Laporan Utama | Mei-Juli 2017

Kayu Putih untuk Lahan Marjinal

Harga minyak kayu putih pun cukup baik, sekitar Rp. 200.000 per kg. Sampai saat ini, baru Perum Perhutani yang membudidayakan kayu putih secara masif

Irdika Mansur

Dosen Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB dan Direktur SEAMEO BIOTROP

Saya pikir tidak ada masyarakat Indonesia yang tak mengenal Minyak Kayu Putih. Minyak yang memberikan sensasi hangat dan beraroma menenangkan itu digunakan mulai dari bayi sampai orang tua. Selain sebagai penghangat, minyak hasil sulingan ranting dan daun Melaleuca cajuputi itu dipercaya bisa menjegal masuk angin, meredakan pegal-pegal dan pas untuk pijat.

Tak heran jika kebutuhan minyak kayu putih di Indonesia sangat tinggi. Menurut sumber di industri pengolahan minyak kayu putih, kebutuhanya mancapai 3.000 ton per tahun. Namun, produksi dalam negeri hanya 500 ton per tahun. Untuk menambal ketimpangan, Indonesia mengimpor minyak ekaliptus sebagai ganti kekurangan pasokan minyak kayu putih.

Hal ini merupakan peluang yang cukup menggiurkan untuk digarap, sebab, kebutuhan minyak kayu putih sudah barang tentu akan terus meningkat. Harga minyak kayu putih pun cukup baik, sekitar Rp. 200.000 per kg. Sampai saat ini, baru Perum Perhutani yang membudidayakan kayu putih secara masif, itu pun belum menjadi produk andalan mereka. Sementara untuk, budidaya secara tradisional banyak tersebar di Kepulauan Maluku, bahkan di Pulau Buru terdapat hutan kayu putih alami yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat secara turun temurun.

Padahal, budidaya anggota keluarga jambu-jambuan (Myrtaceae) itu tergolong mudah. Tanaman ini termasuk jenis yang tangguh, sebab mampu tumbuh di berbagai kondisi lahan, mulai dari lahan kering berbatu seperti di Gunung Kidul dengan pH di atas 7 sampai lahan-lahan bertekstur berat dengan pH di bawah 4 seperti lahan bekas tambang. Kayu putih juga dapat tumbuh di lahan kering maupun lahan basah. Selain itu, kayu putih dapat bersaing dengan baik dengan rumput liar sampai alang-alang yang ada di sekitarnya sehingga biaya pemeliharaannya rendah.

Pembibitan kayu putih pun relatif gampang. Setiap kilo benih kayu putih berisi kurang lebih 1 juta biji, jika 30 persen saja tumbuh, maka setiap kilo benih akan menghasilkan 300.000 bibit siap tanam. Sementara, untuk lahan seluas 1 ha dengan jarak tanam 3 x 2 m hanya membutuhkan 1500 bibit, maka, hanya dengan pembibitan dari 1 kilo benih dapat untuk menanam lahan seluas 200 ha.

Pohon Kayu Putih, Umur 3 Tahun

Pohon Kayu Putih, umur 3 tahun

Kemudian, kayu putih mulai bisa dipanen rata-rata 4 tahun setelah tanam. Setelah itu, panen bisa dilakukan setiap 9 bulan sekali. Setiap pohon rata-rata bisa menghasilkan 1 kg daun (dan ranting) yang bisa disuling, maka setiap ha akan menghasilkan 15 ton per panen. Jika rendemen minyak minimum 0,7%, maka, akan diperoleh minyak sebesar 105 kg minyak atau senilai Rp 21.000.000 per ha.

Selain itu, limbah sisa penyulingan kayu putih juga kaya manfaat. Saat ini, sisa daun dan ranting kayu putih yang sudah diperas hanya dibuat briket untuk bahan bakar boiler penyulingan. Padahal, limbah tersebut juga dapat digunakan untuk mulsa dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan bakar biomass. Di Pabrik Minyak Kayu Putih milik Perum Perhutani di Sukun, Ponorogo, Jawa Timur, dari tumpukan limbah daun kayu putih tumbuh jamur yang dikonsumsi masyarakat sekitar.

Berbagai kelebihan kayu putih bisa menjadikannya salah satu tanaman untuk pendayagunaan lahan marginal, seperti penghijauan lahan kritis maupun upaya reklamasi bekas tambang. PT Bukit Asam adalah perusahaan pertambangan pionir yang memilih pohon kayu putih sebagai salah satu jenis tanaman untuk reklamasi lahan bekas tambangnya sejak 2008. Perusahaan tambang pelat merah tersebut telah menanam sekitar 339.258 batang atau kurang lebih 543 ha di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Mereka juga menargetkan penambahan luasan areal reklamasi 100 ha per tahun. Perusahaan juga telah membangun fasilitas penyulingan.

Menuru penelitian Agus Ari, mahasiswa pasca sarjana Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB, meski kondisi tanah di areal reklamasi miskin hara dan pH antara 3,7 sampai 4,5 (sangat masam), tetapi kayu putih dapat tumbuh dengan baik. Bahkan, penelitiannya membuktikan pertumbuhan kayu putih cenderung lebih baik di lahan bekas tambang dibandingkan dengan yang dibudidayakan Perum Perhutani Meki hal itu bisa jadi karena pengaruh penggunaan pupuk dan kompos yang diaplikasikan untuk mendukung pertumbuhan bibit.

Berdasarkan gambaran di atas, kayu putih dapat direkomendasikan sebagai jenis tanaman untuk kegiatan rehabilitasi pada lahan marjinal di Indonesia. Teknik silvikultur tanaman tersebut pun sudah lama dikuasai. Perum Perhutani dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah melepaskan clone-clone kayu putih yang cepat tumbuh, 2 tahun setelah tanam dapat dipanen dengan rendemen minyak lebih tinggi, diatas 1%.

Disamping itu, kemampuan kayu putih yang dapat beradaptasi di lahan marjinal dengan baik serta tahan kebakaran membuat biaya pembangunan dan pemeliharaannya relatif ringan. Memang hasil sekira Rp 21 juta per ha per tahun tampak rendah, tetapi dengan mempertimbangkan nilai investasi yang rendah dan perawatan yang ringan, maka penggunaan pohon kayu putih untuk rehabilitasi lahan marjinal masih realistis.

Kemudian, kayu putih hanya dipanen daunnya, pohon tidak ditebang sehingga perakaran tetap kokoh. Hal ini berdampak positif pada stabilitas tanah dan tanaman di sekitarnya yang relatif tidak terganggu sehinga bisa menekan terjadinya erosi. Kayu putih juga dapat diusahakan secara agroforestry, sebab, pemangkasan daun secara periodic memungkinkan sinar matahari menjangkau tanaman tumpangsari sepanjang waktu. Lalu, serapan tenaga kerja untuk penanaman, panen, pengangkutan dan penyulingan juga cukup besar.

Dengan demikian, penggunaan kayu putih untuk rehabilitasi lahan-lahan marjinal, termasuk lahan bekas tambang, akan memberikan manfaat ekologis, ekonomis, dan sosial sekaligus serta dalam waktu yang relatif singkat.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.