Untuk bumi yang lestari

Surat dari Darmaga|07 Februari 2021

Manfaat Lebah Bagi Jantung Manusia

Lebah dan serangga adalah jantung bumi. Tanpa lebah pohon tak akan hidup, manusia tak bisa bernapas.

FILM Bee Movie, animasi yang populer tahun 2007, berkisah tentang sekawanan lebah yang berperan sebagai polinator. Dalam film ini tergambar bahwa dunia akan menjadi kusam tanpa peran para lebah karena tak ada bunga dan tanaman yang tumbuh. 

Hubungan lebah dan bunga menghasilkan madu, yang menjadi penguat daya tahan tubuh jika kita mengonsumsinya. Tapi peran lebah lebih dari sekadar madu. Mereka bekerja secara tak terlihat dalam menyeimbangkan ekosistem. 

Lebah berperan dalam reproduksi tumbuhan. Tak seperti manusia atau binatang, pohon dan tanaman membutuhkan agen lain untuk berkembang biak. Kita menyebutnya proses polinasi atau penyerbukan.

Polinasi adalah berpindahnya dan bertemunya serbuk sari (pollen) dari bagian bunga jantan ke bagian bunga betina (kepala putik). Reproduksi tumbuhan terjadi ketika agen polinasinya, para lebah itu, menyesap nektar dari bunga satu ke bunga lain. Meski bisa juga reproduksi tumbuhan melalui angin dan air, lebah dan sekitar 1.500 jenis vertebrata—termasuk burung dan kelelawar—menjadi agen polinator paling andal.

Keragaman hutan menjadi daya tarik para polinator untuk bertahan hidup. Karena itu hutan yang monokultur membuat polinator musnah. Kemusnahan serangga dan lebah menunjukkan ekosistem tak seimbang. Ketika ekosistem tak seimbang bumi menjadi rentan karena pertahanannya menjadi rapuh.

Memang, tidak semua tumbuhan membutuhkan polinator. Penelitian Badan Pangan PBB (FAO) baru-baru ini melaporkan secara global terdapat hanya sekitar 87,5% (94% di daerah tropis dan 78% di daerah beriklim sedang) penyerbukan tanaman berbunga liar terbantu oleh binatang. Selain itu, ada lebih dari 70% komoditas pangan global bergantung pada polinator untuk berproduksi dan meningkatkan kualitas hidupnya.

Maka ketika sebuah ekosistem kian seragam, kualitas pangan lebah juga menyusut karena kandungan protein dan nutrisi menjadi berkurang. Sebuah studi di Jawa Barat menunjukkan naiknya tutupan pohon melalui teknik agroforestri (memadukan tanaman kayu dan pertanian), meningkatkan sampai 93% jumlah polinator. Kenaikan itu membuat kualitas produk pertanian juga meningkat. Hama juga berkurang.

Tidak hanya berjasa bagi kesehatan ekosistem hutan, polinator secara tidak langsung juga penting bagi kehidupan manusia. Pada beberapa hutan, khususnya di tropis, hasil hutan bukan kayu seperti kacang, karet, dan buah-buahan menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar hutan yang bergantung pada hewan polinator dalam reproduksi pohon-pohon penghasil produk non-kayu tersebut.

Sebuah studi di India mendapatkan data sebanyak 40% dari 139 jenis-jenis pohon yang penting bagi masyarakat di sana bergantung pada polinasi biotik oleh lebah dan serangga. Tanaman acai palm yang menjadi tumpuan pendapatan 25.000 penduduk di delta Sungai Amazon di Brasil siklus hidupnya amat tergantung pada pelbagai jenis polinator. Nilai perdagangan tahunan acai palm mencapai US$ 149 juta.

Masalahnya, tekanan antropogenik membuat jumlah polinator semakin menurun. Degradasi dan fragmentasi habitat, juga perubahan iklim, paling berdampak pada kemampuan regenerasi alamiah hutan. Praktik-praktik pertanian yang tidak berkelanjutan, termasuk pemakaian bahan-bahan kimia yang tidak terkontrol, memicu kepunahan hewan-hewan polinasi.

Studi Trees for Bees menunjukkan bahwa penurunan jumlah polinator akan secara serius mengancam keamanan pangan. Mungkin ancaman ini tidak serta merta terlihat dalam jangka pendek sehingga kita tak menyadarinya. 

Seorang yang sadar betapa penting peran lebah adalah aktor Morgan Freeman. Ia membiarkan rancanya seluas 51 hektare di Mississippi menjadi rumah baru lebah yang ia boyong dari Arkansas. Ia cemas ketika membaca laporan Science yang menyebut jumlah lebah menyusut dalam 50 tahun terakhir akibat pemakaian pestisida yang masif untuk menyuburkan lahan pertanian dan membasmi hama.

Lebah musim semi di Ottawa, Kanada. Jantung bumi (Foto: Wiene Andriyana)

Menurut ahli Biologi E.O Wilson, lebah dan serangga serta hewan polinator adalah jantung bumi. Tanpa mereka bumi akan berhenti berputar dan bernapas. Tapi seperti jantung, kita acap tak menyadari perannya bagi hidup kita sehari-hari.

Biasanya, kita baru sadar betapa mahal kerja jantung ketika organnya melemah dan kita susah bernapas. Pada keadaan itu kita baru akan menyesal tak memelihara jantung sebagai organ utama kita hidup sejak awal.

Jangan sampai kita menyesal dan baru sadar kita membutuhkan lebah dan serangga ketika segala dampak krisis iklim semakin nyata di depan mata kita. Cara terbaik mengabadikan lebah untuk menjaga bumi adalah menyediakan rumah bagi mereka, yakni dengan membangun hutan berkembang dengan keragaman alamiahnya.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Rimbawan tinggal di Kanada. Menyelesaikan pendidikan doktoral dari University of Natural Resources and Life Sciences Wina, Austria, dengan disertasi dampak desentralisasi terhadap tata kelola hutan di Jawa

Bagikan

Komentar

Artikel Lain