Laporan Utama | Oktober-Desember 2018

Ironi Rumah Orang Tua

Hutan Indonesia seperti rumah. Satwa yang menghuninya ibarat orang tua. Kini rumah itu menuju kekosongan karena penghuninya tak lagi hidup di dalamnya. Mereka punah atau terdesak oleh kebutuhan dan nafsu mamalia lain yang bisa berpikir untuk berkembang biak: manusia. Perlu perubahan paradigma menyelamatkan agar rumah orang tua itu tak jadi suwung.

Firli Azhar Dikdayatama

Manusia Video

BERGIAT di dunia konservasi satwa selama hampir 30 tahun, Sunarto merasakan hutan Indonesia kian suwung. Di kawasan-kawasan yang masih berhutan, tiap kali ia masuk ke sana, ekolog satwa di World Wide Fund of Nature (WWF) ini sudah sulit bahkan mencari suara burung. “Hutan seperti rumah kosong,” katanya pada September lalu. 

Pada 1980-an, kata Sunarto, tiap kali ia masuk hutan di pelbagai pedalaman di kepulauan Indonesia, ia masih merasakan perbedaan-perbedaan rimba karena isinya yang kaya. Meski hutannya sama, rimba Kalimantan memberikan suara berbeda dengan hutan-hutan di Sumatera karena penghuninya juga tak sama. 

Ilustrasi Sunarto menggambarkan laporan 20 tahunan WWF yang terbit pada akhir Oktober lalu. WWF melaporkan bahwa sejak 1970, jumlah satwa menurun drastis hingga 60 persen. Satwa penghuni perairan dan daratan Austronesia, termasuk Indonesia di dalamnya, mencatat penurunan jumlah satwa paling besar di banding wilayah-wilayah lain. Angkanya paling tinggi dari rata-rata penurunan tingkat dunia, yakni 69 persen. 

Para peneliti bahkan memperkirakan orangutan, hewan endemik Sumatera dan Kalimantan, akan tinggal cerita dalam 500 tahun ke depan. Padahal, Indonesia terkenal sebagai wilayah dengan predikat mega-bioiversity. Dengan 17.000 pulau, dengan 120 juta hektare hutan, 108 ribu kilometer garis pantai, menurut The International Union for Conservation of Nature (IUCN), 17% satwa dunia hidup di Nusantara, meski luas daratan hanya 1,3 persen permukaan bumi. 

Dari 300.000 jenis satwa liar yang hidup di wilayah Indonesia, 184 jenis mamalia, 119 jenis burung, 32 jenis reptil, dan 32 jenis amfibi sudah dinyatakan terancam punah. Penyebabnya justru datang dari manusia. Deforestasi dan konversi hutan menjadi permukiman dan perkebunan adalah biang utama kehancuran keragaman hayati itu. 

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno menyebut degradasi lahan dan kehilangan habitat menjadi faktor penyebab paling tinggi dalam kepunahan satwa liar itu. “Angkanya 44,8 persen dan faktor kedua adalah perburuan satwa liar sebesar 37 persen,” kata Wiratno bulan lalu.

20190104193124.jpg

Penyakit dan perubahan iklim menjadi faktor lain penyebab hewan-hewan itu punah dengan angka 2% dan 17%. Naiknya populasi manusia, semakin tinggi pula konsumsi yang berujung pada konflik antar mamalia: manusia dan satwa untuk saling mempertahankan hidup. 

Lingkaran setan kekacauan ini kemudian membuat rantai sebab-akibat yang tak putus. Pola konsumsi dan naiknya populasi manusia ini membuat alam tereksploitasi, dengan teknologi, dengan ilmu pengetahuan yang canggih. Eksploitasi membuat alam terdegradasi yang mengakibatkan bumi berubah. Es di kutub selatan dan utara mulai mencair akibat suhu di permukaan bumi naik karena lapisan ozon penahan matahari kian melepuh. 

Di daerah tropis, kekeringan membuat kegagalan panen hingga kebakaran lahan akibat suhu bumi yang naik itu. Belum lagi perburuan dan perdagangan liar satwa langka. Tingginya permintaan terhadap bagian-bagian tubuh satwa menaikkan penawaran sehingga perburuan menjadi tak terkendali. Sebuah video yang viral akhir November lalu di media sosial menunjukkan itu: seekor hiu menggelepar tak bisa berenang akibat siripnya dipangkas. 

Permintaan terhadap sup sirip hiu untuk kuliner yang menjadi tren baru di beberapa negara, juga sebagai bahan obat, membuat perburuan hiu kian masif. Padahal tanpa sirip, hiu seperti manusia yang kehilangan tangan, kehilangan separuh tenaga untuk berenang. 

Menurut Guru Besar Konservasi Fakultas Kehutanan IPB Hadi S. Alikodra, semua penyebab punahnya satwa-satwa dari alam bebas berhulu pada keserakahan manusia. “Aturan cukup, manusia makin banyak yang sekolah, ilmu cukup, tapi kita tak punya etika terhadap alam,” katanya. 

Bagi Alikodra, laporan WWF itu menunjukkan dengan telak tak berfungsinya institusi-institusi manusia seperti sekolah, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, hukum, karena lembaga-lembaga hasil peradaban itu tak bisa menegakkan moral dan etika dalam berhubungan dengan alam. 

Ketika alam hancur akibat eksploitasi, menurut Alikodra, ekosistem bumi menjadi pincang. Sebab manusia membutuhkan satwa untuk hidup, tak seperti satwa yang bisa hidup tanpa manusia. Seekor serangga akan menghasilkan serbuk yang mendorong produksi oksigen yang dibutuhkan manusia. Ketika pola hidup serangga berubah akibat alam yang mengubah makanan dan pakan mereka, siklus produksi oksigen juga akan berubah. 

Dalam pandangan konservasi, satwa adalah sumber pangan, energi, dan obat-obatan. Ketamakan manusia yang menentukan apakah fungsi-fungsi tersebut melampaui batas kemampuan alam menyediakannya. Penurunan jumlah satwa sejak 1970 menunjukkan daya dukung semesta tak sanggup mengimbangi eksploitasi yang dilakukan manusia. 

Akibatnya satwa tak sejahtera. Mereka kehilangan pakan akibat habitatnya hilang dirambah manusia. Mereka kehilangan rumah dan tempat bermain akibat hutan dibagi-bagi ke dalam kawasan yang lebih kecil. Eksploitasi hutan, dengan alasan kesejahteraan manusia maupun atas nama keserakahan, membuat hutan seperti rumah yang roboh. 

Seperti Sunarto, Sectionov dari Yayasan Badak Indonesia mengibaratkan hutan seperti rumah bagi satwa-satwa itu. Ketika deforestasi dan degradasi lahan menggila, mereka kehilangan tempat tinggal dan berlindung, tempat bersarang sekembali dari permainan, seperti manusia kehilangan mimpi dan kampung halaman akibat tergusur pembangunan atau bencana alam. 

Yayasan Badak, menurut Sectionov, berusaha menjaga populasi badak Jawa dan Sumatera yang tersisa. Dua jenis badak tersebut kini tak lebih 100 ekor di alam. Data survei Taman Nasional Ujung Kulon pada 2017 saja menemukan badak Jawa tinggal 67 ekor, 37 jantan dan 30 betina. 

Menurut Kepala Taman Nasional Ujung Kulon Mamat Rahmat, rasio ini tak ideal untuk menjaga perkembangbiakan badak Jawa. Sebab, penelitian-penelitian menyebutkan rasio ideal agar populasi badak tak punah adalah 1:4, satu pejantan bisa membuahi 4 betina. Apalagi, belum ada data yang merekam keberhasilan konservasi eks-situ dalam mengawinkan badak Jawa. 

Badak Jawa hanya ada di semenanjung Ujung Kulon, ujung barat Pulau Jawa. Para pengunjung taman nasional hanya bisa menemukan jejaknya tanpa bertemu dengan fisiknya karena hewan besar ini sangat sensitif pada bau manusia. Sensitivitas itu membuat badak rentan punah tanpa diproteksi dari perburuan. “Dalam konservasi, hewan ini dikategorikan sebagai satwa payung,” kata Sectionov. “Melindungi badak berarti melindungi satwa besar lain.” 

Menurut Sectionov, usaha konservasi tak akan jalan tanpa melibatkan masyarakat di sekitar hutan dan para pemangku kepentingan. Dalam sistem yang modern, pemangku kepentingan yang memiliki hak atas hutan tersebut adalah negara, yang diwakili pemerintah. Maka kolaborasi ketiga pihak itu akan menentukan pola konservasi dalam melindungi satwa langka. 

Yayasan Badak, misalnya, melakukan patroli bersama polisi hutan dan masyarakat selama 15 hari dalam sebulan untuk mendata dan memantau perkembangan badak. Melalui Rhino Protection Unit (RPU), Sumatran Rhino Sanctuary (SRS), Rhinos Goes to School, Yayasan Badak mendorong publik punya pengetahuan akan pentingnya badak bagi kelangsungan bumi. Juga mendorong penegakan hukum terhadap aktivitas perburuan. 

Masalahnya, badak adalah jenis hewan yang masuk kategori ally effect. Menurut Sunato, ally effect adalah istilah konservasi untuk mengategorikan satwa yang punah karena sudah sangat langka. Atau tabiatnya secara alamiah. Panda termasuk hewan jenis ini karena mereka kawin hanya dua tahun sekali. 

Tanpa faktor-faktor luar yang bisa memusnahkan hewan itu pun, satwa jenis ini akan punah dengan sendirinya jika tanpa campur tangan manusia. “Tekanannya tidak hanya dari deforestasi atau perburuan saja, tapi karena saking langkanya hewan ini,” kata Sunarto.

