Surat dari Darmaga

Perhatian! Macan Tutul Jawa Juga Butuh Konservasi

Minggu, 20 September 2020 10:33 WIB

Tak seperti hewan besar lain di hutan-hutan luar Jawa, macan tutul Jawa kurang mendapat perhatian dalam isu konservasi. Ia juga penting dalam menopang ekosistem.

Wiene Andriyana

Rimbawan tinggal di Kanada

HUBUNGAN kompleks manusia dan satwa liar tak hanya terjadi di luar Jawa yang hutannya masih relatif luas. Di Jawa, pulau dengan populasi terpadat (60% penduduk) Indonesia maupun di dunia, isu berbagi ruang ini semakin tidak terelakkan, bahkan mungkin ancaman. Kebutuhan permukiman akan menjadi tekanan yang mendesak habitat macan tutul (Panthera pardus melas), hewan pemangsa tertinggi (top predator) dalam rantai makanan di hutan-hutan Jawa.

Harus kita akui, kata konservasi lebih melekat kepada hutan di luar Jawa. Jawa kadung dianggap sentra beras dan penghasil produk-produk pertanian, juga pusat pemerintahan, berbagai kegiatan politik dan bisnis nasional maupun internasional. Ada hutan jati yang menjadi andalan, namun isu jati terkait kehutanan lebih didominasi oleh aspek sosial-ekonomi, dan produksi, ketimbang sisi konservasi.

Dengan jumlah penduduk sekitar 141 juta jiwa dan luas tutupan hutan hanya 14% yang dikelilingi sekitar 6.000 desa, hubungan berbagi ruang manusia dan satwa liar justru jadi rumit. Masalahnya, perhatian kepada macan tutul Jawa tak sebesar, misalnya, perhatian untuk harimau Sumatera. Penelitian tentang macan tutul masih jauh di bawah penelitian terhadap satwa endemik-besar lain.

Wilting dkk dalam “Evolutionary History and Conservation Signficance of Javan Leopards” menulis bahwa macan tutul Jawa merupakan kucing besar terakhir yang masih mengaum di Jawa, setelah harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dinyatakan punah sekitar tahun 1970-an. Secara internasional, subspesies ini termasuk ke dalam lampiran 1 dari Convention on International Trade in Endangered Species (CITES), yang artinya tidak boleh diperdagangkan dalam bentuk apa pun.

The International Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat perubahan status tingkat keterancaman satwa ini, dari vulnerable (1978), threatened (1988), indeterminate  (1994), endangered (1996) dan sejak 2008 masuk ke dalam daftar merah (red list), yang artinya terancam punah (critically endangered). Terancam punah adalah status tertinggi sebuah spesies karena populasinya yang sedikit dan habitatnya kian terbatas.

Secara nasional macan tutul dilindungi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7/1999. Pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.56/Menlhk/Kum.1/2016 tentang strategi dan rencana aksi konservasi macan tutul Jawa 2016-2026. Di Jawa Barat, satwa ini jadi identitas daerah melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 27/2005, juga sebagai upaya konservasi.

Dalam sebuah studi yang dikutip Wibisono dkk (2018), pada 1990-an populasi macan tutul Jawa sekitar 350-700 individu yang tersebar di 12 kawasan konservasi, termasuk taman nasional, cagar alam, dan taman buru. Pada 2013, diperkirakan tersisa 491-596 individu.

Macan tutul Jawa tersebar dari ujung barat Pulau Jawa (Taman Nasional Ujung Kulon) hingga ujung timur Pulau Jawa (Taman Nasional Alas Purwo). Seperti ditulis Gunawan dkk dalam Habitat Macan Tutul Jawa, satwa ini mudah beradaptasi dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap variasi iklim dan makanan.

Dengan semakin tingginya fragmentasi habitat (termasuk karena kebutuhan permukiman, penggunaan lahan pertanian, pembangunan infrastruktur), risiko interaksi dan potensi konflik manusia dengan satwa ini merentang jauh di luar kawasan konservasi. Bahkan di kawasan pertanian dan kebun-kebun masyarakat, karena begitu berdekatannya jarak antara kawasan konservasi dengan kebun masyarakat.

Macan, sebagaimana satwa lain, tentu tidak bisa membedakan batas kawasan ini. Sementara ia perlu terus bergerak untuk mencari makanan, sepanjang masih dalam wilayah jelajah mereka. Terisolasi di wilayah hutan yang relatif kecil dan kantung habitat yang terkotak-kotak karena fragmentasi hutan, membuat ia kian terancam. Di beberapa tempat, kenaikan populasi macan tutul tak dibarengi dengan luasan habitat berikut daya dukung yang memadai untuk ruang gerak mereka.

Mengapa macan tutul Jawa penting bagi manusia? Jawabannya serupa dengan penjelasan mengapa harimau Sumatera penting bagi kita. Sebagai top predator, secara ekologis keduanya berperan penting sebagai penyeimbang ekosistem. Secara fisik, harimau memiliki ukuran badan yang relatif besar dan memiliki loreng yang menjadi penciri individu harimau layaknya sidik jari manusia.

Menurut seorang ahli kucing besar, ukuran badan macan tutul secara kasar sekitar 2/3 harimau. Macan tutul memiliki motif totol-totol yang menjadi ciri khasnya, yang pada beberapa individu totol ini tidak terlalu kasat mata. Walaupun perbedaan fisik ini cukup nyata, di beberapa desa di Jawa Barat, secara turun temurun mereka menyebut atau menceritakan harimau Jawa sebagai macan loreng. Macan dengan motif tutul yang tidak terlalu nyata (dominan warna hitam) dikenal oleh masyarakat dengan berbagai sebutan, seperti macan kumbang, macan hideung, dan lain-lain.

Di luar kepentingan macan tutul secara ekologis, hubungan antara manusia dengan macan tutul juga serupa dengan hubungan antara manusia dengan harimau yang sarat akan potensi konflik. Berkurangnya pangan yang menjadi mangsa macan tutul, seperti babi hutan yang juga diburu oleh manusia, membuat macan memangsa ternak peliharaan manusia. Akibatnya, penduduk menjerat atau meracun mereka. Baru-baru ini penduduk Gunung Sawal Ciamis, Jawa Barat, menangkap macan tutul karena masuk permukiman.

Berbeda dengan harimau yang kerap menyerang manusia, selama ini hampir tidak tercatat kasus manusia menjadi korban konflik dengan macan tutul. Mereka lebih menyasar hewan ternak atau peliharaan. Seorang teman yang lama meneliti satwa ini mengatakan macan tutul andal bersembunyi dan mengintai, serta memiliki karakter menghindari pertemuan dengan manusia (elusif) dan cenderung tidak menyerang. Namun ketika terjadi interaksi, manusia biasanya membunuh mereka karena khawatir menjadi korban.

Walaupun studi, kajian, proyek dan pekerjaan untuk konservasi macan tutul belum sekaya harimau, strategi dan praktik-praktik upaya konservasi dan adaptasi/mitigasi konflik dengan macan tutul Jawa dapat belajar dari upaya konservasi harimau Sumatera. Misalnya, dengan penggunaan kandang ternak anti macan dan jika dimungkinkan, membuat koridor satwa liar untuk memfasilitasi konektivitas ruang-ruang hidup macan tutul.

Tidak hanya dari segi teknis, konservasi macan tutul juga bisa memanfaatkan pembelajaran dari pentingnya menggalang dukungan publik, sekaligus dukungan politis dan pendanaan. Saatnya macan tutul masuk sebagai “menu utama konservasi” setelah harimau, gajah, badak, atau orangutan yang mendapat perhatian besar dunia internasional.

Motif macan tutul yang sering menjadi inspirasi fashion internasional, bisa dijadikan salah satu sarana mengampanyekannya. Di Amerika ada gerakan “fashion for conservation”, yang mengemas isu-isu konservasi satwa liar dalam konsep fashion mereka. Ini bisa jadi permulaan yang baik mengangkat macan tutul dalam isu konservasi hewan besar.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain