Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 31 Agustus 2022

Krisis Iklim Mulai Mengancam Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan terancam krisis iklim. Adaptasi melalui kalender tanam dan varietas tahan kekeringan.

KETAHANAN pangan paling rentan terdampak cuaca ekstrem dan krisis iklim. Saat ini, Cina mati-matian memasok air ke daerah-daerah pertanian seiring dengan kekeringan parah dan gelombang panas yang mengeringkan sungai Yangtze.

Di masa mendatang, kondisi ini akan dialami pula oleh Indonesia yang diprediksi mengalami musim kering lebih panjang. "Adaptasi bisa dilakukan dengan menggunakan varietas tanaman yang adaptif terhadap peningkatan suhu udara,” kata Kharmila Sari Hariyanti dari Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian dalam seminar ilmiah pada 23 Agustus 2022.

Ahli pertanian IPB University, Yonny Kusmaryono, menambahkan bahwa produksi pertanian dan perkebunan sangat rentan terdampak krisis iklim. “Variabilitas iklim sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman," katanya.

Yonny mengatakan negara-negara di wilayah tropis akan terdampak lebih parah karena lahan pertanian kekurangan pasokan air sehingga ketahanan pangan dan pendapatan petani, termasuk pergeseran area produksi tanaman pangan, akan terganggu. "Petani dan peternak akan susah," katanya.

Suhu udara yang meningkat akibat krisis iklim membuat evapotranspirasi meningkat sehingga usia tanaman lebih pendek dan produktivitasnya berkurang. Curah hujan yang tak menentu menyebabkan banjir dan kekeringan. Abrasi dan intrusi di wilayah pertanian pesisir membuat panen komoditas terganggu. "Sekarang yang paling dirasakan mungkin peningkatan serangan hama dan penyakit tanaman sebagai dampak perubahan iklim," kata Yonny.

Dia menyebutkan serangan belalang kembara di Pulau Sumba pada tahun ini menjadi salah satu yang terparah akibat krisis iklim. "Belalang memang bisa dijadikan makanan. Tapi kalau jumlahnya banyak malah menjadi hama," kata Yonny.

Pada April lalu, masyarakat dari empat desa di kecamatan Pahunga Lodu, Sumba Timur bisa mengumpulkan 2,1 juta ton belalang dalam delapan jam. Serangan belalang baru mereda satu bulan kemudian.

Yonny mengingatkan untuk tanaman utama seperti gandum, beras, dan jagung di daerah iklim tropis dan sedang, perubahan iklim tanpa adaptasi akan berdampak negatif pada produksi pertanian jika suhu bumi naik 2C dibanding masa praindustri. Berkurangnya produksi tanaman akan menjadi bencana besar karena penduduk bumi terus bertambah.

Kharmila Sari Hariyanti menambahkan bahwa adaptasi telah dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah krisis pangan sebagai dampak dari krisis iklim. Salah satunya membuat kalender tanam yang memundurkan waktu tanam. "Sekarang saja panen kita mundur sampai Februari," kata Kharmila.

Dia juga menjelaskan bahwa ada perubahan produksi tanaman pangan ketika El Niño dan La Niña. Kharmila menyebutkan setiap kejadian El Niño luas lahan sawah yang tmengering naik jadi 350-870 hektaer, ketimbang kondisi kekeringan normal  50-300 hektare.

Sementara tiap musim La Niña, serangan hama wereng batang cokelat (WBC) menyerang hingga 90-250 hektare lahan pertanian, yang pada kondisi normal hanya 10-85 hektare.

Kharmila menjelaskan perubahan musim tanam dan panen dilakukan melalui penerapan kalender tanam terpadu. Kalender tanam dibuat melalui identifikasi dan pemetaan di seluruh wilayah lahan pertanian terutama di bawah koordinasi BMKG untuk memantau perkembangan iklim global dan prediksi hujan.

BACA: Karbohidrat Alternatif Pengganti Beras

Ada beberapa program adaptasi terhadap perubahan iklim yang tengah dikembangkan Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP). Selain kalender tanam terpadu, BBSDLP tengah mengembangkan varietas tanaman yang tahan genangan dan tahan kering.

Di wilayah pertanian mereka juga mengembangkan floating rice dan varietas padi yang toleran terhadap salinitas air laut. IPB juga telah mengembangkan varietas padi baru yang tahan hidup di lahan kering.

Pemanfaatan air irigasi, panen, dan konservasi air merupakan program utama untuk mengatasi kekeringan di masa mendatang yang diperkirakan akan semakin intens. Pangan paling rentan terdampak krisis iklim yang mulai merembet ke semua wilayah.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain