Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|15 September 2021

Krisis Iklim Membuat Anak Muda Cemas Punya Anak

Studi mengejutkan baru saja dirilis: 4 dari 10 anak muda cemas punya anak akibat krisis iklim. Mempengaruhi kesehatan mental.

SEBUAH jajak pendapat di sepuluh negara yang melibatkan 10.000 responden mendapatkan persepsi mengejutkan dari anak muda usia 16-25 tahun. Survei pada 18 Mei-7 Juni 2021 itu mengukur respons emosional terhadap dampak krisis iklim. Salah satu temuannya, 4 dari 10 anak muda cemas atau ragu punya anak karena krisis iklim membuat masa depan jadi tak menentu.

Secara global, dalam studi di jurnal Lancet yang terbit pada 14 September 2021, hampir 60% responden sangat khawatir akan dampak krisis iklim. Jumlah yang sama juga menyebutkan bahwa pemerintah tak melindungi masa depan generasi mereka. Anak-anak muda ini bahkan merasa generasi tua telah mengkhianati mereka. 

Tentu saja karena krisis iklim terjadi akibat produksi emisi selama tiga abad sejak Revolusi Industri. Hasrat mencapai kemajuan dan peradaban membuat setiap negara menggenjot ekonomi dan mengeksploitasi bumi.

Sebanyak tiga perempat responden setuju dengan pernyataan "masa depan menakutkan", dan lebih dari setengahnya merasa mereka akan memiliki lebih sedikit kesempatan daripada orang tua mereka. Hampir setengahnya melaporkan merasa tertekan atau cemas tentang iklim dengan cara yang memengaruhi kehidupan dan fungsi sehari-hari mereka.

Studi yang didanai oleh organisasi kampanye Avaaz ini merekam pendapat anak muda secara online di Australia, Brazil, Finlandia, Prancis, India, Nigeria, Filipina, Portugal, Inggris, dan Amerika Serikat. Itu dibayar oleh organisasi kampanye Avaaz.

Mitzi Tan, dari Filipina, mengatakan bahwa takut tenggelam di kamar tidurnya sendiri jika memikirkan dampak krisis iklim. Orang-orang dekatnya sampai menyarankan ia ikut meditasi atau program penyembuhan perasaan cemas. “Untuk mengatasi kecemasan iklim kita, kita membutuhkan keadilan,” kata gadis 23 tahun ini seperti dikutip Guardian. 

Soal kekhawatiran memiliki anak akibat masa depan tak menentu diungkapkan Luisa Nuebauer. Ia aktivis iklim berusia 25 tahun dari Jerman. Seperti umumnya anak-anak muda Eropa, Luisa berhasil menggerakkan anak muda di bawahnya untuk mogok sekolah dan mendorong pengadilan memaksa pemerintah Jerman mengevaluasi kebijakan iklimnya.

Dia mengatakan kepada Guardian bahwa ia bertemu banyak gadis muda yang bertanya apakah masih boleh memiliki anak. “Ini pertanyaan sederhana, namun menceritakan banyak hal tentang realitas iklim yang kita jalani. Kami kaum muda menyadari bahwa mengkhawatirkan krisis iklim saja tidak akan menghentikannya. Jadi kami mengubah kecemasan individu kami menjadi tindakan kolektif. Dan sekarang, kami berjuang di mana-mana: di jalanan, di pengadilan, di dalam dan di luar institusi di seluruh dunia. Namun pemerintah masih mengecewakan kita, karena emisi meningkat terus naik,” katanya.

Awal bulan ini, Unicef ​​menemukan bahwa anak-anak dan remaja di seluruh dunia menanggung beban terberat dari krisis iklim, dengan 1 miliar anak berada pada “risiko ekstrem” dari dampak kerusakan iklim.

Studi berjudul Suara Kecemasan Anak Muda Terhadap Iklim, Pengkhianatan Pemerintah, dan Cedera Moral: Fenomena Global, dirilis sebelum dipublikasikan, saat sedang dalam proses tinjauan sejawat, oleh jurnal ilmiah Lancet Planetary Health. Hasil survei dianalisis oleh tujuh institusi akademik di Inggris, Eropa dan Amerika Serikat, termasuk University of Bath, University of East Anglia, dan Oxford Health NHS Foundation Trust.

Persepsi krisis iklim di mata anak muda

Caroline Hickman dari University of Bath, Climate Psychology Alliance, salah satu penulis utama studi ini, mengatakan bahwa hasil survei ini menunjukkan gambaran mengerikan tentang kecemasan iklim yang meluas pada anak-anak dan remaja. Menurut dia, respons emisi ini juga menggambarkan tekanan psikologis anak muda terkait krisis iklim akibat kelambanan pemerintah.

“Kecemasan anak-anak kita adalah reaksi yang sepenuhnya rasional mengingat tanggapan yang tidak memadai terhadap perubahan iklim yang mereka lihat dari pemerintah. Apa lagi yang perlu didengar pemerintah untuk mengambil tindakan?” katanya.

Francois Hollande, yang menjadi Presiden Prancis ketika Kesepakatan Paris tentang mitigasi iklim dibuat pada 2015, mendesak pertemuan pemerintah pada Oktober-November di Glasgow memperhatikan studi ini. “Enam tahun setelah perjanjian Paris,” katanya. “kita harus membuka mata kita bahwa dampak krisis iklim tak hanya kepada planet ini, juga terhadap kesehatan mental kaum muda kita,” kata dia seperti dikutip Guardian.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain