Reportase | Juli-September 2019

Bekantan di Pusat Tarakan

Pemerintah Kota Tarakan mengembangkan hutan mangrove sebagai habitat bekantan di pusat kota, yang bersebelahan dengan mal. Pernah ditegur pemerintah pusat karena awalnya membuat stres monyet itu.

Rifky Edo Herlangga

Pegiat konservasi bekantan Tarakan. Pernah menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan IPB.

JIKA ingin melihat bekantan dari jendela mal, datanglah ke Tarakan. Di Ibu Kota Kalimantan Utara ini, kita bisa melihat bekantan seusai berbelanja. Monyet berhidung panjang dengan nama Latin Nasalis larvatus itu adalah penghuni hutan mangrove di sebelah pusat belanja di pusat Tarakan. Benar- benar di pusat kota! Tak hanya bersebelahan dengan mal, hutan mangrove itu berada di antara bangunan sekolah, pelabuhan, pabrik pengolahan ikan, dan laut. 

Pemerintah kota Tarakan membangun hutan mangrove itu menjadi habitat bekantan yang kini menjadi objek wisata di tengah kota. Sebagai sebuah pulau seluas 657 kilometer persegi, Tarakan dikelilingi laut dan menjadi pintu gerbang Indonesia ke Malaysia. Dengan pelabuhan dan bandara, wisatawan singgah di sini sebelum melanjutkan ke Kepulauan Derawan yang lebih dulu terkenal.

Syahdan, pada 2001, Tarakan mengalami pembangunan besar, salah satunya pusat perbelanjaan yang ada di samping hutan mangrove milik Perum Perikanan. Melihat hal tersebut Jusuf Serang Kasim, seorang dokter yang menjadi Wali Kota Tarakan pertama sejak 1999, meminta bantuan pusat perbelanjaan tersebut untuk membangun jembatan kecil guna akses masuk ke dalam hutan mangrove yang bersebelahan dengannya. Jusuf sangat penasaran dengan apa yang ada di dalam hutan tersebut. Jusuf berniat mengembangkannya menjadi “paru-paru kota”.

Jembatan yang dibangun itu berbahan kayu bekas dan panjangnya 50 meter. Tampaknya memang jembatan itu tak akan bertahan lama mengingat hutan mangrove bersuhu lembap yang bisa dengan mudah merusak jembatan kayu tersebut. 

Saat pertama kali masuk ke hutan itu, Jusuf sangat terkesan melihat keindahan cahaya matahari yang masuk menembus celah-celah pepohonan, nyanyian burung saling sahut-menyahut menambah  asri hutan ini. Saat itu ia heran bagaimana bisa ada area di tengah kota memiliki suasana seindah itu. Ia pulang dengan menyimpan kekagumannya. Sebulan setelahnya ia berniat kembali masuk ke hutan mangrove tersebut, namun jembatan kayu itu telah roboh, tak mampu menahan suhu lembap hutan mangrove.

Meski tak bisa masuk hutan mangrove kedua kali, Jusuf mengambil langkah konkret dengan menerbitkan Surat Keputusan Walikota Tarakan Nomor 591/HK-V/257/2001 tentang pemanfaatan hutan mangrove Kota Tarakan. Aturan tersebut menetapkan perlindungan hutan mangrove yang memiliki luas 9 hektare ini. 

Beberapa waktu setelah itu beredar kabar bahwa terdapat dua ekor bekantan dan beberapa monyet ekor panjang di hutan mangrove tersebut. Kabar itu cukup mengejutkan karena area ini jauh dari kawasan hutan lindung yang letaknya di utara Tarakan.

Bekantan adalah monyet endemis Kalimantan, artinya ia hanya bisa hidup di pulau ini. Sayangnya kondisi bekantan hingga kini semakin memprihatinkan, populasinya menurun drastis akibat perburuan liar dan habitatnya semakin menyempit.

Jalan masuk ke dalam hutan mangrove Tarakan, Kalimantan Utara (Foto: Reherlangga)

Menurut penelitian, jumlahnya saat ini tinggal 2.500 individu di seluruh Kalimantan. Pada 1995 habitatnya hanya tersisa 39 persen, dan yang berada di kawasan konservasi hanya 15 persen. Bekantan bisa dipastikan segera punah jika tidak segera diselamatkan. Beruntung Wali Kota Jusuf paham mengenai hal ini.

Jusuf berinisiatif melakukan upaya perlindungan sebisa mungkin terhadap bekantan tersebut. Pada 2002, meskipun tanpa pendampingan khusus, enam ekor bekantan didatangkan dari Kabupaten Berau untuk meningkatkan populasinya di hutan mangrove Tarakan. Sebelum dilepas-liarkan, bekantan-bekantan ini terlebih dahulu dikarantina di rumah kediaman Camat Tarakan Barat yang pada saat itu menjadi koordinator perlindungan hutan mangrove tersebut. Sejak saat itulah hutan mangrove ini mulai dikenal dengan nama Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB).

