Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|01 Mei 2020

Catatan Belajar Jarak Jauh Petani Hutan Sosial

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggelar pelatihan jarak jauh pendamping dan petani hutan sosial. Normal baru di masa pandemi virus corona.

PANDEMI virus corona covid-19 tak menghalangi kerja-kerja perhutanan sosial. Malah, bisa dibilang, justru mendorong dan melahirkan inisiatif serta inovasi baru. Salah satunya adalah teknik pelatihan dan pendampingan petani hutan.

Selama empat hari, 27-30 April 2020, Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial menggelar pelatihan jarak jauh (e-learning) bagi para pendamping dan petani hutan yang telah mendapat izin.

Saya salah satu pengajar di pelatihan gelombang I untuk angkatan 1 dan 2 yang diikuti 480 pendamping dan petani dari seluruh Indonesia.

Pada pagi 30 April 2020, saya menggawangi sesi “Pengelolaan Pengetahuan” di Pusat Pendidikan dan Latihan Jakarta. Sebelumnya, pada 28 April 2020, saya menjadi tutor bertemakan “Pendampingan Tahap Awal” di Balai Pendidikan dan Latihan LHK Makassar.

Selama empat hari itu saya terkesan dan senang melihat semangat belajar para pendamping dan petani yang luar biasa. Peserta, seperti halnya para tutor, melakukan pertemuan belajar jarak jauh memakai teknologi digital.

Banyak kejadian lucu terutama saat ada yang bingung menggunakan memakai aplikasi Zoom yang sedang populer di masa work from home atau bekerja dan belajar dari rumah akibat pandemi corona.

Ada yang bingung bagaimana mematikan suara, menghidupkan layar dan sebagainya. Teriakan gembira dan takjub muncul saat gladi resik oleh Balai Latihan Makassar pada 26 April 2020. Peserta kaget dan kagum bisa melakukan pertemuan jarak jauh dan saling menyapa rekan-rekannya untuk menuangkan rindu karena sudah beberapa saat tidak bertemu.

Ada yang menyebut kondisi ini adalah “the new normal”, kondisi baru yang menjadi normal akibat pandemi, dialami peserta selama empat hari ini. “The new” karena rata-rata baru terlibat belajar dengan menggunakan teknologi digital untuk belajar jarak jauh. “Normal” karena sesudah satu dua hari, peserta lancar menggunakannya, meski sesekali mengalami gangguan sinyal bagi mereka yang berada cukup jauh di suatu desa.

Sesekali terdengar teguran seorang peserta kepada temannya yang lupa menggunakan mode “mute” saat tutor memberikan materi dan mengakibatkan latar suara yang mengganggu bagi peserta lain.

Ringkasnya, selama  empat hari e-learning, proses belajar dengan materi padat dan serius sebanyak delapan sesi, bisa dijalani dengan baik dan semangat oleh kebanyakan peserta. Bahkan kesan santai dan menikmati juga muncul.

Ada misalnya seorang penyuluh perempuan dari Sulawesi Tengah yang ikut tutorial sambil memasak. Ada pula peserta yang mendengarkan materi sambil berkendaraan karena saat itu mesti beraktivitas lain. Tingkah laku dan celetukan peserta dalam logat daerah masing-masing membuat suasana menjadi makin meriah dan akrab.

Sore dan malamnya, peserta disibukkan dengan pekerjaan rumah dan modul untuk dibaca. Sebelumnya, dari pagi sampai siang, sehabis sesi, selalu ada semacam kuis singkat. Selanjutnya peserta juga membuat Rencana Tindak Lanjut yang bisa diterapkan di lokasinya masing-masing sesudah pelatihan ini selesai.

Meski kadang diselingi hambatan jaringan Internet, secara keseluruhan pelatihan gelombang I ini berhasil. Keseluruhan proses umumnya bisa berjalan lancar. Kerja sama dari penanggung jawab, tutor, admin dan staf lainnya juga berjalan dengan baik.

Salah satu materi pelatihan online pendamping dan petani hutan sosial.

Karenanya tidak diragukan bahwa untuk gelombang-gelombang berikutnya, e-learning ini juga akan terlaksana dengan baik sampai Juni nanti. Saya berharap begitu terus sampai pelatihan ini selesai dengan jumlah peserta 3.000 orang. Suatu jumlah yang cukup signifikan.

Saya sampaikan rasa salut untuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang dalam masa pandemi covid-19 mampu melakukan perubahan adaptif dan menghadirkan pengenalan “the new normal” terhadap petani hutan dan para pendampingnya. Ilmu pendampingan mereka diperkuat, pengayaan penggunaan digital juga terjadi. Tidak sabar rasanya saya menanti kejutan menyenangkan pada e-learning berikutnya.

Board Kawal Borneo Community Foundation dan anggota The Climate Reality Leaders of Indonesia.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain