Buku | Juli-September 2018

Kearifan Orang Tradisional vs Modern

Jared Diamond meneliti komunitas tradisional di dunia. Ia menganalisisnya untuk memetakan hidup orang di zaman modern.

Libriana Arshanti

Anggota Dewan Redaksi, bekerja sebagai konsultan kehutanan dan lingkungan.

SEBUAH foto bisa merekam sebuah perubahan besar. Jared Diamond, antropolog dari Harvard University dan peraih Nobel 1997, mendapatkan sebuah foto orang Papua di bandara tahun 1930 dan orang-orang yang ada dalam foto terlihat berperut singset. Ketika ia datang 40 tahun setelah foto itu dibuat, keadaan sungguh berbeda. Perut orang Papua terlihat besar dan tambun. 

Jared lalu melacak pola makan orang Papua dan jalur masuk gula rafinasi yang menyebabkan obesitas dan diabetes. Peradaban modern telah masuk ke Papua yang terlihat postur tubuh orang-orang suku pedalaman. Apa yang modern dan tradisional kemudian menjadi fokus utama penelitian Jared yang dibukukan dalam The World until Yesterday.

Untuk menganalisis dan membandingkan keduanya, Jared berangkat dari stereotip orang Barat yang memandang komunitas tradisional. Dalam ilmu antropologi, muncul bias pandangan yang disebut WEIRD (western, educated, industrialized, rich, and democratic. Dalam pandangan Barat, nilai-nilai yang membedakan Barat yang beradab dengan Timur yang tradisional.

Ada usaha Jared melepaskan bias ini dengan menyajikan fakta bahwa komunitas tradisional juga punya ciri-ciri yang tak kalah beradab dari dunia Barat yang modern. Konsep keadilan, kerjasama, sistem hukum, logika, dan konsep nalar orang-orangnya. Yang membedakan keduanya hanyalah pada konsep-konsep yang dianggap modern itu: sekolah, pasar, dan transaksi mata uang.

Dalam hal-hal lain, modern dan tradisional sama belaka. Menurut Jared, masyarakat cukup arif mempertahankan nilai-nilai klasik masa lalu untuk hidup mereka hari ini. Ada banyak nilai yang muncul di masyarakat tradisional yang sesungguhnya dipraktikkan oleh orang modern. Dalam soal wilayah, misalnya, batas kekuasaan datang dari pergerakan ekonomi. Jika di masyarakat tradisional ada soal meramu dan berburu, di dunia modern antar negara punya batas yang dicirikan oleh visa, bea masuk, dan batas geografi.

Masyarakat tradisional acap berselisih dalam perang suku akibat rebutan wilayah, negara-negara modern kini juga berebut wilayah secara kasat mata (seperti kita lihat di semenanjung Rusia) atau secara virtual melalui penguasaan-penguasaan ekonomi. Maka, manusia modern dan tradisional sesungguhnya tetap punya tabiat yang sama. Bedanya hanya bagaimana cara mereka melakukannya saja.

Di komunitas tradisional maupun modern, naluri untuk mempertahankan sumber daya alam sebagai milik merupakan sifat dasar manusia yang tak berubah. Persepsi terhadap kawan, lawan, dan orang asing tetap sama di dua komunitas yang berbeda itu. Di dunia modern, kedatangan orang asing selalu dicurigai mengganggu status quo sehingga mereka acap dicurigai.

Di masyarakat Papua di Lembah Baliem, mulanya Jared dianggap sebagai mahluk asing bahkan hantu. Orang di sana punya keyakinan bahwa orang yang mati akan berubah jadi putih. Namun, dalam proses pergaulan yang pelan-pelan itu, orang Papua paham bahwa orang asing seperti Jared adalah manusia juga, yang berpenis, bertangan, bernapas, bahkan berkelamin seperti mereka juga. Proses pengetahuan pun terjadi, akulturasi kebudayaan terjadi akibat komunikasi—sebuah cara bagaimana peradaban terbentuk.

Jared memotret komunitas tradisional dari jantung hidup mereka. Ia merekam bagaimana tradisi dijaga, sejak melahirkan, berbagi peran dalam rumah, memperlakukan orang tua, bahasa, agama, dan kebiasaan sehari-hari. Ia analisis hal-hal itu dan membandingkannya dengan pola yang sama di masyarakat modern.

Di beberapa komunitas orang-orang tua dibuang karena sudah tidak berfungsi pada kelompok mereka. Pengetahuan dan komunikasi dengan orang luar kemudian mengubah pola itu menjadi lebih beradab. Orang tua tak lagi dibuang tapi dijaga seperti mereka menjaga bayi. Kearifan, dalam kriteria orang modern, juga tumbuh di masyarakat tradisional. Sebaliknya, orang modern gagap mengadopsi nilai-nilai tradisional sehingga perang, penyakit, dan penurunan moral jauh lebih mengerikan dalam dunia yang disebut beradab.

Judul: The World until Yesterday: Apa yang Dapat Dipelajari dari Masyarakat Tradisional
Penulis: Jared Diamond
Penerjemah: Damaring Tyas Wulandari Palar
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2015
Tebal: 604 halaman

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.