Bekantan sebenarnya merupakan satwa yang sangat sensitif dan mudah stres. Karena mendatangkan bekantan tanpa pendampingan, Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Kalimantan Timur menegur pemerintah Kota Tarakan. Namun pemerintah kota tidak menyerah. Di bawah kendali Jusuf Kasim, pemerintah berupaya terus melindungi bekantan, salah satunya dengan membangun pagar pembatas berbahan seng untuk melindungi KKMB.

Pemerintah Tarakan kemudian memberi penjelasan kepada BKSDA bahwa bekantan yang di reintroduksi ke KKMB adalah bekantan yang diselamatkan dari daerah pedalaman. Di daerah pedalaman Kabupaten Berau satwa dilindungi ini sering kali diburu masyarakat untuk dijadikan umpan menangkap buaya.

Melihat keseriusan Pemerintah Tarakan, BKSDA Kaltim akhirnya luluh, mereka menyetujui dan bahkan mendukung upaya konservasi bekantan di KKMB. Setahun kemudian mulai terlihat tanda-tanda keberhasilan penangkaran bekantan secara insitu. Sama sekali tidak ada kematian bekantan, bahkan satu induk melahirkan anak yang pertama. Kabar gembira tersebut tentu saja menjadi pemacu semangat pemerintah Tarakan untuk terus melestarikan bekantan. Sejak saat itu KKMB mulai dikenal sebagai satu-satunya kawasan yang berhasil menangkarkan bekantan secara insitu di pusat sebuah kota.

Tahun 2003 geliat kegiatan wisata mulai terlihat di KKMB bersamaan dengan dibangunnya sarana prasarana seperti jembatan kayu ulin (boardwalk), menara pengamat, gazebo, rumah karantina bekantan, hingga taman bacaan yang letaknya berada di tengah hutan mangrove. Uniknya, pembangunan boardwalk di KKMB sangat memperhatikan kelestarian ekosistemnya. Jembatan-jembatan ini dibuat tanpa menebang satu pun pohon mangrove, sehingga bentuknya meliuk-liuk di antara pepohonan. Jembatan yang memutari KKMB ini memiliki lebar 2 meter dengan panjang total 2.400 meter.

Bekantan di hutan mangrove Tarakan, Kalimantan Utara (Foto: Reherlangga)

Tiga tahun kemudian, karena kesuksesan KKMB dalam perlindungan bekantan serta wisata alam, pemerintah meluaskan arealnya menjadi 22 hektare. Penambahan area seluas 13 hektare ini dilakukan dengan mengalihfungsikan tambak-tambak yang berada di sekitar kawasan untuk ditanami mangrove. Upaya perluasan kawasan ini awalnya hampir tidak mungkin terjadi karena area di sekitar KKMB tersebut sudah dialokasikan untuk menjadi lahan pembangunan. Berkat Wali Kota Jusuf, alih fungsi menjadi hutan itu terwujud.

Selain jembatan ambruk, hutan mangrove itu pernah diterjang angin ribut yang membuat bekantan kabur dari sana akibat pohon-pohonnya tumbang dan patah. Banyak bekantan yang ditemukan berada di luar kawasan mangrove. Dari semula 45 ekor pada 2010, setelah angin ribut jumlah bekantan tinggal 25 individu, menurut survei 2012. Kini jumlah bekantan diperkirakan sebanyak 40 ekor.

Ada 14 petugas yang berjaga di sekitar hutan mangrove. Mereka menyebarkan ikan kepok untuk jadi makanan hewan ini. Mereka juga bertugas menjadi pemandu wisata bagi para turis yang masuk ke hutan ini, menyeberangi jembatan tajuk, atau sekadar memotret bekantan yang bergelantungan di dahan pohon yang rimbun.

Hutan mangrove yang semula hanya akan dijadikan paru-paru kota kini telah berkembang untuk berbagai kepentingan, terutama konservasi, wisata, pendidikan, serta penelitian. Sampai saat ini kegiatan wisata di KKMB masih terus berjalan dan terus menyumbang pendapatan daerah bagi Kota Tarakan. KKMB pula yang mengantarkan Wali Kota Jusuf menerima penghargaan Kalpataru pada tahun 2006 kategori pembina lingkungan hidup dan Wali Kota Terbaik versi majalah Tempo 2007.

Tarakan menjadi bukti konservasi bisa serasi dengan tata kota yang asri.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.