Laporan Utama | Oktober-Desember 2018

Ekowisata Gajah Danau Toba

Gajah jinak yang menjadi obyek wisata di KHDTK Aek Nauli merupakan hasil domestikasi dari gajah tangkapan yang dijinakkan, dilatih, dan dikembangbiakkan (ditangkarkan).

Pratiara Lamin

Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli

GAJAH Sumatera sedang diambang kepunahan. Gajah Sumatera merupakan sub spesies dari gajah Asia (Elephas maximus). Dalam kurun 30 tahun terakhir, jumlah populasinya turun hingga 70% (Sukamar, 2003). Winata (2018) menambahkan, dengan mengutip Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), populasi gajah per 2016 diperkirakan sekitar 1.700 ekor dan lebih dari 700 gajah mati dalam 10 tahun terakhir.  Kasus kematian gajah banyak ditemukan di Propinsi Aceh, Jambi, Bengkulu dan Lampung. Selain gajah yang berada di alam liar, saat ini 500 gajah tersebar di berbagai Pusat Konservasi Gajah yang berada di Sumatera, Jawa dan Bali.

Maka konservasi gajah tak bisa ditawar, baik in situ (pada habitat alaminya) maupun konservasi ex situ (diluar habitatnya). Dalam ilmu konservasi modern, konservasi bukan hanya pada aspek preservasi (preservation) atau pelestarian sumber daya alam akan tetapi termasuk aspek pemanfaatan sumber daya alam dengan penggunaan secara nalar (intellect utilization) dan secara bijak (wise use). 

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan juga saat ini dikenal juga dengan “bisnis konservasi”.  Ini cara pandang baru yang menyeimbangkan pembangunan ekonomi, sosial, dan ekologi dengan memanfaatkan potensi alam, keragaman hayati termasuk budaya masyarakat untuk kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Program konservasi gajah yang banyak dikembangkan di era modern, baik pada habitat alaminya maupun yang berada di bawah kendali manusia adalah melalui pengembangan ekowisata. Ekowisata pada hakikatnya merupakan perjalanan dan kunjungan yang bertanggungjawab terhadap lingkungan yang tidak merusak kawasan alam karena hanya menikmati, mempelajari, dan mengapresiasi alam, termasuk aspek budayanya untuk menunjang program konservasi.

Salah satu program konservasi gajah melalui ekowisata yang baru dikembangkan adalah di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli. Pemilihan lokasi pengembangan konservasi dan ekowisata gajah di KHDTK Aek Nauli memiliki prospek yang besar dan mendukung program strategis nasional karena memiliki aksesibilitas yang mudah dikunjungi dan terdapat di pinggir jalan negara yang menuju Kawasan Danau Toba. Kawasan ini tepatnya berada sekitar 10 kilometer sebelum Kota Parapat (Danau Toba) sehingga memiliki posisi yang sangat strategis karena merupakan lintasan utama menuju kawasan pariwisata tersebut.

Kawasan KHDTK Aek Nauli berada di daerah pegunungan pada ketinggian sekitar 1.000-1.750 meter dari permukaan laut dengan kemiringan antara 3-65 % (rata-rata antara 25-40%). Kawasan KHDTK Aek Nauli merupakan salah satu areal penanaman reboisasi Tusam (Pinus merkusii) terluas yang masih tersisa di Danau Toba. Penanaman telah dimulai sejak awal kemerdekaan hingga awal tahun 1970-an dengan jenis yang ditanam sebagian besar merupakan Tusam/Pinus strain Aceh.

Beragam jenis mamalia juga teridentifikasi di sini, di antaranya monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Beruk (M. nemestrina), Siamang (Hylobates syndactylus), kijang (Muntiacus muntjak), Babi hutan (Sus scrofa), dan Rusa (Rusa unicolor).  Selain itu juga diketahui keberadaan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan beruang madu (Helarchos malayanus). Jenis-jenis burung yang banyak dijumpai diantaranya adalah kucica hutan (Copsychus malabaricus), tekukur (Streptopelia chinensis), kutilang (Pynonotus aurigaster) dan lainnya (Kuswanda, dan Pratiara. 2017).

