis, peristiwa-peristiwa yang ia gambarkan, bukan metafora alias benar-benar terjadi. Sebab, pohon bisa berbicara dan berkomunikasi saja masih dianggap “pseudosains”.

Monica mengambil risiko itu. Penuturannya memang seperti orang melantur, bahkan halusinatif, terutama ketika ia bercakap dengan Socoba (Himatanthus sucuuba), pohon besar di Amazon, yang hadir dalam mimpinya, menuntunnya ke Peru menjumpai dan menelitinya. Tapi di luar soal itu, penelitian-penelitiannya menarik. Seperti Simard, Monica membuktikan bahwa pohon bisa mempelajari dan mengingat lingkungannya untuk tumbuh.

Sebuah pohon akan mengikuti cahaya dan air yang dibutuhkannya dalam pipa yang berbeda dan mengingat cara itu ketika diulangi tiga bulan kemudian. Proses fotosintesis, menurut Monica, tak hanya sebagai cara pohon tumbuh, tapi juga cara mereka mempertahankan diri. Artinya, cara akar tanaman menjangkau makanan dan air bukan semata kecenderungan begitulah mereka hidup, tapi proses yang mereka pelajari dalam survival.

Tanaman putri malu (Mimosa pudica) akan menguncup ketika kita sentuh. Monica menjatuhkan putri malu dari ketinggian 15 sentimeter dan mengulanginya hingga 60 kali. Putri malu akan mempelajari reaksi dari luar dirinya hingga pada percobaan ke-4 ia tak lagi menguncup tiap kali dijatuhkan. Instingnya menjadikan sentuhan sebagai hal biasa karena berasal dari reaksi yang sama.

Kesimpulan-kesimpulan Monica mengandung pertanyaan. Seperti, apakah cara berpikir itu unik untuk tiap pohon sehingga bisa kita simpulkan otak tumbuhan berbeda-beda, seperti kemampuan manusia dalam berpikir? Mungkin ini pertanyaan yang rumit dan terlalu canggih. Tapi pertanyaan ini dipicu oleh kesimpulan Monica sendiri yang menggambarkan kemampuan pohon dalam mengingat dan berpikir sebagai proses yang sophisticated.

Terlepas dari kesimpulan-kesimpulannya yang terbuka diperdebatkan dengan penelitian lanjutan untuk mendukung dan mematahkannya, penelitian Monica—ilmuwan biologi laut keturunan Italia yang tinggal di Australia—layak direnungkan. Jika pohon bisa berpikir, jika mereka punya memori, maka tak patut kita menyakitinya. Mereka berjasa menjadi penyeimbang planet ini.

Thus Spoke the Plant: A Remarkable Journey of Groundbreaking Scientific Discoveries and Personal Encounters with Plants, Monica Gagliano, North Atlantic Books, 2019, 176 halaman

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain