Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|30 Juni 2021

Gelombang Panas Melanda Kanada

Kanada dan sebagian Amerika Barat mengalami panas ekstrem pada 28 Juni 2021. Perubahan iklim mencetak rekor suhu baru.

OTTAWA gerah dan panas dalam dua hari terakhir. Burung-burung yang biasanya ramai datang bertengger ke pohon-pohon depan rumah kami, tak satu pun yang terlihat.

Pemerintah Kanada berulang kali mengingatkan melalui saluran televisi, media sosial, dan aplikasi “Weather Canada” agar masyarakat tak keluar rumah dan meninggalkan binatang peliharaan di luar rumah.

Kanada dan bagian barat Amerika sedang dilanda gelombang panas. Prediksi World Meteorological Organization pada Mei lalu yang memperkirakan gelombang panas akan melanda belahan bumi utara terbukti. Provinsi British Columbia di Kanada mencatat rekor suhu baru sebesar 46,60 Celsius pada 28 Juni 2021, melampaui suhu terpanas pada 1937 sebesar 45C. 

Para ahli mengatakan perubahan iklim telah membuat suhu ekstrem datang lebih cepat. Di Kanada, prediksi-prediksi ahli menyebutkan gelombang panas akan datang pada Juli dengan melihat pergerakan kenaikan suhu di laut Arktik.

Di Ottawa, suhu panas maksimal 35C. Tapi panas rasanya tembus 40C. Pengatur suhu ruangan serasa tak berfungsi menghalau gelombang panas di udara terbuka maupun di dalam rumah. Untuk mengusirnya kami membuka jendela sejak subuh pukul 3 sebelum matahari muncul.

Bagi orang Kanada yang terbiasa dengan udara minus 35C, suhu plus 35C menjadi siksaan. Apalagi, menurut pengumuman pemerintah, butuh dua pekan agar tubuh kita beradaptasi dengan suhu baru. Banyak imbauan agar mereka yang sehat lebih awas terhadap anak-anak dan orang tua. 

Saluran televisi CBC melaporkan orang-orang tua di rumah perawatan mengalami kesulitan akibat suhu panas, seperti dehidrasi, kelelahan berlebihan, dan serangan panas. Catherine Brahic, penulis lingkungan The Economist, menyebut perubahan iklim sebagai “pembunuh senyap”. Apalagi, tak semua fasilitas rumah perawatan dilengkapi pendingin ruangan.

Meski begitu, konsumsi listrik pada Ahad lalu melonjak tajam. Menurut media lokal Kanada, konsumsi listrik pada hari itu mencapai 8.300 megawatt. Dalam keadaan normal, konsumsi listrik satu rumah di Kanada sekitar 7 megawatt jam setahun. Sementara 1 pembangkit listrik kapasitas 1 megawatt menghasilkan listrik 8.765 megawatt jam setahun.

Setelah 1937, tak pernah ada lagi gelombang panas seekstrem sekarang. Karena itu bagi orang Kanada, A/C sebetulnya tak terlalu familier. Gedung-gedung perkantoran yang menjulang biasanya tak dilengkapi dengan A/C. Pemerintah Kanada sampai menyarankan merendam kaki di air dingin untuk menstabilkan suhu badan bagi mereka yang tak punya pendingin ruangan.

Di kutub Utara, suhu lebih abnormal lagi. Di Saskylah, suhu permukaan tanah mencapai 39C, rekor baru sejak 1936. Satelit juga merekam kenaikan suhu udara yang mencapai 48C di Verkhojansk, Republik Sakha. Akibatnya selama Mei-Juni 2021, muncul 64 titik api di beberapa hutan.

Kutub utara menjadi indikator perubahan iklim. Dalam laporan Mei lalu, WMO memperkirakan gelombang suhu panas akan berlangsung hingga akhir Juni dan berdampak pada ekosistem bumi. Laporan tersebut bahkan memprediksi kerusakan akibat pemanasan global ini membuat ekosistem “tidak bisa kembali ke keadaan semula”.

Tren suhu panas ini berlanjut sejak 2020. Pandemi virus corona yang mengurangi emisi global sebanyak 5% dari produksi tahunan sebanyak 51 miliar ton setara CO2, tak mampu mencegah laju kenaikan suhu bumi. Tahun 2020 menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah dengan kenaikan 1,1C dibanding suhu praindustri 1800-1850.

Suhu masa praindustri menjadi patokan mengukur pemanasan global. Seratus tahun sejak Revolusi Industri 1750, suhu bumi pelan-pelan naik akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Gas rumah kaca merupakan akibat pembakaran energi fosil—gas, minyak, batu bara—yang melonjak sejak dunia memakai mesin untuk memproduksi barang.

Untuk mencegah bumi terpanggang, sebanyak 197 pihak berjanji menurunkan produksi emisi hingga 45% pada 2030. Janji yang tertuang dalam Kesepakatan Iklim Paris 2015 itu sudah mulai berjalan sejak 2020. 

William Nordhaus, pemenang Novel ekonomi 2018 yang membuat model dan rumus ekonomi perubahan iklim, memprediksi bumi tak akan mampu menanggung dampak akibat pemanasan global jika suhu melewati 1,5C dari masa praindustri pada 2050.

Menurut Kesepakatan Paris, dunia harus mencapai nol emisi bersih pada 2050. Nol-bersih emisi adalah keadaan ketika produksi emisi bisa diserap seluruhnya di bumi. Sehingga gas rumah kaca tak sempat naik ke atmosfer untuk menyebabkan pemanasan global. Caranya, menurunkan produksi emisi dengan beralih ke energi terbarukan, meluaskan hutan dengan cara mencegah deforestasi dan degradasi lahan.

Para ahli dan prediksi-prediksi permodelan matematika menyebutkan bahwa produksi emisi akan meleset pada 2050. Jika semua negara tak mematuhi target penurunan emisi sesuai Kesepakatan Paris 2015, alih-alih turun produksi emisi karbon pada 2050 akan melonjak hingga 64 miliar ton per tahun. Akibatnya, suhu diperkirakan naik 2-3C pada tahun tersebut.

Gejalanya sudah terlihat hari ini. Gelombang panas di Kanada dan kutub utara menjadi bukti perubahan iklim begitu nyata. Semalam, ketika saya menulis artikel ini, gerimis turun di Ottawa. Meski tak banyak suhu mulai adem. Tapi anomali ini mungkin akan berlanjut jika tren penurunan emisi karbon global tak dilakukan secara serius.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Rimbawan tinggal di Kanada. Menyelesaikan pendidikan doktoral dari University of Natural Resources and Life Sciences Wina, Austria, dengan disertasi dampak desentralisasi terhadap tata kelola hutan di Jawa

Bagikan

Komentar

Artikel Lain