Surat dari Darmaga | 14 Febuari 2020

Konsep Islam Mengatur Hubungan Manusia dan Tumbuhan

Meski manusia dinyatakan sebagai mahluk paling mulia, tak berarti membuatnya superior dibanding alam, hewan, dan tumbuhan.

Qaris Tajudin

Sarjana Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo

HARI-hari ini sedang ramai orang membicarakan penebangan 190 pohon di kawasan Monumen Nasional (Monas) oleh Pemerintah DKI Jakarta. Saya tidak akan membahas pro-kontra masalah ini. Soal pentingnya pohon untuk perkotaan juga sudah dibahas banyak artikel, seperti tulisan ini, tulisan ini, atau tulisan ini.

Penebangan pohon untuk kepentingan pembangunan kota ini sudah sering terjadi. Pada masa-masa gubernur Jakarta sebelumnya, entah berapa banyak pohon ditebang untuk alasan apa pun, mulai dari pembangunan jalan mobil, jalur MRT dan LRT, pembangunan gedung, yang semuanya memproduksi emisi, sementara penyerapnya ditiadakan.

Kita sering menjadikan alasan kepentingan manusia untuk mengorbankan kehidupan mahluk lain. Kita menganggap mahluk lain (hewan, tumbuhan) lebih rendah dibanding dengan kepentingan manusia, karenanya layak dikorbankan. Entah berapa juta hektare hutan yang digunduli atas nama kepentingan manusia.

Ada superioritas dalam diri kita karena manusia dinyatakan sebagai mahluk paling mulia. Memang benar ada sejumlah ayat dan hadits yang mengatakan bahwa manusia adalah mahluk paling mulia, tapi itu bukan alasan bagi kita mengecilkan mahluk-mahluk lainnya.

Dalam konsep agama Islam, Allah SWT menciptakan semua mahluk dengan tugasnya masing-masing untuk menjaga keseimbangan di bumi ini. Pada surat Al-Baqarah ayat 26 Allah berfirman:

Sesungguhnya Allah tiada malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Orang-orang yang beriman yakin bahwa itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang ingkar mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?"

Karena itu, dalam ajaran Islam, hubungan antara manusia dengan mahluk lain bukanlah hubungan superioritas, yang mendudukkan mahluk yang satu lebih tinggi dibanding mahluk yang lain. Nabi SAW pernah menegur keras para sahabatnya yang mengambil empat anak burung dari sarangnya, hingga ibunya berteriak-teriak mencari mereka. Beliau juga menegur sabatnya yang membakar sarang semut. Bahkan saat perang, Nabi SAW melarang umat Islam menebang pohon.

Menjadi mahluk yang paling mulia bukan berarti membuat kita bisa semena-mena kepada mahluk lain. Kita tentu saja diperbolehkan memanfaatkan tumbuhan, hewan, dan yang lainnya untuk kepentingan hidup kita, tapi itu dilakukan sekadarnya. Secukupnya. Tentu, secukupnya di sini bisa sangat fleksibel. Batasannya bukan keinginan melainkan kebutuhan. Sama seperti seekor singa predator yang memangsa rusa, tapi perburuan itu tak sampai mengguncang habitat mereka.

Keseimbangan seperti itu harus dijaga, selain karena kita dilarang merusak bumi seperti dalam surat Al-Baqarah, juga karena kita semua adalah sama-sama mahluk Tuhan. Masing-masing mahluk bekerja dan beribadah dengan caranya sendiri-sendiri. Mereka bukan benda mati yang kosong. Mereka juga bertasbih. Dalam Surah Al Isra ayat 44, Allah SWT berfirman yang artinya:

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun mahluk yang tidak bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”

Cara binatang apalagi tumbuhan bertasbih atau berbicara memang menjadi misteri. Dulu mungkin hanya para nabi dengan mukjizat tertentu, seperti Nabi Sulaiman, yang bisa memahami hal itu. Namun belakangan sejumlah ahli membuktikan bahwa tumbuhan berbicara dengan bahasa mereka sendiri.

Dengan menggunakan mikoriza untuk memantau pergerakan karbon dalam akar tanah, Suzanne Simard mengetahui satu pohon dengan pohon lain saling bercakap. Dengan sistem yang kompleks dan rumit, antar pohon saling berbagi karbon untuk kebutuhan pertumbuhan mereka. Bahkan sebatang pohon besar akan menyuplai karbon untuk biji-biji yang baru tumbuh seperti seorang ibu menyusui anaknya. Ketika tumbang atau mati, sebuah pohon akan menitipkan sisa karbon yang dimilikinya kepada pohon di sebelahnya. “Itulah cara bercakap pohon yang sangat bijak,” kata Simard.

Monica Gagliano juga meyakini, setelah meneliti berbulan-bulan di Amazon, pohon-pohon bisa berbicara satu sama lain. Ia menyimpulkan, dalam Thus Spoke the Plant (2019), bahwa kita dan pohon sesungguhnya bisa saling mengerti jika manusia mempelajari bahasa mereka. Charles Darwin, ahli biologi yang terkenal itu, bahkan yakin pohon punya jenis kelamin, berhubungan secara seksual seperti manusia, kendati ia tak bisa membuktikannya secara ilmiah.

Kita tentu bisa menemukan banyak ahli lain yang mendapatkan kesimpulan serupa. Intinya adalah, mari hormati mahluk lain. Biasakan untuk hidup berdampingan dengan mereka, karena toh mereka lebih dulu datang ke bumi ini dibanding kita. Allah menjadikan bumi sebagai mustaqarr, tempat yang layak ditinggali. Kitalah yang membuat bumi menjadi neraka yang menyiksa.

Selamat hari kasih sayang. Mari menyayangi bumi, menyayangi planet dan segala isinya.

Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.