Untuk bumi yang lestari

Surat dari Darmaga|01 November 2020

Bersiap Menghadapi La Nina

Bumi menghadapi fenomena iklim la Niña, kemarau basah di beberapa tempat, kekeringan di tempat lain. Bagaimana menghadapinya?

EL Niño-Southern Oscillation (ENSO) menjadi fenomena iklim paling penting di bumi karena kekuatannya mengubah sirkulasi atmosfer secara global, yang mempengaruhi suhu dan curah hujan di dunia. Memahami ENSO akan membantu kita memprediksi musim, mengantisipasi dampaknya, dan menyiapkan strategi untuk adaptasinya. 

Tiga tahap penting ENSO adalah: el Niño, yang berasosiasi dengan panas lama dan curah hujan sedikit; ENSO-netral, ketika kondisi cenderung mendekati normal; dan la Niña, yang berasosiasi dengan lembap panjang dan curah hujan tinggi, yang dikenal dengan “kemarau basah” seperti yang tengah terjadi sekarang.

Dari ketiga tahap ENSO itu, kita mungkin lebih mengenal el Niño karena paling banyak diteliti. Pencarian lewat Google scholar dengan kata kunci: “el nino” forest impact memunculkan 18.600 lema. Sementara kata kunci “la nina” forest impact hanya 9.550 hasil.

Dampak kekeringan panjang terhadap produksi pertanian yang dipicu el Niño menjadi kekhawatiran global karena mengancam keamanan pangan dunia, seperti diteliti oleh Anderson dkk (2017) di Amerika Selatan dan Utara, serta Murniati dan Mutolib (2020) di Indonesia. Satu contoh untuk konteks hutan Indonesia, Chapman dkk (2020) dalam Compounding Impact of Deforestation on Borneo’s Climate During El Niño Events meneliti hubungan antara el Niño dan deforestasi di Kalimantan. Panas dan kering menaikkan risiko kematian pohon dan sifat mudah terbakar (flammability).

La Niña, yang berarti “si gadis kecil” dalam bahasa Spanyol, baru muncul atau dikenal lebih belakangan dibandingkan dengan el Niño. Ini bisa dilihat dari istilah El Niño-Southern Oscillation (ENSO), yang tidak memasukkan istilah la Niña. Dalam sejarahnya, sebelum ENSO menjadi fenomena yang dipelajari secara luas, para nelayan di Amerika Selatan telah mengenali perubahan suhu di permukaan laut menjelang Natal, yang berpengaruh pada jumlah tangkapan ikan mereka.

Situasi ini kemudian mereka kenal dengan sebutan el Niño, yang berarti “anak laki-laki kecil”. Jacob Bjerknes adalah ilmuwan pertama yang menjelaskan secara ilmiah fenomena ENSO sekaligus memperkenalkan istilah ini pada 1960-an. Peran penting tahapan la Nina dan ENSO-netral baru mendapatkan perhatian luas pada 1980-an.

Beberapa hari lalu, laman berita BBC mengingatkan kembali dampak la Niña yang datang di penghujung 2020 sampai awal 2021 secara global. Tanda la Niña adalah angin kencang yang meniup permukaan laut Pasifik yang hangat dari Amerika Selatan menuju Indonesia, yang menyebabkan air dingin dari kedalaman laut naik ke permukaan.

Peristiwa ini menghasilkan kejadian iklim berbeda-beda di berbagai belahan dunia. La Niña menyebabkan hujan lebih lebat di Indonesia dan Australia, dan monsoon lebih aktif di Asia Tenggara. Jika di beberapa negara el Niño membahayakan keamanan pangan karena gagal panen akibat kekeringan panjang, la Niña diterima lebih positif karena meningkatkan hasil panen dan peternakan. 

Badan Pangan PBB (FAO) juga mengingatkan dampak negatif la Niña bagi keamanan pangan, yaitu terkait potensi banjir serta penyebaran hama dan penyakit tanaman. Seperti sering muncul di pemberitaan tanah air akhir-akhir ini, tingginya curah hujan juga menaikkan risiko bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Di Amerika Utara, kami mulai bersiap menghadapi musim dingin yang lebih basah dan ekstrem dari biasanya, juga badai salju yang kemungkinan lebih sering. Namun la Niña membawa udara lebih kering di sisi timur Afrika, wilayah pantai Barat Amerika Selatan dan wilayah Pantai Teluk dan sisi selatan negara Amerika Serikat. La Niña tidak terlalu berdampak di negara-negara Eropa.

Di Australia, Letnic dkk (2005) menulis bahwa meski curah hujan tinggi berdampak positif pada pertumbuhan tajuk dan pohon ketika terjadi la Niña, menumpuknya serasah hutan juga memunculkan risiko kebakaran yang tinggi ketika musim kering kembali datang. Di Indonesia la Niña juga berdampak pada produksi garam rakyat, dan karenanya juga berpengaruh pada penghidupan dan kesejahteraan para petani garam. Menurunnya produksi garam karena faktor cuaca telah memaksa Kementerian Kelautan dan Perikanan merevisi target produksi garam nasional dari 2,5 juta ton menjadi 1,5 juta ton.

Di Peru, la Niña umumnya identik dengan kondisi perikanan komersial yang menguntungkan. Nelayan melaporkan jumlah tangkapan naik karena ikan lebih banyak muncul ke permukaan, karena nutrisi dan plankton sebagai makanan mereka terbawa ke permukaan laut oleh angin kencang.

Menurut laporan BBC, meski la Niña mendinginkan bumi, tidak berarti suhu pada penghujung 2020 akan menjadi lebih adem. Panas yang telah terperangkap dalam atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca tetap lebih mendominasi.

Lalu apa yang bisa kita lakukan dalam menghadapi ‘si gadis kecil’ ini? 

Badan Pangan PBB mengingatkan agar tiap negara bersiap membuat strategi mencegah kerawanan pangan. Kementerian Pertanian Indonesia menyiapkan tujuh strategi, termasuk sistem peringatan dini dan perbaikan infrastruktur pertanian. BNPB juga terus mendorong kesiapsiagaan menghadapi bencana terkait la Niña di berbagai tingkat, baik nasional, provinsi, kecamatan, desa, sampai ke tingkat keluarga.

Lagi-lagi pohon bisa menjadi senjata ampuh, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam menghadapi iklim ekstrem, saat la Niña maupun el Niño. Pohon berperan penting mengatur kondisi hidrologis tanah dan meningkatkan daya simpan air tanah, yang semakin dibutuhkan seiring dengan peningkatan jumlah curah hujan.

Tutupan tajuk pohon yang rapat juga membantu mengurangi laju presipitasi yang menyentuh tanah, sehingga mengurangi risiko longsor. Pohon juga menjadi tempat berlindung bagi sejumlah satwa liar ketika terjadi bencana banjir.

Hutan dan pohon menempati dua sisi dalam fenomena iklim ekstrem. Mereka terdampak olehnya, sekaligus menjadi bagian mitigasi dan adaptasi perubahannya.

Rimbawan tinggal di Kanada. Menyelesaikan pendidikan doktoral dari University of Natural Resources and Life Sciences Wina, Austria, dengan disertasi dampak desentralisasi terhadap tata kelola hutan di Jawa

Bagikan

Komentar

Artikel Lain