Kabar Baru | 07 Januari 2020

Vetiver: Akar Wangi Penyerap Limbah

Tanaman vetiver begitu perkasa menyerap limbah beracun. Cocok untuk mitigasi bencana karena mencegah longsor.

Redaksi

Redaksi

SUDAH 10 tahun Irma Hutabarat mengenal dan menggeluti vetiver. Tapi baru kali ini tanaman asal Tamil, India, itu populer karena disebut Presiden Joko Widodo sebagai solusi dalam mitigasi bencana atas usul Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo. Mereka bercakap ketika meninjau banjir dan longsor di Desa Sukajaya, Kabupaten Bogor, pada 6 Januari 2020.

Doni sudah membuktikan keampuhan vetiver ketika menjabat Panglima Komando Daerah Militer Siliwangi Jawa Barat. Ia memimpin pembersihan Citarum yang dijuluki sebagai sungai terkotor di kolong langit karena menjadi tempat segala sampah dan limbah. Ia menanami situ Cisanti yang menjadi hulu Citarum dengan vetiver (lihat foto).

Seyogianya, vetiver tanaman lama dan sudah dibudidayakan di Indonesia. Kita menyebutnya “akar wangi” karena orang Garut dan sekitarnya memanfaatkan akarnya untuk minyak gosok, parfum, dan pengusir nyamuk.

Syahdan, Irma kesengsem vetiver pada 2010 ketika anaknya berbisnis ikan lele. Penyiar televisi ini menengok kolam di Jakarta Selatan yang tak jadi dipakai karena anaknya punya kesibukan lain. Di sana, Irma melihat air kolam itu begitu bersih. Anak sulungnya itu rupanya menanami pinggiran kolam dengan vetiver, atas saran seorang kawannya yang sukses mengubah kali kotor di Bali dengan tanaman ini.

Sejak itu, Irma jatuh cinta pada tanaman ini. Ia pun, yang beralih jadi aktivis lingkungan begitu tak lagi aktif di dunia penyiaran, mempromosikan tanaman itu ke Citarum pada 2015. Ia membeli tanah di Jalan Inspeksi Citarum dan mendirikan rumah yang sekelilingnya ditanami vetiver. Ia juga menanam pinggiran Citarum yang airnya hitam dengan tanaman itu (lihat artikelnya).

Usulan Irma baru diterima ketika Panglima Militer Siliwangi dijabat Letnan Jenderal Doni Munardo. Ia yang membuat Gerakan Citarum Harum untuk membersihkan sungai yang menghalir hingga Laut Jawa sepanjang 269 kilometer itu. Doni setuju menanam vetiver di situ Cisanti, hulu Citarum di Desa Kertajaya di kaki gunung Wayang—tiga jam dari Bandung. Sementara Irma mengajak banyak komunitas menanam vetiver di beberapa sektor sepanjang Citarum di Bandung. "Sekarang sudah lebih 10 kilometer," katanya.

Kesaktian vetiver menawar racun Citarum:

Kini, setelah segala sampahnya dikeruk dari dasar danau, sekeliling situ sepanjang lima kilometer hijau dengan vetiver. Berkat tanaman ini pula air Cisanti bening dan tumbuh berbagai macam ikan. Karena itulah Doni—kini Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasinoal—mengusulkan kepada Jokowi agar memakai vetiver untuk menanggulangi bencana.

Vetiver (Chrysopogon zizanioides) bukan tanaman kemarin sore yang fungsinya menyerap racun. Dengan kekuatan akarnya yang seperenam kekuatan baja, ia bisa menguatkan tanah yang rawan longsor. Di Australia, vetiver juga ampuh menahan api. Ketika sekelilingnya hangus, vetiver tanaman yang kuat dan segera tumbuh begitu api padam.

Kekuatan vetiver ada pada akar. Ia bisa menancap pada tanah sedalam tiga meter. Sementara daunnya yang tipis dan berjela-jela bisa naik hingga 1,5 meter. Maka dengan tumbuh bisa mencapai 4,5 meter, vetiver dipakai masyarakat Asia sebagai tanaman pagar. “Tapi fungsi utamanya adalah menyerap racun,” kata Irma.

Karena itu Irma lebih senang tetap menyebutnya vetiver ketimbang akar wangi. Menyebut rumput ini akar wangi akan menimbulkan asosiasi pemanfaatan tanaman ini untuk parfum, sabun, pelindung kulit, makanan ternak, bahkan bahan dasar yogurt dan sirup, sehingga masyarakat memanennya. Padahal kekuatan vetiver ada di akarnya.

Akar vetiver: sekeras baja (Foto: R. Eko Tjahjono)

Dengan mengeluarkan resin dan minyak itulah, akar vetiver menghasilkan molum yang bisa menawarkan segala macam racun. Ia juga bisa tumbuh di tanah yang kaya atau miskin hara. Karena itu Raja Thailand setuju dengan proposal Bank Dunia pada 1990 dengan mewajibkan petani menanam vetiver di sawah mereka untuk mengusir gulma dan hama tanaman. Sejak itu, pertanian Thailand mengalami revolusi dan sempat menjadi kiblat pertanian di Asia. Berkat vetiver. Dengan itu pula vetiver terbukti bukan tanaman invasif kepada tanaman lain.

@ForestDigest

Tak hanya menyerap racun, mencegah erosi, atau dimanfaatkan untuk pengobatan, vetiver secara alamiah juga menjadi tanaman pelindung. Ular, nyamuk, dan binatang melata lain malas berhubungan dengan vetiver karena bau minyak akarnya (lihat artikelnya). Irma Hutabarat sudah membuktikannya. Sejak membangun rumah mungil di tepi Citarum di Bandung empat tahun lalu, tak sekalipun ia bertemu ular.

@ForestDigest

Irma tak memakai keramik untuk lantainya. Ia menghamparkan begitu saja daun vetiver sebagai alas rumah. Juga atap yang ia susun dari daun vetiver. Kendati hanya beberapa meter dari muka Citarum yang menghitam jika sore karena penuh limbah pasar dan pabrik, di rumahnya tak ada nyamuk. Air di kolam pun bersih. Padahal sumbernya dari aliran Citarum.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.