Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|16 Juni 2020

Influenza yang Meneror Dunia

Resensi buku The Great Influenza, yang merekam wabah flu Spanyol 1918-1999. Dalam tiga gelombang jumlah orang tewas 100 juta jiwa: virus influenza meneror dunia.

ADA begitu banyak kemiripan antara pandemi virus corona covid-19 saat ini dengan flu Spanyol pada 1918-1919. Karena itu saya membaca The Great Influenza setebal 550 halaman ini dengan berdebar. Kemajuan teknologi di berbagai bidang membuat situasi saat ini jauh lebih baik. Namun, secara umum, kegagapan yang sama kita alami hari ini dan 102 tahun lalu.

Sejarawan John M. Barry menulis buku ini dengan bagus, terutama cara ia menggali dan menyajikan informasi. Menurut saya, cara Barry menyajikan data jauh lebih kaya dibanding buku-buku Yuval Noah Harari, profesor sejarah di Hebrew University, Yerusalem, yang menulis Sapiens dan Homo Deus yang terkenal itu. Barry mengisahkan flu Spanyol dengan menawan, naratif, sekaligus puitis—sebuah pendekatan yang asyik untuk buku bertema sejarah sains.

Butuh tujuh tahun bagi John Barry mengumpulkan data detail hingga buku ini terbit pada 2004, dua tahun setelah wabah SARS—sindrom pernapasan akut yang asal virusnya satu famili dengan corona—yang menelan 750 jiwa. Mengingat tahun terbitnya, seharusnya buku ini menjadi rujukan wajib bagi semua tenaga medis dan praktisi kesehatan masyarakat , juga semua yang ingin belajar dari peristiwa epik yang merebak setelah Perang Dunia I usai itu.

Influenza. Ya, hanya influenza. Tidak lebih. Tak ada yang perlu ditakutkan.

Rupanya nada meremehkan akan wabah sudah menjadi karakter utama manusia. Sikap meremehkan, menutup-nutupi fakta, adalah ramuan penting yang  menjadikan flu Spanyol menyebar begitu parah hingga menelan korban hingga 50-100 juta jiwa. Jika dihitung perbandingan dengan populasi dunia saat ini, korban pandemi kala itu setara dengan 150-425 juta jiwa dalam setahun (awal 1918 hingga awal 1919).

BACA: Asal-usul Virus Flu Spanyol

John M. Barry mengawali buku dengan agak lamban. Lapis demi lapis konteks masyarakat dunia dan Amerika pada saat itu ia ceritakan pada bab-bab awal. Butuh kesabaran untuk benar-benar sampai pada bab 6, saat kisah infeksi influenza yang mematikan benar-benar dimulai. Namun, konteks masyarakat Amerika dan dunia saat itu memang penting dalam membingkai pemahaman tentang keseluruhan pandemi yang mengerikan ini.

Buku ini juga secara rinci menyajikan bagaimana bakteri dan virus bekerja. Agak menghambat alur, memang, dan mungkin menyebalkan buat yang tak suka biologi.

Barry membuka Bab 1 yang berjudul The Warriors dengan figur-figur gigantis di dunia ilmu pengetahuan pada akhir 1800-an. Saya baca profil para saintis keren itu saat kuliah di jurusan biologi UGM. Mereka, antara lain, William Henry Welch, sosok yang sangat berpengaruh dalam dunia kedokteran dan membuat John Hopkins University disegani para ilmuwan dunia.

Sebelum Welch turun tangan, pendidikan kedokteran di Amerika tertinggal jauh dari Eropa. Calon dokter tak perlu langsung menangani pasien, cukup hadir di kelas kuliah. William Welch membuat revolusi pengajaran, menyuburkan iklim riset hingga para ilmuwan bersaing dan beradu gagasan—didukung Rockefeller Institute, lembaga riset dan filantropi yang didirikan pebisnis John Davison Rockefeller (1839-1937)—lembaga yang berperan penting dalam pandemi 1918.

John Barry dan bukunya, The Great Influenza.

Sosok lain, warrior yang juga sangat berkesan, adalah Oswald Avery. Dialah yang membuat landasan hingga memungkinkan duet James Watson dan Francis Crick mengurai rantai DNA, pada 1944, yang kemudian menjadi dasar kedokteran modern saat ini. Ada juga sosok Simon Flexner, yang di tahun 1910 berhasil menekan angka kematian meningitis di level 10 persen tanpa antibiotik —sebuah capaian yang sulit ditandingi bahkan hingga kini.

Bab-bab awal The Great Influenza menyajikan kegigihan para ilmuwan mencari vaksin bagi penyakit-penyakit mematikan kala itu. Difteri, campak, meningitis, adalah hantu yang menakutkan dan para ilmuwan bekerja keras menaklukkannya. Barry menyuguhkan perjuangan para pejuang ini, sosok-sosok ilmuwan yang digerakkan semangat mencari penyembuh di tengah tantangan mematikan.

Selain sejarah dunia sains dan kedokteran, berikut para pejuangnya, Barry juga mengulas konteks politik Amerika saat itu. Presiden Amerika Woodrow Wilson dihadapkan pada palagan Perang Dunia I, yang mulai memanas pada 1914. Awalnya Wilson tak ingin terjun berperang, tapi desakan konstituennya dari Partai Demokrat tak bisa ia hindari. Amerika pun terjun ke medan perang, dengan episentrum di Prancis, pada 1917.

BACA: Virus Corona dan Pemanasan Global

Persiapan menuju medan perang ini cukup kompleks. Wilson terlebih dahulu menciptakan kondisi yang memungkinkan konsentrasi dan mobilisasi masyarakat. Kalau di sini mungkin semacam menggaungkan jargon-jargon semacam “NKRI harga mati”. Serangkaian peraturan dibuat, termasuk ancaman penjara bagi siapa pun yang mengkritik pemerintah dan menolak membeli surat utang (government bond) untuk pembiayaan perang. Aktivis, jurnalis, dan tokoh-tokoh yang menolak perang ditangkapi dan dipenjarakan.

Mimpi buruk pun dimulai pada Februari-Maret 1918. Ini bibit pertama pandemi bermula. Uniknya, berdasar penelusuran John Barry, pandemi ini bukan bermula di Spanyol seperti namanya (soal asal-usul nama klik di sini) tetapi di sebuah kota kecil, yakni Haskel, Kansas. Beberapa warga Haskell sakit flu yang aneh, lebih parah dari influenza biasa.

Hanya dalam beberapa pekan, awal Maret 1918, penyakit serupa menyebar di kompleks pertanian di area sekitar, antara lain Santa Fe, Jean, Copeland. Puluhan orang meninggal. Loring Miner, dokter di Haskell, mengabarkan adanya penyakit aneh ini ke media. Tapi, hanya sedikit berita yang muncul. Perlu diingat, Presiden Wilson ketika itu memastikan bahwa semua media harus menyebarkan berita yang menyemangati perang.

Influenza, ya, hanya influenza biasa saja. Tak usah khawatir.

Jumlah kematian akibat wabah flu Spanyol.

Beberapa pemuda Haskell, yang menjadi prajurit, pun berangkat ke kamp militer Funston. Tak ada yang tahu, sekelompok prajurit dari Haskell ini membawa virus mematikan di tubuh mereka. Para pemuda ini hanya menjalani pelatihan dan bersiap mau ke medan perang.

Horor itu dimulai ketika seorang juru masak di barak Funston sakit. Tak lama kemudian, 237 prajurit sakit serupa dan sebagian besar harus dirawat (lihat foto). Ada 38 prajurit meninggal. Peristiwa ini tidak memicu alarm apa pun. Semua agenda berjalan normal. Prajurit yang sehat dikirim ke medan perang. Mereka tak sadar bahwa para prajurit inilah bakal membawa “senjata” virus mematikan ke seluruh dunia.

Maret, April, Mei, virus pun menyebar ke Jerman, Prancis, dan Inggris. Ratusan ribu prajurit bertempur, tinggal dalam barak-barak sempit dan bertukar keringat. Sayangnya, negara-negara yang sedang berperang ini semuanya menyensor media. Tak boleh ada berita negatif. Ribuan prajurit yang gering pun tak terekam dalam pemberitaan.

BACA: 10 Wabah Terburuk Era Modern

Pada Mei, media Spanyol mengabarkan ada banyak orang sakit pneumonia aneh. Seperti flu, tetapi jauh lebih berat dan mematikan. Spanyol, dalam Perang Dunia I, adalah negara yang netral sehingga berita semacam ini tak disensor. Nah, dari sinilah nama “flu Spanyol” bermula.

Pada tahap ini, para ilmuwan jagoan di John Hopkins belum tahu, memang tak diberi tahu. Para ilmuwan menggunakan jalur investigasi sendiri. Selain sedang sibuk berpacu mencari vaksin difteri dan campak, surat kabar juga tak pernah memberitakan adanya bom waktu yang siap meledak. Ratusan ribu prajurit sakit, hingga melemahkan semangat berperang. Tapi, Woodrow Wilson dan para pemimpin lain tetap mengabaikan wabah dan membiarkan nyawa prajurit berjatuhan, seperti lalat.

Tak ada satu pun pernyataan Wilson tentang wabah ini di hadapan publik.

Barry menulis, kebrutalan para pemimpin ini hanya bisa ditandingi dengan kebodohan mereka sendiri. Para jenderal hanya menghentikan beberapa acara pesta, nyanyi-nyanyi, untuk meredam penularan. Pada Agustus 1918, wabah masih mematikan namun laju kasus mereda. Sebuah nota intelijen menyebutkan perlunya kewaspadaan tinggi untuk mencegah penyebaran. Tapi, peringatan ini diabaikan karena jumlah orang yang terinfeksi sudah mereda.

Benarkah sudah mereda? Tidak. Virus influenza sedang merapatkan barisan, bermutasi lagi, dan menyiapkan serangan gelombang kedua yang lebih mematikan.

Devens, barak militer besar di Boston, cukup percaya diri menghadapi wabah. Mereka punya rumah sakit dengan 36 ribu tempat tidur. Dokter dan perawat cukup lumayan. Dalam waktu singkat, kepercayaan diri itu lumer.

Pada 7 September 1918, seorang prajurit sakit. Esoknya, belasan lain gering. Makin hari makin banyak, hingga pada 22 September, 8.000 prajurit sakit yang 500 di antaraya meninggal. Mereka, prajurit yang masih muda, dengan kondisi fisik prima, tewas hanya dalam hitungan hari setelah terinfeksi virus flu. Menurut riset Barry, anak-anak muda tewas padahal mereka memiliki sistem kekebalan tubuh yang bagus. Penyebabnya justru itu: cytokin yang berfungsi melawan virus, dalam jumlah masif ternya melumpuhkan tubuh sendiri.

BACA: Mengapa Kelelawar Jadi Sumber Virus Mematikan?

Devens cuma satu riak dalam gelombang kedua. Kota-kota lain berjatuhan ditekuk influenza. Philadelphia mendapat sorotan paling banyak dalam buku ini. Kota ini memang paling brengsek: wali kota tak mau tahu urusan publik. Pejabat kesehatan masyarakat menutup-nutupi fakta. Senatornya tak lebih dari preman yang mengutip upeti dari penduduk. Media tak boleh menyiarkan wabah.

It is just influenza. Don’t get scared!

Philadelphia adalah lahan subur bagi wabah. Influenza mengancam. Pejabat publik tak peduli. Mereka bahkan tetap percaya diri menggelar parade penggalangan dana perang. Ribuan orang berjejalan menonton di pinggir jalan. Pawai yang mengantar kepada kematian.

Hanya beberapa hari setelah parade, orang-orang pun jatuh sakit. Kematian datang lebih cepat. Kertas krepe, penanda kematian, menempel di setiap pintu rumah. Para jawara sains yang disebut di bab-bab awal berpacu mencari penyebab wabah, lalu mencari obat dan vaksin. Waktu mereka tak banyak diburu kematian bertubi-tubi, seperti hujan mata panah.

Peti mati menjadi barang berharga. Ada banyak pencurian peti mati ketika wabah merajalela. Keluarga yang tak sanggup membelinya, menggeletakkan si mati begitu saja di ruangan berhari-hari. Lagi pula, semua orang sakit, tak ada yang bisa merawat jenazah, anak-anak juga telantar. Pejabat menghimbau relawan datang membantu. Tapi, siapa yang mau percaya pejabat yang telah mengabaikan warganya sendiri? Trust, modal sosial dalam politik itu, sudah lama pergi.

Ribuan kematian membuat penduduk membatasi diri. Mengkarantina diri. Toko-toko tutup. Kantor, sekolah, gereja, tutup. Jalanan senyap. Kota-kota lain juga mengisolasi penduduk masing-masing. Orang-orang mulai mengenakan masker. Poster “Spit spreads death”, meludah menyebarkan kematian, dipasang di jalanan. Toh, kematian tetap menderas, dengan laju bervariasi tiap wilayah.

Komunitas mengambil alih peran pemerintah, yang dianggap gagal. Perempuan, lelaki, tua, muda, bersama-sama menyediakan seprei yang baru dicuci, membersihkan rumah-rumah yang dipenuhi orang sakit, juga mayat. Anak-anak diberi makan.

BACA: Mengapa Muncul Virus Mematikan?

Akhir Oktober, gelombang kedua mereda. Para ilmuwan berhasil menerapkan terapi dengan serum darah penyintas. Jadi, ide memakai serum darah penyintas flu yang sekarang ramai sudah dipakai saat wabah flu Spanyol 1918. Pada 17 Oktober, vaksin yang dikebut siang-malam, juga berhasil diproduksi. Wabah gelombang kedua perlahan melandai dan menurun. Isolasi dan karantina melonggar. Orang-orang bersuka cita, sampai datang lagi gelombang ketiga yang lebih dahsyat.

November 1918. Ratusan ribu prajurit yang pulang dari medan perang tiba ke kampung-kampung halaman mereka. Kali ini, kota-kota di Amerika sudah lebih bersiap. Para ilmuwan menyiapkan fasilitas karantina tujuh hari, sebelum para prajurit boleh kembali ke rumah masing-masing. Namun, serangan virus gelombang ketiga tetap tak terelakkan di seluruh Amerika. Kali ini virus telah menjangkau seluruh dunia, dari Madagaskar sampai Alaska. Hindia Belanda tak terkecuali, yang kehilangan 1-1,5 juta jiwa (perhitungan terbaru Michigan University bahkan menyebut Jawa kehilangan 4,4 juta penduduk pada masa itu. Lihat artikelnya di sini).

Selain detail yang mendebarkan, Barry punya sentuhan menarik menghadirkan ironi dan kejutan dalam buku ini yang membuat ceritanya kian menohok.

Di akhir Perang Dunia I, Woodrow Wilson tampak agak linglung dan tidak tajam di meja perundingan. Dia begitu saja mengikuti keinginan Georges Clemenceau, Perdana Menteri Prancis. Dalam kabar-kabar resmi, Wilson dikabarkan terkena stroke yang menimpanya setelah perang. Tapi, dari berbagai keterangan sumber yang dikumpulkan Barry, terdapat sejumlah bukti yang mengarah pada kemungkinan Wilson terkena flu.

Wilson kena influenza, ya, hanya influenza.

Wartawan

Bagikan

Komentar

Artikel Lain