Reportase | Oktober-Desember 2018

Elang Jawa Kembali ke Sarangnya

Elang Jawa kembali ke sarang mereka di Desa Cibulao. Setelah penduduk membangun kembali hutan yang rusak.

Libriana Arshanti

Anggota Dewan Redaksi, bekerja sebagai konsultan kehutanan dan lingkungan.

BERTAHUN-tahun hidup bersama Elang Jawa, baru sepuluh tahun terakhir orang Kampung Cibulao tahu burung endemik di Desa Tugu Utara, Puncak, Bogor ini harus dilindungi. Mereka hanya tahu burung ganas ini jadi hama bagi penduduk desa. “Jadi pemakan anak ayam,” kata Dili, penduduk setempat.

Desa yang berbatasan dengan hutan lindung Taman Nasional Gunung Gede-Pangarango ini adalah habitat asli Elang Jawa. Burung ini sudah langka karena jumlahnya menipis akibat hutan tempat sarang mereka dirambah manusia. Mereka terancam punah karena hanya bertelur satu setiap bereproduksi. Pasangan elang akan membesarkan anak itu dan segera menyapihnya begitu mereka bisa mencari makan sendiri. 

Dalam ekologi, Elang Jawa berada di puncak rantai makanan. Keberadaannya merupakan penanda kualitas hutan dan lingkungannya. Keberadaan satwa ini dilindungi dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup  dan Kehutanan RI no. 20/MenLHK/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Di Gede Pangrango, jumlahnya tinggal 16 ekor. Para peneliti memasangkan alat pelacak agar terpantau keberadaannya.

Gunung Gede-Pangrango adalah habitat sempurna untuk Elang Jawa. Mereka biasanya hidup di lereng gunung dengan kecuraman 45 derajat. Ada sumber mata yang melimpah dan pohon untuk bertenggar dengan banyak cabang dan dahan. Di Pangrango, Puspa, Pasang, dan Saninten adalah pohon terbaik untuk mereka hidup.

Jawa Barat memiliki hutan asli dengan kondisi yang masih baik dan dalam hamparan yang cukup luas, sehingga ideal sebagai salah satu habitat alami Elang jawa. Kegiatan pelestarian elang jawa memang banyak dilakukan di TN gunung gede Pangrango dan hutan-hutan di sekitar taman nasional.

Burung predator ini bersarang di pohon yang tinggi secara berpasangan. Elang Jawa di Gede-Pangrango sudah dipasangkan agar berkembang biak.

Setelah tahu elang Jawa akan punah, Dili dan masyarakat Kampung Cibulao secara sukarela menjadi pengamat mereka. Dili kini bisa fasih menjelaskan bagaimana perilaku elang Jawa. “Setelah menetas, anak elang akan dipindahkan oleh induknya sejauh satu kilometer dari sarang bertelur,” kata dia. 

Dili dan orang-orang Kampung Cibulao belajar secara otodidak mengamati elang Jawa. Mereka hanya pernah diarahkan oleh seorang peneliti dari Jepang. Gara-gara bisa mengidentifikasi perilaku Elang Jawa itulah Dili pernah diundang ke Jepang untuk berceramah soal burung ini. Menurut dia, orang Jepang sangat antusias mendengar penjelasannya. 

Elang Jawa di Gunung Pangrango, Jawa Barat (Foto: Eko Pratyo/Wikipedia)

Kini Elang Jawa tak lagi takut melintasi Kampung Cibulao. Mereka telah kembali menemukan sarang karena penduduk menjaga Puspa dan Pasang sebagai tempatnya bertelur dan membangun keluarga.

LIHAT: Kopi dan Konservasi adalah Sejoli

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain