Untuk bumi yang lestari

Surat dari Darmaga|31 Januari 2021

Pohon Juga Bisa Pindah

Seperti mahluk hidup lain, pohon-pohon juga bermigrasi untuk mencari lokasi yang sesuai untuk hidup mereka. Perubahan iklim memicu pohon pindah.

DALAM artikel  Adaptasi Satwa dalam Perubahan Iklim saya mengulas migrasi sebagai salah satu bentuk adaptasi satwa untuk bertahan hidup. Tak hanya untuk hidup mereka sendiri, tapi ekosistem secara keseluruhan. Migrasi burung adalah cara alam menyeimbangkan diri. 

Tidak hanya satwa liar yang hidup dan bergerak. Penelitian-penelitian terbaru mengungkap bahwa hutan juga bermigrasi untuk mencari ruang adaptasi baru. Tak seperti satwa, migrasi hutan berjalan dalam waktu lama dan lambat.

Untuk bertahan dari perubahan iklim selama dan sejak zaman es berakhir 9.000 tahun lalu, pohon dan tumbuhan memanjat dan menuruni gunung serta melintasi benua ke segala arah. Ini terjadi ketika bumi memasuki periode interglasial holocene, ketika kelembapan serta suhu bumi menghangat.

Jika mengamati zaman es, migrasi hutan terjadi pada hutan taiga atau hutan boreal di wilayah dengan musim dingin ekstrem dan panjang serta musim panas yang pendek. Hutan boreal bisa kita jumpai di Alaska, Kanada, Rusia, dan beberapa negara Skandinavia, dengan ciri pohon berdaun jarum seperti cemara, pinus, cedar.

Bagaimana hutan bermigrasi? Seperti apa mereka terdampak oleh perubahan iklim?

Migrasi di sini tak secara harfiah pohon berpindah tempat. Perpindahan pohon tak terjadi secara komunitas, namun ditandai dengan penyebaran beberapa spesies. Perubahan kelimpahan spesies (species abundance) selama rentang waktu tertentu menjadi salah satu indikator terjadinya migrasi hutan.

Perpindahan pohon terjadi melalui mekanisme kematian pohon-pohon dan penyebaran benih dan bertumbuhnya tunas-tunas baru di berbagai penjuru bumi. Anakan pohon cenderung berhasil tumbuh di tempat yang memang paling sesuai dengan sifat-sifat alaminya.

Karenanya, dengan berjalannya waktu, spesies tertentu yang sukses bertahan hidup akan melimpah di tempat tertentu, sementara di wilayah lain hanya sedikit karena beberapa tak bisa bertahan hidup. Kelimpahan pohon cemara (spruce) di hutan boreal, misalnya, jauh lebih sedikit pada 10.000 tahun yang lalu dibandingkan saat ini.

Penelitian memakai data pohon dalam jumlah besar selama 30 tahun (1985-2015) menunjukkan pepohonan Amerika utara bergeser ke arah barat dan utara yang mencolok sebagai respons terhadap perubahan iklim dan suksesi. Rata-rata, pohon-pohon ini berpindah sekitar 15 kilometer setiap dekade. Artinya total pohon berpindah sekitar 45 kilometer selama 30 tahun.

Pergeseran spasial ini lebih sensitif terhadap perubahan kelembapan terkait curah hujan dibandingkan terhadap perubahan suhu.

Migrasi pohon, barangkali bisa tergambar dari ilustrasi ini: barisan orang yang berjajar dari Jakarta sampai Surabaya. Setiap orang di barisan itu tidak bergerak atau berpindah sedikit pun, tetapi kemudian datang lebih banyak orang yang bergabung, katakanlah, di Cikampek atau di Semarang, dan ada orang yang keluar dari barisan di Surabaya.

Pusat dari barisan ini seolah telah bergeser. Dalam Trees on Move ada penjelasan bahwa pergeseran pohon terjadi akibat perubahan suhu dan curah hujan. Pohon berdaun lebar, seperti oak, maple, dan hickories bergerak ke barat bumi karena perubahan kelembapan, sementara pohon dalam kelompok hijau, seperti pinus dan cemara, bergerak ke utara karena perubahan suhu.

Pepohonan yang berdaun lebar memanfaatkan kelembapan yang meningkat di daerah yang relatif kering. Dengan kata lain, mereka bisa menjadi pionir di tempat-tempat yang sebelumnya terlalu kering untuk hidup jenis ini.

Pergerakan pohon serupa teramati sebelumnya pada pohon-pohon di New England. Bedanya, pergerakan tersebut terjadi dalam ribuan tahun, ketika intervensi manusia terhadap alam belum banyak.

Hutan boreal di Taman Nasional Banff, Provinsi Alberta, Kanada (Foto: Wiene Andriyana)

Perubahan iklim memaksa spesies tertentu bergerak dan berubah semakin cepat. Padahal, berbagai jenis pohon, tumbuhan dan polinatornya saling bergantung. Akibatnya, keseimbangan komunitas pohon pada suatu ekosistem pun menjadi terdampak.

Tidak hanya di hutan boreal, dampak mengkhawatirkan migrasi pohon yang lebih cepat karena tekanan perubahan iklim juga teramati di hutan tropis, seperti diulas dalam Frontiers of Biogeography.

Perubahan iklim yang datang lebih cepat dari perkiraan para ahli, membuat hutan dan komunitasnya berusaha keras beradaptasi. Walaupun tidak terlihat, migrasi pohon menjadi satu lagi indikator terdampaknya bumi oleh perubahan iklim.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Rimbawan tinggal di Kanada. Menyelesaikan pendidikan doktoral dari University of Natural Resources and Life Sciences Wina, Austria, dengan disertasi dampak desentralisasi terhadap tata kelola hutan di Jawa

Bagikan

Komentar

Artikel Lain