Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|09 Mei 2020

E-Learning Perhutanan Sosial: Menjaga Semangat Petani di Masa Pandemi

Pelatihan jarak jauh (e-lerning) perhutanan sosial gelombang II berakhir. Semangat petani di masa pandemi mendapat ilmu baru tetap tinggi meski sinyal timbul-tenggelam.

DI masa pandemi virus corona covid-19 ini hampir semua kegiatan yang rutin dan lazim kita lakukan terhenti. Keharusan “di rumah saja”, “stay at home”, untuk memutus rantai penularan virus ini tidak bisa dihindari akan menimbulkan ketidaknyamanan dan kebingungan bagi banyak orang. Perasan itu wajar belaka. Hal biasa sekarang jadi terasa luar biasa, seperti keluar rumah untuk bekerja, untuk bersosialisasi. 

Sejalan dengan itu, semangat pun sering kali naik-turun menghadapi wabah global ini. Hal ini juga dialami oleh banyak petani hutan di Indonesia. Pelatihan online atau e-learning perhutanan sosial yang diselenggarakan sejak akhir April 2020 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ternyata bisa membuat api semangat belajar para petani hutan tetap terjaga di masa pandemi ini.

“Kita merasa disayang oleh tutor dan panitia,” kata Ramlah, seorang perempuan muda dari Masyarakat Hukum Adat Ammatoa Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, ketika ditanya kesan-kesannya mengikuti pelatihan ini. “Bahkan kami merasa sudah seperti saudara. Ini membuat kita tetap bersemangat.”

E-learning perhutanan sosial ini sampai sekarang telah berjalan dua gelombang. Gelombang I pada 27-30 April 2020 diikuti total 498 peserta, gelombang II berlangsung 5-9 Mei 2020 diikuti 514 peserta. Peserta berasal dari pendamping dan penyuluh kehutanan serta kelompok petani hutan dari berbagai tempat di Indonesia, yang sudah mendapatkan akses legal hutan sosial.

Apa saja yang dijalani peserta saat mengikuti e-learning? Mereka mempelajari lima seri Pendampingan Perhutanan Sosial, yang terdiri dari Seri Pendampingan Tahap Awal, Seri Pengelolaan dan Pengembangan Kawasan Hutan dan Lingkungan, Seri Kerjasama, Akses Modal dan Pasar, Seri Pengelolaan Pengetahuan serta Seri Monitoring dan Evaluasi.

Semua sesi dikemas menjadi serangkaian mata pelajaran yang total diberikan selama empat hari, dari pagi hingga siang. Sebelum kelas via zoom ini dimulai, peserta telah mempelajari terlebih dahulu modul dan paparan tutor. Sesudah kelas selesai, ada tugas dan serangkaian tes yang diberikan tutor kepada peserta. Selesai pelatihan empat hari, masih ada tugas membuat rencana tindak lanjut yang nanti akan diterapkan di masing-masing tempat.

E-learning yang padat ini, nyatanya dinikmati dengan baik oleh peserta. Hampir tanpa mengeluh, petani dan pendamping hutan sosial tersebut menekuni modul demi modul. Berbagai ekspresi “nyaman namun serius” ditampilkan peserta saat mengikuti kelas.

Paling tidak dua orang peserta pada gelombang I, misalnya, menyimak tutorial sambil menunggu istri melahirkan. Ada beberapa peserta laki-laki yang duduk di depan kamera telepon seluler sambil memangku anak. Ada pula seorang peserta yang sedang belajar tampak ditunggui ibunya yang ingin tahu aktivitas anaknya.

Lain lagi cerita beberapa petani nun jauh dari Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku sana yang mengikuti pelatihan bersama-sama dengan teman-teman petani lainnya. Pendeknya, semua terlihat bersemangat. Semua tampak terlibat bersama-sama peserta, dari anak, suami, ibu, kerabat dan sahabat.

Mata pelajaran yang diberikan para narasumber dan tutor dirancang sesuai dengan kebutuhan dan bisa diterapkan oleh petani maupun pendamping di tempat masing-masing. “Saya senang kemarin mendapat pelatihan pemetaan. Jadi saya mulai tahu cara menggunakan GPS (global positioning system). Dan ini memang saya perlukan di kelompok,” kata Andi Samsualang, seorang petani dari Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Senada dengan Andi, petani lainnya, Manawi dari Kelompok Tani Hutan Tandung Billa, Palopo, Sulawesi Selatan, mengatakan bahwa pelatihan ini menjadi nilai tambah bagi ia dan kelompoknya. “Bermanfaat,” katanya sembari tertawa lebar. “Saya jadi makin tahu banyak hal.”

Diawasi Ibu. Seorang petani hutan sosial mengikuti pelatihan jarak jauh.

Satu-satunya keluhan yang terkadang timbul adalah masalah sinyal. Perlu kesabaran lebih bagi sebagian peserta yang ada di pelosok atau pedalaman untuk mengakses sinyal, utamanya bagi yang berada di Sulawesi, Maluku dan Maluku Utara. Sesaat suara timbul tenggelam dan lenyap ketika sedang berbicara. Saat muncul kembali, sang petani dengan beberapa temannya sudah tampak berada di luar ruangan.

Latar langit biru dengan pepohonan rindang muncul di layar tutor. Dan ini lazim terjadi bagi peserta yang berasal dari Maluku dan Maluku Utara, misalnya dari Kabupaten Seram Bagian Barat. Jika sinyal hilang, mereka berpindah tempat secara cepat untuk mencari sinyal demi tetap bisa mengikuti kelas.

Maka saat pelatihan ini berakhir di setiap gelombang, kerap muncul kesan polos menggugah dari para peserta. “Saya terharu,” kata Manawi. “Di masa pandemi ini kami tetap diperhatikan.”

Mendengar ungkapan-ungkapan ini, saya yang menjadi salah satu tutor juga turut merasa senang dan terharu. Ke depan, sesudah pandemi berakhir, beberapa peserta berharap pelatihan seperti ini, bisa digelar lagi. Jika perlu dikembangkan terus sesuai kebutuhan petani.

Belajar jarak jauh ini layak mendapat acungan jempol karena e-learning perhutanan sosial ini mampu menjaga bara semangat petani di masa pandemi covid-19 ini. Seperti setetes air di padang pasir.

9 Mei 2020

Board Kawal Borneo Community Foundation dan anggota The Climate Reality Leaders of Indonesia.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain