Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|04 Mei 2021

Anak Muda Serukan Memakai Energi Bersih

Anak-anak muda makin peduli pada dampak buruk krisis iklim. Mereka meminta lembaga keuangan dan dunia usaha lebih peduli dengan mendorong dan memakai energi bersih.

MAKIN banyak orang yang sadar akan bahaya krisis iklim. Anak-anak muda, terutama, kian giat meminta lembaga keuangan dan dunia usaha memakai operasi mereka menekan emisi karbon yang menjadi biang pemanasan global dengan memakai listrik yang bersumber dari energi bersih.

Salah satunya para fans K-Pop, band Korea. Sejak 21 April 2021, mereka membuat petisi meminta Tokopedia, aplikasi perdagangan digital asal Indonesia terbesar di Asia Tenggara, agar memakai energi terbarukan dalam pusat data untuk menggerakkan transaksi digitalnya.

Petisi yang dilayangkan Kpop4Planet, platform para penggemar band Korea, telah mencapai 1.179 tanda tangan hingga 3 Mei 2021. Mereka menargetkan petisi mendapat dukungan 2.030 tanda tangan pada Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2021.

Para fans K-Pop merasa punya andil dalam membesarkan Tokopedia. Platform ini menandatangani kerja sama promosi dengan BTS dan Blackpink, dua band K-Pop terbesar. Sementara Blackpink adalah duta Konferensi Tingkat Tinggi Iklim ke-26 di Glasgow pada November mendatang. Blackpink menyerukan agar penggemarnya bersatu ikut mencegah krisis iklim (liputannya ada di sini).

Pilihan terhadap Tokopedia bukan tanpa alasan. Dari 158 juta pemakai Internet di Indonesia, sekitar 80% bertransaksi di Tokopedia. Karena itu, petisi fans Kpop meminta aplikasi perdagangan ini menjadi contoh perusahaan yang berkomitmen menurunkan emisi melalui pemakaian energi terbarukan. “Petisi ini akan langsung terkirim kepada email CEO Tokopedia Bapak William Tanuwijaya,” kata Nurul Sarifah, inisiator Kpop4Planet.

Menurut Nurul, untuk menghidupkan transaksi digital itu, Tokopedia memakai pusat data yang memakan banyak energi listrik. Masalahnya, energi listrik Indonesia masih bersumber dari energi kotor seperti batu bara, minyak, dan gas bumi. Energi terbarukan baru mengisi 11,4% dari total bauran energi Indonesia hingga tahun ini, yang totalnya sebanyak 70 gigawatt seluruh kapasitas pembangkit.

Indonesia hendak menaikkan bauran energi terbarukan, dari tenaga angin, matahari, air, hingga nuklir, sebanyak 23% pada 2025 dan 31% pada 2030. Angka ini masih jauh lebih kecil dibanding bauran energi yang bersumber dari batu bara, yang diperkirakan masih mengisi sumber energi Indonesia sebanyak 39%, gas 12%, dan minyak 17% hingga 2050.

Energi terbarukan Indonesia dalam lima tahun terakhir naik hampir 6%. Tapi itu pun lebih banyak ditopang biofuel dari minyak sawit. Energi terbarukan sebenarnya hanya bertambah 400 megawatt per tahun dalam lima tahun terakhir. Jumlah yang kecil ini akibat pertumbuhannya yang seret karena kalah bersaing dengan batu bara yang murah dan menjadi andalan energi Indonesia. 

Seperti terlihat dalam laporan Koalisi Bersihkan Indonesia pada 3 Mei 2021. Sejumlah bank memberikan pinjaman sindikasi sebanyak Rp 5,8 triliun kepada Adaro, perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia. Pinjaman itu menunjukkan bisnis batu bara masih menjanjikan dan jadi andalan, apalagi Undang-Undang Cipta Kerja memberikan pelbagai insentif bagi bisnis batu bara.

Koalisi, terdiri dari pelbagai organisasi anak muda yang peduli pada nasib bumi, berdemo di depan kantor Adaro di Jalan HR Rasuna Said Jakarta menyuarakan keprihatinan terhadap pembiayaan itu. Mereka merujuk laporan tahunan Adaro yang mengklaim memiliki cadangan batu bara sebanyak 1,1 miliar ton. Jika batu bara ini dibakar seluruhnya, akan menghasilkan emisi sebanyak 2,2 miliar ton setara CO2, satu-setengah kali emisi Indonesia pada 2018.

Demo pembiayaan Adaro, perusahaan batu bara, oleh bank negara dan swasta Indonesia (Foto: Frans/Koalisi Bersihkan Indonesia)

Emisi karbon adalah biang keladi krisis iklim. Saat ini produksi tahunan mencapai 51 miliar ton yang bersumber dari enam gas rumah kaca utama pemicu pemanasan global. Emisi sebanyak itu berasal dari 63% energi global yang mengandalkan sumber-sumber kotor. Tahun lalu, emisi karbon mendorong peningkatan suhu 1,10 Celsius.

Sebanyak 197 pihak dalam Konferensi Iklim pada 2015 berjanji hendak menurunkan emisi sebanyak 45% untuk menahan suhu bumi tak naik melewati 2C dibanding masa praindustri 1800-1850 pada 2050. Namun, para ahli meragukan komitmen banyak negara sehingga 30 tahun lagi suhu bumi bakal naik sekitar 3-4C.

Beberapa negara sudah berjanji mengurangi emisi hingga nol pada 2050. Tapi lebih banyak negara yang masih belum berkomitmen pada janji ini. Prediksi-prediksi ilmiah menghitung penurunan emisi 45% tak akan tercapai pada pertengahan abad.

Karena itu anak-anak muda meminta lembaga keuangan dan pemerintah lebih serius menurunkan emisi, salah satunya menaikkan secara radikal energi terbarukan. Dalam sebuah survei, konsumen Indonesia bersedia membayar lebih mahal untuk listrik yang mereka konsumsi, asal bersumber dari energi bersih.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain