Untuk bumi yang lestari

Surat dari Darmaga|06 Juni 2021

Restorasi Ekosistem di Halaman Rumah

Berkebun di halaman rumah juga bisa menjadi bagian dari restorasi ekosistem. Tema Hari Lingkungan Hidup 2021 dari PBB.

PBB meluncurkan UN Decade on Ecosystem Restoration, atau restorasi ekosistem sebagai tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2021.

Seruan untuk perlindungan dan kebangkitan ekosistem selama 2021-2030 ini bertujuan menghentikan degradasi ekosistem, dan memulihkannya untuk mencapai tujuan global. Menurut PBB, hanya dengan ekosistem yang sehat kita bisa meningkatkan penghidupan masyarakat, menangkal perubahan iklim, dan menghentikan runtuhnya keanekaragaman hayati.

Restorasi ekosistem adalah upaya mencegah, menghentikan dan memperbaiki ekosistem yang sebelumnya telah terganggu atau rusak. Layaknya orang sakit yang terganggu salah satu fungsi organ tubuhnya, tindakan pemulihan yang tepat waktu penting untuk memastikan berfungsinya kembali organ tersebut untuk kelangsungan orang itu. 

Data FAO dan UNEP tahun 2020 menyebutkan bahwa setiap tahun dunia kehilangan 10 juta hektare hutan—kurang lebih sama dengan luas Korea. Laporan IPBES juga menyoroti bahwa kerusakan ekosistem telah berdampak pada kesejahteraan hidup setidaknya 3,2 miliar orang, atau 40% dari populasi dunia.

Sebaliknya, memulihkan 15% lahan yang dikonversi ke fungsi semestinya bisa mencegah 60% kemungkinan kepunahan spesies. Smith dkk menunjukkan bahwa kegiatan pemulihan melalui agroforestri saja memiliki potensi meningkatkan keamanan pangan bagi 1,3 miliar penduduk dunia. Karenanya, PBB menyerukan perhatian dan sumber daya global dalam satu dekade ke depan akan berfokus pada upaya memperbaiki dan menyehatkan ekosistem yang sudah telanjur rusak.

Ekosistem bisa berupa suatu tempat dalam luasan sangat besar, seperti hutan. Bisa juga relatif kecil seperti sungai. Sekilas terkesan bahwa restorasi ekosistem ini urusan yang ‘tidak terlalu terkait’ dengan kehidupan orang kota.

UNEP menggarisbawahi delapan lanskap yang penting untuk restorasi ekosistem: hutan, danau dan sungai, pegunungan, padang rumput dan sabana, laut dan pesisir, lahan gambut, lahan pertanian, dan wilayah perkotaan. Layaknya suatu padang pasir ekologis, lanskap perkotaan dipenuhi gedung dan bangunan sehingga memiliki ruang yang sempit untuk vegetasi—yang dibutuhkan manusia, walaupun terkadang kurang disadari.

Banyak studi menunjukkan pandemi telah mendekatkan kembali kehidupan masyarakat perkotaan dengan alam. Di Amerika, setelah pandemi aktivitas luar ruangan yang meningkat adalah mengamati satwa liar (naik 64%), berkebun (naik 57%), dan fotografi atau kegiatan seni di alam (naik 54%).

Berkebun menjadi kegiatan yang popular bagi warga kota karena terkait dengan penurunan depresi, kecemasan, serta peningkatan kepuasan hidup, kualitas hidup, dan rasa kebersamaan. Berkebun berkontribusi pada konservasi keanekaragaman hayati perlahan-lahan pun mendapatkan daya tarik.

Di Kanada, pada peringatan hari hidupan liar tahun ini, alih-alih menyoroti hidupan liar di habitat alaminya, para pegiat konservasi dan pemerintah gencar mempromosikan upaya mendukung hidupan liar yang dimulai dari halaman kita sendiri: wildlife gardening—berkebun yang peka terhadap hidupan liar. Semacam berkebun dengan nilai tambah. Seperti apakah praktiknya?

Wildlife gardening bisa dipraktikkan pada berbagai skala. Prinsipnya, selain estetika dan manfaat langsung bagi menusia, para praktisi berkebun juga mempertimbangkan dampak praktik berkebunnya bagi kesehatan ekosistem dan hidupan liar. Ini merentang dari proses penyiapan kebun atau taman, pemilihan jenis tanaman dan cara perawatannya.

Praktisi berkebun perlu memahami ekoregion mereka untuk kesesuaian pemilihan jenis tanaman dengan geologi tanah, curah hujan, suhu dan pencahayaan. Sangat penting menghindari jenis invasif dan memilih jenis-jenis natif atau yang adaptif secara lokal. Sebab, ini akan mengurangi perlunya perlakuan modifikasi tanah, mengeliminasi penggunaan pupuk atau pestisida yang tidak ramah lingkungan, sekaligus menghemat biaya.

Jenis-jenis native biasanya juga merupakan landasan untuk keragaman hayati, yang mendukung kehadiran polinator penting, seperti lebah, kupu-kupu dan berbagai jenis burung. Selain itu, menanam jenis natif juga bisa melestarikan karakter alam lokal di suatu tempat, yang bisa menjadi kebanggaan daerah.

Praktisi berkebun juga perlu memastikan ketersediaan pangan, air dan ruang hidup bagi hidupan liar yang bermanfaat bagi manusia dan kebun. Sumber pangan yang beragam dapat tersedia melalui keragaman jenis dan ukuran tanaman, yang menghasilkan lanskap berupa lapisan vegetasi. Ruang untuk beristirahat dan berkembang biak bagi hidupan liar juga penting, misalnya pohon yang rimbun yang dibutuhkan burung-burung migran untuk beristirahat sejenak.

Singkatnya, halaman rumah yang bersahabat dengan hidupan liar akan menopang kesehatan tanah dan ekosistem sekaligus bernilai estetika. Namun, tidak semua hidupan liar bermanfaat langsung bagi warga kota.

Berkebun menjadi kegiatan menyenangkan yang bisa menumbuhkan imun tubuh dan merawat ekosistem (Foto: Wiene Andriyana)

Beberapa hidupan liar juga berpotensi merusak kebun dan menjadi “musuh”. Karenanya, praktisi wildlife gardening tetap perlu memahami karakter binatang-binatang perusak dan sedapat mungkin menerapkan strategi pengelolaan hidupan liar di kebun dan hama yang terpadu, dengan cara yang tetap ramah lingkungan.

Contohnya bisa kita lihat pada panduan lengkap berkebun dan pengelolaan hama dan hidupan liar  yang dikeluarkan oleh salah satu pemerintah provinsi di Kanada ini.

Dengan segala tantangannya, wildlife gardening berpeluang menjadi neksus untuk membangun relasi sosial-ekologis masyarakat perkotaan, sekaligus memupuk ekofilia yang menjadi langkah awal untuk memahami konservasi. Kabar baiknya, ‘virus’ berkebun terbukti menjadi sesuatu yang menular secara positif di tengah segala kerusakan yang disebabkan oleh virus pandemi.

Pada akhirnya restorasi ekosistem tidak hanya bisa kita maknai sebagai aksi besar untuk memulihkan ekosistem dari puncak gunung sampai ke dalamnya lautan. Aksi-aksi kecil dalam keseharian manusia pun dapat berkontribusi untuk pemulihan ekosistem terdekatnya. We can build back better—kita bisa bangun kembali ekosistem dengan lebih baik.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Rimbawan tinggal di Kanada. Menyelesaikan pendidikan doktoral dari University of Natural Resources and Life Sciences Wina, Austria, dengan disertasi dampak desentralisasi terhadap tata kelola hutan di Jawa

Bagikan

Komentar

Artikel Lain