Kabar Baru | 05 September 2019

5 Alasan Mengapa Kita Harus Melindungi Mangrove

Hutan mangrove sangat penting bagi penopang hidup manusia. Selain sumber ekonomi, juga penyimpan karbon yang besar.

Redaksi

Redaksi

HUTAN mangrove Indonesia terentang di antara 95.000 kilometer garis pantai yang mencapai luas 3 juta hektare atau 23% dari ekosistem bakau di seluruh dunia. Dengan tinggi pohon bisa mencapai 50 meter, juga akar menjuntai keluar dari tanah, mangrove telah menjadi penahan abrasi ketika laut pasang sekaligus memerangkap lumpur ketika laut surut.

Karena fungsi itu mangrove menjadi habitat yang kaya oleh material organik. Mangrove basah karena itu biasanya menjadi tempat hidup udang dan kepiting, juga belut dan siput laut. Dengan daya tarik pangan dan sumber ekonomi itu sebagai habitat hewan darat dan laut itu, mangrove Indonesia menghadapi ancaman nyata dari aktivitas manusia, yakni konversi kawasannya menjadi pertambakan, terutama di Sulawesi, Sumatera, dan Jawa Timur.

Dalam tiga dekade terakhir, 40% hutan mangrove Indonesia hilang (FAO, 2007), yang artinya tingkat kerusakan mangrove Indonesia paling tinggi dibanding mangrove di negara lain. Jika dibandingkan total deforestasi kawasan hutan Indonesia sebanyak 840.000 hektare per tahun, kerusakan mangrove sebanyak 6% karena hanya ada 2% mangrove berada di kawasan hutan negara.

Ini lima alasan mengapa kita harus melindungi mangrove:

Penyimpan karbon terbesar

Dibanding wilayah tropis lain, atau dibandingkan jenis kawasan hutan tropis Indonesia, hutan mangrove merupakan kawasan dengan kandungan karbon terpadat. Hutan mangrove menyimpan lebih dari tiga kali rata-rata karbon per hektare hutan tropis daratan atau lima kali lebih banyak per hektare dibanding hutan tropis dataran tinggi.

Hutan mangrove Indonesia diperkirakan menyimpan 3,14 miliar ton karbon atau sepertiga stok karbon pesisir secara global. Seluruh ekosistem mangrove menyimpan karbon: 78% tersimpan di tanah, 20% di pohon hidup, dan 3% di pohon mati atau tumbang. (Murdiyarso et al., 2015).

Dengan daya simpan karbon yang besar itu dan mencegah laju deforestasinya Indonesia bisa menabung ¼ reduksi emisi dari 26% yang dijanjikan dalam Konferensi Perubahan Iklim Paris pada 2020. Kehilangan hutan mangrove menimbulkan 42% emisi gas rumah kaca akibat ekosistem pesisir yang rusak.

Penahan abrasi

Dengan akarnya yang menyembul ke dalam dan permukaan tanah, dan kayunya yang kuat, dengan tinggi bisa mencapai 50 meter, mangrove bisa menjadi pelindung bagi masyarakat pesisir—jumlah terbanyak penduduk Indonesia—dari ancaman abrasi atau angin laut. Mangrove menjadi tempat berlindung paling aman karena menahan gempuran laut yang pasang. Menurut PBB, pada 2017 setidaknya ada 2,8 miliar orang yang tinggal di 100 kilometer pesisir.

Sumber pangan dan ekonomi

Nyaris semua hal yang ada di hutan mangrove bermanfaat bagi manusia. Selain menjadi habitat udang, kepiting, belut, dan siput laut, kayu mangrove juga menjadi bahan bubur kertas, bahan perahu nelayan, kayu bakar, atau arang, bahkan sebagai bahan baku obat-obatan.

Habitat keragaman hayati

Di luar habitat air, mangrove juga menjadi tempat bersarang habitat hewan darat. Burung-burung menjadikan pucuk-pucuk mangrove sebagai tempat bersarang dan bermain. Selain itu hutannya menjadi rumah bagi hewan-hewan pohon seperti monyet dan bekantan, berang-berang, dan pesut, juga hewan-hewan langka Indonesia lainnya.

Ekowisata

Hutan mangrove telah dimanfaatkan sebagai jenis wisata baru. Di Kalimantan Barat, tepatnya di Kubu Raya, beberapa perusahaan mengembangkan ekowisata mangrove karena hutan mangrove di sini menyimpan 40 jenis mangrove dari 60 spesies yang ada di Indonesia. Di Kubu Raya bahkan tumbuh jenis Kandelia candel, mangrove yang berbunga putih saat mekar. Tingginya bisa sampai 10 meter. Mangrove dari famili Rhizophoraceae ini merupakan spesies asli pantai-pantai Asia Selatan, menyebar ke India lalu ke Kalimantan.

Tonton videonya:

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Risiko Hibah Norwegia dalam Mencegah Pemanasan Global

    Pemerintah Norwegia mengucurkan hibah Rp 813 miliar. Indonesia makin terikat pada target program menurunkan emisi dalam mitigasi pemanasan global.

  • Kabar Baru

    Benarkah Menanam Pohon Tak Mencegah Pemanasan Global?

    Ada studi terbaru yang menyebutkan menanam pohon tak banyak berguna mencegah pemanasan global. Apa itu pengertian pemanasan global?

  • Surat dari Darmaga

    Masa Depan Pembangunan Papua

    Jika aktor-aktor pembangunan Papua tidak berubah dalam melihatnya sebagai ekoregion, wilayah ini akan jalan di tempat. Masa depan pembangunan Papua tak akan ke mana-mana, sementara kredibilitas negara akan semakin melorot.

  • Surat dari Darmaga

    New Normal: Saatnya Ramah Lingkungan

    Era new normal atau normal baru setelah pandemi virus corona, seharusnya mendorong kita lebih peduli lingkungan. Virus muncul karena alam tak seimbang.