Program pengembangan gajah di KHDTK Aek Nauli merupakan hasil kerjasama antara Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, dan Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (Vesswic). Para pihak sepakat memberi nama kawasan ini dengan sebutan ANECC (Aek Nauli Elephant Conservation Camp).

Pada Kawasan ANECC telah dipelihara empat gajah yaitu Figo (jantan), Vini, Ester dan Siti (betina). Manajemen ekowisata di KHDTK Aek Nauli akan dikembangkan berbasis wisata ilmiah dengan prinsip edutaiment.  Pengembangan prinsip edutaiment memiliki  fungsi penting sebagai wahana penelitian dan pengembangan,pendidikan, sekaligus pertunjukan dan/atau peragaan wisata bagi kepuasan pengunjung (wisatawan) guna memberikan kesan positif dan pengetahuan kepada pengunjung.

Gajah jinak yang menjadi obyek wisata di KHDTK Aek Nauli merupakan hasil domestikasi dari gajah tangkapan yang dijinakkan, dilatih, dan dikembangbiakkan (ditangkarkan). Gajah jantan Vigo merupakan hasil pengembangbiakan di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Holiday Resort, Labuan Batu, Sumatera Utara.

20190104175004.jpg

Untuk mendukung pengelolaan ekowisata gajah jinak tersebut maka Balai Litbang LHK Aek Nauli melakukan rangkaian kegiatan penelitian dengan topik di antaranya :

Penelitian tahun 2017 :

  1. Kajian Adaptasi Perilaku Gajah di KHDTK Aek Nauli
  2. Jenis dan Produktivitas Pakan Gajah pada Hutan Dataran Tinggi DTA Danau Toba
  3. Tingkat Persepsi dan Peluang Pengembangan Ekowisata Gajah di Sekitar Danau Toba
  4. Analisis Pemanfaatan Ekosistem KHDTK Aek Nauli Terhadap Kualitas dan Kuantitas Air

Penelitian tahun 2018 :

  1. Penelitian Pakan, Perilaku, Pengayaan Area Rumput Gajah dan Aplkasi Teknik Pengembangan Reproduksi Gajah pada Area KHDTK Aek Nauli
  2. Penguatan Kelembagaan, Desain Produk Pendukung dan Strategi Pengelolaan Kawasan Ekowisata Gajah Jinak di KHDTK Aek Nauli
  3. Pembangunan Demplot Pengayaan Pohon Pakan Gajah Pada Areal Penggembalaan Gajah di Areal Ekowisata Gajah di KHDTK Aek Nauli.
  4. Analisis Pakan dan Pengembangan Penangkaran Semi Alami Rusa untuk Mendukung Ekowisata Gajah di KHDTK Aek Nauli

Pengembangan ekowisata gajah di KHDTK Aek Nauli juga merupakan perwujudan untuk mendukung pengelolaan KHDTK yang bersifat mandiri. KHDTK Aek Nauli memiliki posisi yang strategis sebagai lokasi ekowisata karena berada di pinggiran jalan menuju Danau Toba. Selain ekowisata gajah, beragam keindahan dan keunikan alam dapat dinikmati juga di kawasan KHDTK Aek Nauli, seperti air terjun, sungai, ekosistem hutan dataran tinggi, habitat kantong semar sampai panorama Danau Toba.

Di Kawasan Arboretum, potensi ekowisata yang sudah dikembangkan oleh Balai Litbang LHK Aek Nauli di antaranya Aeknauli Beecosystem yang merupakan suatu kesatuan sistem yang terdiri dari sumber daya manusia yang ahli dalam budidaya lebah madu, sumber pakan lebah yang sangat berlimpah berupa taman nektar dan tanaman hutan, galeri lebah madu, serta teknologi budidaya dan pemanenan lebah madu.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.