Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|13 November 2020

2020: Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah

Tahun 2020 menjadi tahun terpanas. Pandemi virus corona covid-19 dan la Nina, musim kemarau basah, tak berpengaruh banyak.

KENDATI pandemi virus corona sejak Desember 2019 menghentikan produksi emisi gas rumah kaca, bumi tak bisa menghindar dari fluktuasi iklim akibat el Nino dan la Nina, juga efek gas rumah kaca. Beberapa statiun analisis iklim menempatkan September merupakan bulan terpanas dibanding bulan-bulan lain tahun ini.

Pandemi virus corona covid-19 membuat sejumlah negara memberlakukan karantina wilayah dan pembatasan interaksi sosial. Akibatnya, sejumlah pabrik yang selama ini memproduksi emisi berhenti beroperasi. Selama tiga bulan, Januari-Maret 2020, emisi Cina berkurang 20% dibanding produksi rata-rata gas rumah kaca selama setahun.

Agaknya, pandemi tak menghalangi pemanasan global. Efek la Nina, musim dingin di Pasifik tropis yang terjadi tahun ini juga tak berdampak signifikan pada kenaikan suhu. Padahal, kenaikan suhu di tahun ini juga tak terdampak oleh el Nino, musim kering panjang seperti yang terjadi pada 2016. 

Carbon Brief, lembaga analisis, mengumpulkan data dari enam lembaga pemantau suhu permukaan bumi dan menyimpulkan bahwa 2020 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah. Rata-rata suhu permukaan bumi sebesar 0,9Celsius sejak 1970, naik 0,10 Celsius dari kenaikan suhu pada 2018. 

Data-data tersebut diolah dari stasiun pemantauan lembaga antariksa Amerika Serikat (NASA), lembaga pemantau suhu Uni Eropa (Hadley), lembaga atmosfer dan permukaan laut (NOAA) Amerika Serikat, pusat ilmu atmosfer Berkeley, lembaga pemantau atmosfer Cowtan & Way Inggris, dan layanan monitoring atmosfer Copernicus. Lembaga-lembaga ini umumnya mencatat suhu permukaan sepanjang tahun ini antara 0,58-0,630 Celcius.

Angka ini sama dengan suhu permukaan bumi pada 2016 sebesar 0,630 Celsius. Namun, pada tahun tersebut terjadi el Nino yang membuat sejumlah kebakaran hutan hebat, termasuk di Indonesia. Sementara tahun ini, justru terjadi la Nina dan pandemi yang menghentikan produksi emisi.

Penyebab kenaikan suhu diduga sebagai akumulasi gas rumah kaca yang mengeras selama ratusan tahun. Sehingga pandemi dan la Nina tak bisa mencegah suhu bumi menghangat yang memecahkan rekor baru sejak 1800, tahun ketika pemantauan suhu bumi bisa didokumentasikan.

Menurut analisis Carbon Brief, tiga gas rumah kaca menjadi pemicu utama pemanasan global tahun ini. Ketiga gas tersebut adalah karbon dioksida (CO2) yang menyumbang 50% radiasi panas, metana (CH4) sebanyak 29%, dan nitrat oksida (N2O) sebanyak 5%. Sebanyak 16% sisanya berasal dari karbon monoksida, karbon hitam dan holokarbon, termasuk klorofluorokarbon (CFC) atau freon.

Tiga gas itu memicu konsentrasi efek rumah kaca di atmosfer melonjak menjadi 420 part per million pada Juni 2020. Angka ini sudah dua kali lipat dari jumlah emisi pada 1750, tahun ketika Revolusi Industri dimulai. Selama 10.000 tahun sebelumnya, konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer bumi stabil sebanyak 280 ppm. Para ahli memprediksi suhu bumi akan naik 1,50 Celsius jika gas rumah kaca di atmosfer mencapai 450 ppm.

Konsentrasi CH4 di atmosfer mulai meningkat lagi pada 2006 setelah melonjak dan stabil sejak 1999. Konsentrasi metana meningkat sejak 2014, dengan pertumbuhan linier sekitar 8 part per billion setiap tahun.

Tidak seperti CO2 dan N2O, CH4 memiliki umur atmosfer yang relatif pendek dan tidak terakumulasi di atmosfer dalam jangka panjang. Artinya, metana di atmosfer berbanding lurus dengan tingkat emisi selama dekade terakhir.

Jika emisi stabil, CH4 atmosfer juga akan stabil. Dengan kata lain, kenaikan emisi dipicu oleh metana. Sementara jika CO2 dan N2O stabil, konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer akan naik. Tahun 2020, tiga gas rumah kaca ini naik bersamaan.

Rata-rata suhu permukaan bumi 1970-2020.

Meskipun ada beberapa komplikasi seputar perubahan kemampuan atmosfer dalam menghilangkan metana dari waktu ke waktu melalui interaksi dengan molekul OH, kenaikan jumlah gas ini signifikan sehingga emisi global juga naik. Metana adalah residu aktivitas manusia, terutama dari peternakan dan konsumsi protein yang berlebihan.

Efek panas global juga terlihat dari es laut Arktik di kutub Utara yang mencatat jumlah paling rendah sepanjang 2020 dibanding periode-periode satu dekade sejak 1970. Rekor terendah es Arktik terjadi pada Oktober.

Menurut analisis Carbon Brief, suhu bumi kemungkinan akan turun menjelang Desember karena la Nina terjadi mulai menyeluruh di permukaan bumi. Namun, efek pendinginan suhu bumi itu baru terasa tiga bulan ke depan karena dampak pendinginan lebih lambat dibanding efek pemanasan yang disebabkan el Nino. “Jadi kemungkinan tahun depan bumi lebih dingin,” demikian analisis Carbon Brief. 

Konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

Data-data suhu tersebut menandakan bahwa pemanasan global akibat ulah manusia begitu nyata. Target penurunan emisi oleh negara anggota PBB kian mendapat tantangan berat, sekaligus memerlukan keseriusan jika umat manusia berkomitmen mencegah suhu naik 1,50 Celsius pada 2030.

Indonesia turut dalam komitmen global itu dengan target menurunkan emisi 834 juta ton setara CO2 atau 29% pada 2030. Target ini mendapatkan tantangan berat karena pemerintah telah mengesahkan Undang-Undang Cipta Kerja untuk mendorong ekonomi dalam menyerap 2,2 juta angkatan kerja baru per tahun (simak analisis UU Cipta Kerja di sini).

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain