Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|28 Maret 2021

Perhutanan Sosial yang Berharga

Perhutanan sosial menjadi berharga bagi petani miskin yang tak punya lahan. Bertarung dengan hama.

SELAIN pelatihan online bagi petani perhutanan sosial, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga menggelar verifikasi teknis online. Jika sasaran pelatihan untuk petani yang sudah mendapatkan surat keputusan mengelola hutan negara, verifikasi sebagai syarat mendapatkannya. Pandemi membuat segala hal menjadi onlinemelalui Zoom.

Saya terlibat dalam keduanya. Di pelatihan online saya terlibat sejak tahun lalu. Di verifikasi baru kali kedua. Verifikasi terakhir yang saya ikuti sebagai verifikator adalah pada 25 Maret 2021. Saya mewawancarai Kelompok Tani Hutan Wono Lestari Makmur yang menggarap lahan Perhutani di Panggungrejo, Blitar, Jawa Timur.

Satu kelompok berjumlah minimal 15 keluarga. Saat verifikasi jumlahnya 47 tapi yang hadir hanya 37. Mereka tinggal di Desa Kaligambir dan Desa Sumbersih yang letaknya berdekatan dengan kawasan hutan. Wawancaranya seru karena tak seperti wawancara umumnya. Para petani lebih banyak bercerita secara detail kegiatan mereka menggarap lahan Perhutani.

Salah satunya dari Sulihah. Perempuan 49 tahun ini sudah lama menjadi petani penggarap di kawasan hutan Perhutani di Blitar bersama suaminya. Pasangan ini tinggal di Desa Kaligambir. Jarak dari rumah ke lahan Garapan setengah jam berjalan kaki. Jika hujan jalannya belok. "Petani memang harus berpanas-panas dan berlumpur-lumpur," ujarnya. 

Menurut Sulihah, masuk menggarap hutan Perhutani merupakan satu-satunya pilihan logis karena tak ada pilihan pekerjaan lain sementara ia tak memiliki lahan, sawah atau ladang. Sulihah dan penduduk desa memanfaatkan lahan kosong atau menanam palawija, seperti jagung, ketela, dan kacang hijau, di antara sengon dan jati yang ditanam Perhutani.

Terkadang ada juga yang bertanam padi gogo. Budi Wiyono, petani 30 tahun, menceritakan ia mengolah lahan 1 hektare. Ia membagi lahan menjadi dua petak. Sebagian untuk bertanam padi, sebagian untuk jagung. Jika padi selesai panen, ganti ia bertanam kacang hijau. Jika jagung sudah selesai, giliran ketela pohon ia tanam.

Tak semua hasil panen ia jual. Untuk jagung dan kacang hijau, kata Budi, hanya ia jual sebagian besar. Sisanya ia menjadi beras jagung untuk cadangan pangan. Sementara padi biasanya untuk kebutuhan sendiri. Demikian juga ketela. Jika sebagian hasil panen jagung diolah menjadi beras jagung, ketela disulap menjadi gaplek.

Beberapa petani juga ada yang menanam variasi tanaman lain, misalnya pisang, cabai dan sayuran serta buah-buahan. Cara petani rupanya sebagai strategi memasuki kemarau panjang atau saat gagal panen. "Tahun ini saya gagal panen jagung dan padi karena hama tikus” tutur Budi lirih.

Kejadian gagal panen ini juga dialami beberapa petani lain, termasuk Sulihah. Sulihah, yang lahannya hanya 0,25 hektare, menceritakan hama tikus telah memusnahkan jagungnya. Padahal untuk membeli bibit dan pupuk, mereka harus berutang.

Dalam kategori petani di Jawa, Sulihah tergolong petani gurem. Mereka yang mengolah lahan lebih dari 0,25 hektare biasanya mengolah bersama dengan tetangga dekat, seperti Budi. Mereka mengajak tetangganya turut menggarap bersama. “Saya miskin, tetangga saya miskin, jadi kami mengolah lahan bersama,” kata seorang petani.

Tak ada aturan tertulis soal itu. Mereka begitu saja mengamalkan gotong royong dan tepa selira. Di verifikasi online itu saya bertemu dan mengobrol dengan beberapa petani perempuan yang sudah ditinggal wafat suaminya.

Verifikasi teknis secara online ini memberi saya pelajaran: lahan yang sempit itu menjadi berharga di mata para petani. Dan mereka tak mengeluh kendati hasil pas-pasan itu acap gagal panen karena pelbagai serangan hama.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Board Kawal Borneo Community Foundation dan anggota The Climate Reality Leaders of Indonesia.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain