Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|06 Februari 2021

Krisis Iklim Kian Mendekat

IPCC merilis proyeksi baru kenaikan muka air laut hingga 2100 akibat krisis iklim. Permukaan air laut akibat pemanasan global akan naik 43 sentimeter.

KONSERVASI laut yang masif bahkan tak akan efektif jika suhu bumi naik 1,50 Celsius dibanding masa praindustri 1850-1900. Ini kesimpulan laporan terbaru Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), lembaga PBB yang menghimpun para ahli yang memantau perubahan ikilm. Dalam laporan itu, para ahli dari 197 negara memprediksi muka air laut bakal naik 43-84 sentimeter pada 2100. 

Laporan tersebut berjudul IPCC Special Report on Ocean and Cryosphere in a Changing Climate (SROCC). Cryosphere adalah wilayah di bumi yang tertutup es. Laporan ini khusus menyorot perubahan-perubahan di wilayah tersebut akibat krisis iklim.

Menurut para ahli IPCC, laut dan wilayah dingin menjadi parameter krusial dalam memprediksi perubahan bumi akibat krisis iklim. Tak hanya kepada bumi, manusia dan seluruh mahluk hidup akan menanggung dampak krisis iklim yang dahsyat, melalui pelbagai bencana.

Saat ini, dari 7,8 miliar manusia sebanyak 28% tinggal dan hidup di wilayah pantai. Dari jumlah itu sebanyak 11% hidup di daratan dengan ketinggian kurang dari 10 meter dari permukaan laut.

Jika lapisan es mencair di kutub utara karena pemanasan bumi, hidup masyarakat pesisir akan sengsara. Tak hanya tempat tinggalnya akan kena rob, mereka juga akan kehilangan mata pencarian karena suhu yang naik membuat kematian massal biota laut, selain memunculkan pelbagai virus ganas.

Suhu bumi naik akibat konsentrasi enam jenis gas rumah kaca di atmosfer melonjak dua kali lipat sejak manusia memasuki zaman industri mulai 1750. Tahun yang ditandai penemuan mesin uap itu merupakan tahun pertama kali manusia menghidupkan mesin memakai energi fosil. 

Sejak tahun itu, energi dicari dengan mengeruk perut bumi untuk mendapatkan minyak, gas, batu bara, dan panas bumi. Akibatnya, hutan diokupasi, dibabat, dan dikeruk mineralnya. Pemakaian energi fosil membuat hasil pembakarannya membumbung ke atmosfer dan mengurung selubung bumi hingga tak sanggup lagi menyerap panas matahari.

Panas matahari yang dibutuhkan bumi dan mahluk hidup untuk fotosintesis dan kecukupan zat-zat yang berguna untuk bertahan hidup memantul kembali ke atmosfer. Ketika konsentrasi gas rumah kaca di sana makin tebal, panas itu tak terserap dan memantul kembali ke bumi. Kita menyebutnya efek gas rumah kaca.

Di atmosfer, emisi diukur memakai satuan part per million. Pada 1750, dan sepuluh ribu tahun sebelumnya, jumlah gas rumah kaca di sana hanya 228 ppm. Pada 2020, jumlahnya naik hampir dua kali lipat sebanyak 414,5 ppm. Konsentrasi gas rumah kaca sebanyak itu membuat suhu bumi naik 1,20 Celsius. Dengan kenaikan suhu ini es yang mencair sebanyak 29 miliar ton per tahun.

Kenaikan suhu itu dipicu oleh produksi emisi akibat pembakaran energi fosil, transportasi, dan deforestasi. Tahun 2018 mencapai rekor tertinggi produksi emisi sebanyak 55,3 miliar ton. Padahal untuk menahan kenaikan suhu bumi tak melewati 2C, puncak pemanasan global, produksi emisi harus ditekan paling tidak 30 miliar ton setahun.

Para ahli di IPCC memprediksi suhu bumi tembus 2C jika konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer mencapai 500 ppm. Jika tak ada pencegahan serius dalam menekan emisi, kenaikan suhu sebanyak itu akan dicapai pada 2100. Ahli lain bahkan lebih pesimis karena kenaikan suhu kemungkinan akan mencapai batas itu hanya dalam waktu 40 tahun.

Kenaikan suhu 2C menjadi standar untuk menyebut puncak pemanasan global. Suhu rata-rata bumi akan mencapai 140Celsius. Dengan kenaikan 1,2C saja, Kota Verkhoyansk di Siberia, Kutub Utara, mencapai 38C. Jika suhu naik 2C, pelbagai bencana akan menerpa bumi dan tak bisa ditanggungkan manusia.

Termasuk pandemi. Flu Spanyol pada 1918, pandemi terparah yang menewaskan hampir 100 juta orang, dimulai dari melonjaknya emisi di atmosfer yang membuat suhu laut Polandia memanas. Kenaikan suhu membuat tiram yang menjadi makanan burung menjadi sakit. Virus yang berpindah ke burung menyebar ke seluruh dunia ketika mereka bermigrasi.

Pandemi virus corona yang tengah berlangsung hari ini dimulai dari pasar hewan Wuhan yang diyakini bermula dari pasar makanan laut Huanan. Pandemi-pandemi lain juga bermula dari kematian massal hewan laut akibat virus yang muncul karena biota laut tak sanggup beradaptasi dengan suhu yang naik.

Pelbagai indikator krisis iklim (Sumber: IPCC)

Sebab utamanya adalah kenaikan pH air laut akibat H2O yang bereaksi dengan CO2 dari cahaya matahari dan menghasilkan asam karbonat, asam lemah yang mempengaruhi keasaman air laut. Tiap pandemi dalam 100 tahun terakhir selalu diawali dengan krisis laut dan perairan.

Karena itu laporan IPCC menyorot soal perubahan di laut ini karena peran penting perairan dalam menopang kehidupan di bumi. Sebanyak 71% wilayah bumi merupakan laut dan perairan. Krisis laut juga mengancam eksistensi masyarakat adat, mereka yang menjadi garda terdepan melindungi perairan dan hutan di seluruh permukaan bumi yang menjadi solusi mencegah pemanasan global kian mendekat.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain