Buku | April-Juni 2019

Milenial dan Problem Lingkungan

Bagaimana milenial melihat masalah hutan dan lingkungan? Buku ini mengulasnya dari cara pandang generasi ini.

Libriana Arshanti

Anggota Dewan Redaksi, bekerja sebagai konsultan kehutanan dan lingkungan.

INTERNET telah mengubah hidup kita hari ini. Informasi tersalurkan dengan cepat, problem-problem pelik terselesaikan secara kilat. Di luar soal ekses negatif Internet dalam hal menjamurnya hoaks dan berita palsu, Internet telah memudahkan hidup tiap-tiap orang. Tak terkecuali dalam soal lingkungan.

Perubahan pola pikir dan reaksi atas sebuah permasalahan adalah hal yang disoroti dalam buku Kehutanan Millenial ini. Definisi generasi milenial dalam buku ini adalah generasi Y, mereka yang lahir antara tahun 1981 sampai dengan 1994. Kehidupan generasi ini sangat akrab dengan hal-ihwal yang serba-i: komputer, video gim, telepon pintar.

Bagi generasi ini internet adalah kebutuhan dan mulai meninggalkan sumber informasi cetak. Buku ini adalah salah satu ciri produk milenial karena didapatkan dalam versi buku elektronik yang tidak menggunakan unsur kertas dengan penyebaran melalui Internet, terutama media sosial.

Sewaktu membaca judul buku ini, saya menduga di dalamnya akan mengulas bagaimana dunia kehutanan mampu menjawab permasalahan secara milenial, memakai sudut pandang generasi Internet yang hidup di era Industri 4.0. Setelah masuk ke dalamnya, ternyata terbalik, yakni bagaimana generasi milenial mengenal hutan, yang diduga tak mereka akrabi, dan bagaimana reaksi mereka terhadap masalah di dalamnya.

Menurut penulisnya, permasalahan dasar dunia kehutanan tetap seputar kelembagaan, konflik tenurial, dan penguasaan lahan. Dengan Internet, generasi milenial bisa coba menjelaskan dan membantu memecahkan problem itu dengan cara mereka, yang mengutamakan kerumunan di dunia maya. Informasi lebih cepat tersebar dan mendapat komentar, tak sedikit yang mengajukan solusi dengan gaya generasi Y itu.

Dengan cara pandang generasi milenial, problem yang esoteris dan hanya dikuasai oleh segelintir orang itu tampil ke ruang-ruang publik melalui Internet, media sosial, atau artikel-artikel gaul yang mudah dicerna. Kemampuan berbagi informasi di dunia Internet dan membincangkannya secara terbuka menjadikan dunia kehutanan sebagai dunia yang dekat. Kita salah paham dengan generasi ini, yang dicap tak peduli dengan soal-soal publik dan hanya sibuk dengan urusan narsistis di Instagram.

Memang, para milenial berbeda dalam memandang hutan. Atau lingkungan dan dunia mereka menjadikan mereka berbeda dalam melihat problem hutan dan lingkungan. Dengan informasi yang melimpah, para orang tua tak bisa menilai secara serampangan bahwa mereka generasi yang tak peduli atau mengabaikan pengetahuan-pengetahuan lama. Buku ini memberikan perspektif baru bahwa pengetahuan itulah yang harus segera direvisi dengan penyampaian yang harus disesuaikan dengan cara pandang generasi ini melihat persoalan-persoalan publik.

Dengan Internet, setiap orang bisa menjadi peneliti dengan tak harus menjadi ilmuwan yang menyelesaikan studi di universitas dalam jangka panjang. Hal itu, misalnya, terlihat dari cara anak-anak muda yang peduli dengan kepunahan burung membuat aplikasi Burungnesia, aplikasi berbasis online yang menampung data jenis dan jumlah burung secara akurat.

Narsisme dan histrionisme anak-anak muda bisa berubah menjadi gairah yang menganggit perhatian publik tentang keadaan alam dan lingkungan. Foto-foto yang terunggah di Instagram, siapa sangka, bisa menimbulkan kepedulian orang banyak memperbaikinya. Internet membuka informasi menjadi tersebar secara cepat bahkan memantik kepedulian orang yang tak menaruh perhatian sebelumnya.

Apa jadinya jika tak ada Change.org yang mampu menggaet dukungan ratusan ribu pemakai media sosial untuk mendukung pembebasan dua ahli kehutanan yang dikriminalisasi akibat kesaksian mereka terhadap pembakar hutan? Kini kampanye mengurangi plastik telah menjadi wabah akibat Internet yang dikonsumsi oleh generasi ini.

Buku ini mengingatkan cara padang kolot mesti ditinggalkan karena milenial adalah bosnus demografi kita. Kita harus bisa mengemas isu kehutanan dan lingkungan agar kepedulian mereka yang tinggi itu terkonversi menjadi gerakan-gerakan nyata membangun lingkungan yang berkelanjutan.

Judul Buku         : Kehutanan Millenial
Penulis               : Ahmad Arief Fahmi
                             Ari Susanti
                             Hero Marhaento
                             Irfan Bakhtiar
                             Muhammad Ali Imron
                             Rohni Sanyoto
Penerbit            : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
Tahun Terbit      : 2018
Jumlah Halaman : 94 Halaman

Tersedia secara online

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain