Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|27 Oktober 2021

Pemilih Muda Indonesia Paham Bahaya Krisis Iklim

Anak muda Indonesia paham bahaya krisis iklim. Mereka ingin pemimpin yang pro lingkungan.

DENGAN jumlahnya yang mencapai 40% pemilih atau 80 juta jiwa, gen Z dan milenial Indonesia bisa jadi penentu siapa yang berkuasa dalam pemilihan umum 2024. Dari survei Indikator Politik Indonesia yang didukung Yayasan Indonesia Cerah, 82% kelompok usia 18-35 tahun ini paham bahaya krisis iklim.

Survei ini bisa menjadi referensi bagi partai politik maupun politikus dalam kampanye 2024. Dengan pemahaman atas krisis iklim sebagai bahaya utama masa depan mereka, promosi tanpa fokus pada lingkungan membuat politikus akan kehilangan suara.

Responden survei ini berjumlah 4.020 orang yang terdiri dari 3.216 responden usia 17-26 tahun (gen Z) dan 804 responden usia 27-35 tahun (milenial). Hasilnya, 82% responden mengetahui istilah perubahan iklim. Dari jumlah itu, 78% menganggap perubahan iklim adalah perubahan besar yang terjadi di alam.

Meski begitu, perubahan iklim bukan isu yang paling mereka khawatirkan. Hanya 34% responden yang memilih perubahan iklim sebagai problem yang membuat mereka cemas, karena pertanyaan survei spesifik menyediakan pilihan ini. Korupsi (64%), kerusakan lingkungan (52%), dan polusi (42%) yang membuat mereka cemas.

Jika dilihat polanya, korupsi, kerusakan lingkungan, dan polusi adalah akibat atau penyebab krisis iklim. Sebab, krisis iklim amat terkait dengan kebijakan pengelolaan lingkungan. Kebijakan yang merusak lingkungan dan polusi adalah sebab-akibat dengan hasil krisis iklim yang menimbulkan pelbagai bencana.

Dari survei ini juga terlihat isu paling penting apa menurut para responden yang harus ditangani segera. Menurut mereka, 62%, pengelolaan sampah adalah hal paling penting. Barangkali karena sampah ada di sekitar mereka yang mewarnai kehidupan sehari-hari. Sementara kehilangan satwa langka, deforestasi, menurunnya keragaman hayati, belum menjadi pertimbangan prioritas yang berkaitan dengan mitigasi krisis iklim.

Menurut LIPI, 270.000-590.000 ton sampah masuk ke laut dan perairan setiap tahun. Sementara perhitungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional sampah makanan yang terbuang sebanyak 184 kilogram per orang per tahun. Meski kecil sebagai penyumbang krisis iklim, sampah menghasilkan metana yang menjadi gas rumah kaca kuat penyebab pemanasan global.

Skor perubahan iklim dan penyebab utamanya

Para responden juga menganggap kebijakan ekonomi sangat berkaitan dengan krisis iklim. Secara mengejutkan, mereka berpendapat bahwa mendorong pertumbuhan ekonomi tak lebih penting ketimbang melindungi lingkungan. Sebanyak 81% setuju jika perlindungan dan pelestarian lingkungan menjadi perhatian utama pemerintah meski akibatnya bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Survei ini juga menemukan bahwa anak-anak muda masih memiliki ketertarikan yang rendah terhadap partai politik. Menurut mereka, partai-partai belum menempatkan isu lingkungan dan perubahan iklim sebagai program utama. Karena itu, dalam kesimpulan survei Indikator Politik, para peneliti menyarankan partai memakai isu perubahan politik sebagai isu untuk mendekati pemilih muda.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar

Artikel Lain