Laporan Utama | April-Juni 2018

Agar Gambut Bersemi Kembali

Paludikultur menjadi alternatif baru memperbaiki dan mencegah meluasnya kerusakan lahan gambut. Cara tradisional yang diakui secara ilmiah.

Andi Fadly Yahya

Menempuh studi doktor Ilmu Kehutanan di Seoul National University

ISTILAH baru ini diambil dari bahasa Latin: palus (rawa) dan cuultur (budidaya). Secara singkat, paludikultur adalah pengelolaan rawa-rawa agar bermanfaat secara ekonomi dan lestari secara ekologi. “Teknik ini khusus bagi lahan gambut untuk budidaya,” kata Bambang Hero Saharjo, guru besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor pada April lalu.

Berbeda dengan sistem wanatani yang memadukan tanaman hutan dan tanaman semusim, sistem paludikultur membudidayakan jenis tanaman asli di lahan basah, atau yang dibasahi kembali apabila lahan telah mengering. “Kunci utama teknik paludikultur adalah pembasahannya,” kata Bambang.

Paludikultur selalu menyangkut tiga soal: rewetting (pembasahan), revegetation (penanaman), dan revitalisasi. Secara ringkas, paludikultur memulihkan gambut yang rusak dengan menanaminya kembali dengan tanaman lokal.

Jenis tanaman asli yang dipakai merupakan jenis tanaman lokal yang dapat beradaptasi dengan kondisi biofisik alami ekosistem gambut. Menurut Database of Potential Paludiculture Plants tercatat lebih dari 1.000 jenis tanaman yang berpotensi dikembangkan dengan sistem paludikultur. Pemilihan jenis tanaman selain dibatasi oleh tujuan pengawetan stok karbon gambut dan ketersediaan pasar, juga oleh ketersediaan air dan nutrisi serta kualitas air di lokasi tanam.

Menurut Bambang, sistem paludikultur tak bisa memaksakan tanaman yang bukan habitatnya di lahan gambut. Karena teknik ini dipakai untuk memperbarui lahan gambut yang rusak, tanaman pengganti yang ditanam oleh manusia adalah yang paling cocok dan menjadi endemik di tiap wilayah. “Wilayah gambut di Indonesia berbeda-beda,” kata Bambang. “Jadi harus memperhatikan kondisi lingkungannya juga.”

Tanaman Papua, misalnya, tak bisa ditanam di lahan gambut Kalimantan atau Sumatera dan sebaliknya. Sebetulnya, secara tradisional, masyarakat lokal Indonesia sudah mempraktikkan paludikultur selama berabad-abad. Gambut sudah terbentuk di ceruk-ceruk pegununan lembap Indonesia sejak lima abad lalu. Meskipun baru tahun 2000 pemerintah melibatkan para ahli untuk menelitinya.

Puncak popularitas gambut terjadi pada 2015, ketika semua hutan gambut dibakar dan menimbulkan kerugian tak sedikit. Kata “gambut” sendiri mulai populer di zaman Soeharto ketika ia hendak mengubah lahan itu menjadi sawah sejuta hektare. Program gagal itu kemudian membuahkan malapetaka hari ini. Gambut itu akan dimanfaatkan menjadi kebun oleh pengusaha yang punya konsesi mengelola hutan industri..

Paludikultur merupakan budidaya lahan gambut tanpa bakar. Ia memanfaatkan kompos dari gambut yang kaya mineral, pemulsaan, penggunaan bio-pestisida alami, penerapan pola tanam campuran dan pengelolaan air. Di Kalimantan, misalnya, orang di sana akrab dengan sistem handil (parit), dan di Sumatera serta Sulawesi berupa parit kongsi. Parit-parit ini dipakai untuk menjaga tinggi muka air agar gambut bisa dibasahi sesuai kebutuhannya.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Kementerian Lingkungan mencatat paludikultur telah ada di Sungai Tohor, Riau; Sungai Bram Itam dan Taman Nasional Berbak di Jambi; Desa Muara Merang dan Kedaton di Sumatera Selatan, eks Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar dan Taman Nasional Sebangau di Kalimatan Tengah dan hutan sagu Jayapura di Papua.

Sagu (Metroxylon sagu), nipah (Nypa fruticans), jelutung rawa (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), balangeran (Shorea balangeran), gemor (Alseodaphne spp. dan Nothaphoebe spp.), gelam (Melaleuca cajuputi), tengkawang (Shorea spp.), dan purun tikus (Eleocharis dulcis) adalah beberapa jenis yang diidentifikasi potensial untuk dikembangkan di rawa gambut. Jenis lainnya adalah jenis lokal yang dapat menghasilkan pangan, serat, bioenergi, getah, obat-obatan, kayu dan hasil hutan ikutan lainnya.

Sumber pendapatan masyarakat lokal juga terevitalisasi dengan sistem paludikultur. Usaha tanaman campuran (agro-silvo-fishery-pasture) maupun tanaman komersial untuk industri yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan cepat tumbuh dapat dikembangkan di lahan gambut. “Paludikultur tak hanya menanam, tujuan utamanya adalah budidaya yang menghasilkan,” kata Bambang Hero.

Sebenarnya, meski teknik paludikultur dipopulerkan oleh negara-negara empat musim yang memiliki lahan gambut, teknik serupa sudah dilakukan berabad-abad oleh nenek moyang orang Indonesia. Menurut Deputi IV Badan Restorasi Gambut Haris Gunawan, kearifan lokal masyarakat di sekitar gambut sudah jauh lebih modern dalam menerapkan teknik ini. “Hanya saja tak ada yang menulis dan mempromosikannya,” kata dia.

Contohnya adalah bertanam sagu di lahan-lahan gambut Papua itu. Masyarakat lokal menanam sagu untuk hidup mereka. Tanaman pokok, seperti beras di Jawa ini, sangat cocok dengan gambut dan semangat restorasi. Ia tak perlu pupuk dan bisa tumbuh di kawasan lembap seperti lahan gambut.

Jika gambutnya telah rusak dan airnya masih banyak, masyarakat juga membudidayakan ikan. Semua jenis ikan bisa ditanam di air gambut. Menurut penelitian Wetlands International, setidaknya ada 50 jenis ikan yang bisa hidup di air gambut. Mereka bisa tumbuh karena gambut memiliki nutrisi dari serasah yang bertumpuk selama ribuan tahun.

Banyak jenis tanaman lain yang menghasilkan secara ekonomi dan sejalan dengan restorasi. BRG, kata Haris, akan memakai kearifan lokal ini untuk merestorasi hampir 2 juta hektare lahan gambut yang sudah rusak. “Paludikultur itu paling cocok dengan semangat restorasi,” kata dia. “Memadukan ekologi dan ekonomi masyarakat.”

Tantangannya, kata Haris, adalah meningkatkan nilai tambah dari budidaya lokal di gambut tersebut. Maka masyarakat yang memanfaatkan gambut untuk hidup mereka perlu dibekali dengan teknologi. Haris mencontohkan Finlandia. Universitas di sana, sejak selesai Perang Dunia II, mulai meneliti gambut dan menerapkan paludikultur bagi masyarakatnya.

Hasilnya, meski negeri ini dingin dan beku hampir setengah tahun tapi menjadi negara kaya. Masyarakatnya bahagia dan mereka rela penghasilannya dipotong dengan pajak mencekik karena upeti itu dikembalikan untuk kepentingan umum yang dinikmati orang banyak. “Kuncinya adalah penelitian dan inovasi,” kata Haris.

Haris optimistis tak ada kata terlambat dalam pengembangan paludikultur di Indonesia. Selain sejalan dengan restorasi, teknik bercocok tanam di “lahan rapuh” ini menjanjikan pengelolaan gambut yang berkelanjutan.

 Diolah dari laporan Fitri Andriani  dan Firli Azhar

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Risiko Hibah Norwegia dalam Mencegah Pemanasan Global

    Pemerintah Norwegia mengucurkan hibah Rp 813 miliar. Indonesia makin terikat pada target program menurunkan emisi dalam mitigasi pemanasan global.

  • Kabar Baru

    Benarkah Menanam Pohon Tak Mencegah Pemanasan Global?

    Ada studi terbaru yang menyebutkan menanam pohon tak banyak berguna mencegah pemanasan global. Apa itu pengertian pemanasan global?

  • Surat dari Darmaga

    Masa Depan Pembangunan Papua

    Jika aktor-aktor pembangunan Papua tidak berubah dalam melihatnya sebagai ekoregion, wilayah ini akan jalan di tempat. Masa depan pembangunan Papua tak akan ke mana-mana, sementara kredibilitas negara akan semakin melorot.

  • Surat dari Darmaga

    New Normal: Saatnya Ramah Lingkungan

    Era new normal atau normal baru setelah pandemi virus corona, seharusnya mendorong kita lebih peduli lingkungan. Virus muncul karena alam tak seimbang.