Kabar Baru | 13 Febuari 2020

Manfaat Pohon untuk Hidup Penduduk Kota

Banyak penelitian yang membuktikan manfaat pohon dan taman kota terhadap kualitas hidup penghuninya. Dari mengurangi risiko stroke, obesitas, hingga mencegah tindak kriminal.

Redaksi

Redaksi

PEMERINTAH DKI Jakarta menebang 190 pohon di Monumen Nasional untuk membuat ruang membangun plasa. Sebelumnya ratusan pohon juga jadi korban ketika pemerintah hendak menata dan memperbaiki trotoar.

Tanpa aturan yang tegas dan jelas, tiap rezim pemerintahan bisa leluasa menebang pohon dengan dalih pembangunan atau perbaikan kota. Gubernur Joko Widodo juga menebang banyak pohon ketika ia memulai pembangunan infrastrtuktur moda raya terpadu dari Lebak Bulus hingga Dukuh Atas sepanjang 16 kilometer. Ada sekitar 1.560 pohon yang ditebang untuk kebutuhan itu. 

Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, penerus Jokowi, juga menebang 2.551 pohon ketika membangun proyek kereta ringan (light rail transit). Proyek ini membentang di dari Velodrome di Rawamangun, Jakarta Timur, hingga Kelapa Gadung di Jakarta Utara; dan Cawang di Jakarta Timur hingga Dukuh Atas di Jakarta Pusat. Djarot Sjaiful Hidayat, penerus Basuki, memegang rekor paling tinggi. Ia menebang 9.350 pohon di Jalan Sudirman dan M.H Thamrin ketika memperbaiki infrastruktur jalan utama Jakarta saat hendak Asian Games 2018.

Dalam terminologi modern, menebang pohon sudah bisa dikategorikan merusak lingkungan bahkan tergolong ekosida. Pohon adalah penyuplai utama kebutuhan oksigen untuk manusia. Ia juga penyerap karbon yang kita buang. Meski karbon tetap tersimpan dalam kayu yang sudah diolah, daya serapnya telah berkurang 40%. Membunuh pohon juga tak tergantikan, kendati diganti dengan menanamnya di lokasi lain, karena penyerapan emisi tergantung pada usia, jenis pohon, dan lebar tajukya.

Di Amerika Serikat, terutama di California, ada masa 14 hari bagi pemerintah mendapatkan persetujuan antar departemen jika sebuah dinas hendak menebang pohon. Publik juga diberi waktu empat hari untuk mengajukan banding kepada pengadilan atas rencana penebangan pohon oleh pemerintah setempat. Jika hakim mengabulkan keberatan masyarakat karena menimbang fungsi jauh lebih berharga ketimbang pembangunan kota, kendati ada penggantiannya, rencana tersebut bisa dibatalkan.

Di Indonesia, pengumuman menebang pohon pun jarang dipublikasikan. Pemerintah hanya membuka lelang pembangunan kota tanpa memberitahu bahwa dampaknya adalah penghancuran ekosistem alam.

Pohon dan taman kota telah lama diteliti punya hubungan dengan kualitas hidup penduduk kota. Banyak penelitian telah membuktikan fungsi pohon dan taman kota terhadap kesehatan masyarakat, mengurangi obesitas, meningkatkan gerak fisik, mendorong penduduk hidup sehat, selain menyerap emisi yang mempengaruhi kesehatan fisik dan mental.

FAO, mengutip penelitian-penelitian sebelumnya, menyebutkan bahwa pohon di perkotaan berperan dalam mitigasi perubahan iklim karena satu pohon dewasa bisa menyerap emisi 150 kilogram setara CO2 setahun. Pohon-pohon juga bisa menurunkan suhu antara 2-8 derajat Celsius. Akar sebatang pohon cemara bahkan bisa menyerap 15.000 liter air setahun.

Angka-angka tersebut membuktikan peran pohon dan taman kota bagi hidup penduduknya. Sebab, kini 50 persen penduduk bumi tinggal di daerah perkotaan. Pada 2050, angka itu diperkirakan naik menjadi 66 persen ketika jumlah penduduk bumi diperkirakan mencapai 9,6 miliar. Naiknya ekonomi dan arus urbanisasi akibat ketimpangan memicu desa berubah menjadi kota dan penduduk desa bermigrasi ke perkotaan.

Menurut studi yang diterbitkan jurnal PNAS, kota yang hijau dengan banyak taman yang asri bisa menurunkan tingkat kejahatan sebanyak 10 persen, menurunkan kekerasan dengan senjata api hingga 17 persen, dan sebanyak 75 persen masyarakatnya merasa aman bepergian ke luar rumah.

Di Inggris, peneliti London School of Economic juga menemukan cerita serupa: kejahatan kecil terjadi ketika udara kotor di kota besar maupun kecil. Kota yang tak punya banyak taman publik cenderung meningkatkan stres dan mendorong penduduknya berbuat jahat dan menumbuhkan persepsi tidak aman bagi penghuninya.

Studi the Nature Conservancy, lewat survei di 245 kota di seluruh dunia, menyebutkan bahwa manfaat penanaman pohon di kota sama nilainya dengan tiap dolar investasi. Studi di jurnal Ecological Modeling bahkan menyimpulkan bahwa pohon-pohon di perkotaan telah menyelamatkan anggaran pemerintah kota sebesar US$ 500 juta atau Rp 7 triliun per tahun yang bisa dihemat untuk biaya pengobatan, pemakaian energi, dan proteksi lingkungan.

@ForestDigest

Studi lain bahkan merangkum banyak manfaat hutan kota bagi lingkungan dan penduduk. Dari mencegah diabetes tipe 2, menurunkan tingkat kematian, meningkatkan fungsi kognitif, dan mencegah penyakit yang berkaitan dengan kardiovaskular.

Di Indonesia baru Kota Balikpapan yang mengklaim memiliki 33,5% ruang terbuka hijau dibanding luas wilayahnya, melampaui rasio ruang terbuka hijau 30% sesuai Undang-Undang Nomor 26/2007 tentang penataan ruang. Grafik di bawah ini menunjukkan perbandingan ruang hijau—baik yang disediakan pemerintah maupun kewajiban perusahaan swasta—dengan persepsi keamanan penduduknya ketika bepergian. Dan gejala ini mendunia. Hanya Oslo dan Singapura yang memiliki rasio ruang terbuka hijau dengan luas wilayahnya paling besar.

@ForestDigest

Singapura menyadari fungsi dan banyak manfaat pohon bagi mahluk hidup. Sebagai negara kota, sejak 1985, Singapura menanam banyak angsa dan trembesi di jalan-jalan. Singapura juga bahkan punya kebun raya seluas Kebun Raya Bogor yang menjadi oase bagi penduduknya. Jika pagi di hari libur, banyak penduduk yang berolah raga, berjalan-jalan bersama keluarga, atau sekadar piknik.

Rasio luas ruang terbuka hijau sejumlah kota di dunia dibandingkan dengan luas wilayah (2018).

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.