20190104193144.jpg

WWF menggolongkan 21 spesies satwa yang harus mendapat perhatian lebih agar tak punah. Dari hewan besar seperti gajah, harimau, badak, orangutan, hingga burung, seperti Cendrawasih di Papua. Ada empat program WWF yang bekerja sama dalam pelbagai lembaga melindungi 21 spesies itu. “Tujuan besarnya memastikan populasinya aman,” kata dia. 

Program pertama adalah menjaga habitatnya tetap memadai, dari segi kualitas maupun kuantitas. Kemudian menjaga populasinya terjaga dengan melindungi mereka dari perburuan liar, perdagangan. Lalu menghindarkan mereka terlibat konflik dengan manusia. Dan, terakhir, program yang bertujuan inovasi, yakni mengembalikan satwa ke dalam populasi dan habitatnya. 

Jika Sectionov menyebut hutan seperti rumah, Sunarto mengibaratkan satwa seperti orang tua. Keberhasilan konservasi akan sangat ditentukan oleh paradigma manusia dalam memandang rumah dan orang tua itu. “Jika kita lihat keberadaan orang tua sebagai beban, kita akan menjaganya sebagai beban, sebaliknya, jika kita anggap merawat orang tua sebagai kemewahan karena diberi kesempatan kita akan merawatnya dengan cinta,” kata dia. 

Di Indonesia perlindungan satwa dengan cinta itu dijalankan dalam dua skema: konservasi in-situ, yaitu pengembangbiakan di alam, dan eks-situ melalui kebun-kebun binatang atau taman safari. Menurut Sunarto, penangkaran eks-situ semestinya hanya punya dua tujuan: sebagai edukasi dan pengembangbiakan. Hewan-hewan yang tak tergolong hampir punah bisa ditangkarkan untuk dikembangkan biakan dengan tujuan edukasi. 

Direktur Taman Safari Indonesia di Bogor, Jansen Manangsang, menambahkan bahwa pembangunan kebun binatang di negara mana pun memiliki empat tujuan: konservasi, edukasi, riset, dan rekreasi. “Kalau tak ada kebun binatang orang buta tak akan bisa membedakan belalai gajah dan ular,” kata Jansen. 

Kebun binatang, kata dia, memungkinkan manusia mengetahui jenis-jenis binatang tanpa harus pergi ke hutan. Menurut Jansen, agar tujuan konservasi tercapai ada lima domain yang wajib ditaati pengelola kebun binatang: nutrisi yang tercukupi, lingkungan yang memadai, pemantauan kesehatan, penyesuaian perilaku, dan mental satwa. 

Di Taman Safari Indonesia, kata Jansen, pemeliharaan satwa memakai domain itu. Ia menjamin tak ada perlakuan kepada hewan yang tak sesuai sifat alamiahnya. “Tak ada monyet disuruh menyetir mobil atau gajah disuruh jalan dengan dua kaki,” kata dia. 

Menurut Jansen, status hewan di TSI sepenuhnya milik negara. Manajemen TSI hanya bertindak sebagai pengelola. Pemerintah menitipkan hewan-hewan langka tersebut ke taman safari untuk dirawat dan dijaga dengan imbal hasil pendapatan dari tujuan rekreasi itu. “Tiap negara punya aturan berbeda-beda,” kata dia. 

Konservasi in-situ dan eks-situ, kata Jansen, adalah pilihan terbaik menjaga hewan tidak punah. Sebab, membiarkan satwa berada di alam juga bisa punah karena tiap hewan akan saling memangsa untuk bertahan hidup. Ular sawah, Jansen mencontohkan, akan punah karena dimakan oleh babi dan harimau.

Perkembangan teknologi juga bisa menjadi ancaman bagi hewan itu meski sudah ada penetapan satwa payung, seperti harimau dan gajah yang dibiarkan hidup liar di alam. Teknologi pengobatan yang memburu hewan langka untuk mengobati penyakit manusia salah satunya. “Karena itu ada kebun binatang untuk riset sehingga kita tetap punya sperma mereka untuk dikembangbiakkan,” kata Jansen.

Usaha-usaha eks-situ maupun in-situ itu layak diapresiasi, sepanjang sesuai dengan perilaku alamiah hewan-hewan tersebut dan mengedepankan kesejahteraannya. Menurut Alikodra, jaringan konservasi eks-situ maupun in-situ di Indonesia sudah lumayan mumpuni dalam menyelamatkan dan melindungi satwa-satwa dari kepunahan. 

Upaya-upaya tersebut menjadi tak berarti ketika penyebab utamanya tak diperbaiki. “Tak ada negara lain sebagus Indonesia dalam hal jaringan konservasi,” kata Alikodra. “Tapi memakai ilmu saja tanpa etika kepada alam hewan akan tetap punah.” 

Tanpa etika, hutan akan seperti rumah yang suwung karena sudah ditinggalkan para orang tua...

Kontributor:
Mawardah Nur Hanifianti, Zahra Firdausi, Razi Aulia Rahman

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain