Laporan Utama | Januari-Maret 2018

Primata-primata Sangatta

Taman Nasional Kutai sangat kaya akan keragaman primata langka. Ekspedisi mahasiswa Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata selama sepuluh hari.

Ramdani Manurung

Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

SETELAH dua jam terbang dari bandar udara Soekarno-Hatta pada pukul 6, 21 Juni 2017, sungai Kapuas membentang di bawah kami, kelak-kelok seperti naga coklat yang melingkari hijaunya hutan hujan tropis Kalimantan. Kami, 58 mahasiswa Himpunan Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, tak berkedip melihat pemandangan ini.

Kami menjejakkan kaki di bandar udara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur. Tujuan kami adalah Taman Nasional Kutai, untuk ekspedisi studi konservasi lingkungan. Untuk mencapai Kutai perlu 2 jam perjalanan darat, di jalan yang berkelok-kelok membelah taman nasional ini. Tak ada hutan lebat, seperti kami bayangkan, hanya herba dan perdu sisa kebakaran.

Sampai juga di resor Taman Nasional Kutai. Burung walet, burung-burung famili Pycnonotidae serta monyet ekor panjang menyambut kedatangan kami. Setelah basa-basi pidato kedatangan bersama pengelola, kami membagi diri dalam sembilan kelompok, terdiri dari tujuh kelompok pemerhati (tim ekologi), kelompok minat bakat Fotografi Konservasi, serta kelompok sosial ekonomi.

Tujuh kelompok pemerhati tersebut antara lain : Kelompok Pemerhati Mamalia “Tarsius”, Kelompok Pemerhati Burung “Perenjak”. Kelompok Pemerhati Herpetofauna “Phyton”, Kelompok Pemerhati Kupu-kupu “Sarpedon”, Kelompok Pemerhati flora “Rafflesia”, serta Kelompok Pemerhati Gua “Hira”.

Masing-masing kelompok pemerhati akan didampingi 2-3 orang pemandu yang disediakan oleh pengelola Taman Nasional. Sembilan kelompok ini akan dibagi ke tiga lokasi pengamatan yang berbeda. Lima tim ekologi akan ditempatkan di daerah Rantaupulung, Kelompok Pemerhati Gua “Hira” di Teluk Pandan serta Kelompok Pemerhati Ekowisata dan Kelompok Sosial Ekonomi tetap berada di Sangatta.

Malam pertama kami di Kalimantan disambut hujan deras...

Rantaupulung berjarak dua jam perjalanan darat dari camp. Jalan berlubang hingga kami melihat danau biru setelah rumah-rumah panggung tak terlihat. Seorang pemandu bercerita danau itu dihuni buaya. Banyak penduduk melihat buaya di danau  biru yang tenang itu. Dana danau itu juga diberi nama Danau Buaya.

Lepas Danau Buaya mobil berhenti karena kami harus menyeberang Sungai Sangat. Sungai ini merupakan sungai besar yang menjadi akses untuk memasuki hutan sekunder Rantaupulung. Kami harus menempuh sungai dangkal itu di bawah bayang-bayang cerita buaya muara.

Kpala Resor Rantau Pulung, Mardiansyah menegaskan bahwa sungai ini aman dilalui. Peralatan kami naikkan ke perahu ketinting, perahu kecil orang Kalimantan. Dari bibir sungai kami terus masuk hutan hingga tiba di lokasi penelitian. Kami mendirikan tenda untuk 35 orang.

Tenda selesai. Kami istirahat. Tiba-tiba Pak Slamet datang. Ia pendamping dari TNK. Ia kaget melihat tenda kami menyentuh tanah, seharusnya tenda melayang satu meter di atas tanah. Menurut dia, kami bisa diserang semut api yang ganas. Tapi hari sudah sore, kami tak mungkin memperbaiki tenda. Pak Slamet setuju tenda diperbaiki esok.

Belum cukup kegelisahan karena salah membuat tenda, kami dikejutkan lagi oleh laporan seorang pendamping bahwa tak jauh dari tenda kami ada sarang buaya. Seorang pendamping menemukan jejak, cangkang telur bekas anak buaya yang menetas. Malam jadi mencekam. Kami tak bisa tidur nyaris semalaman. Jika ini kelakar selamat datang, Pak Slamet dan teman-teman telah berhasil menyambut kami dengan humor khas para jagawana...

***

LAIN lagi cerita kelompok pemerhati burung “Perenjak”. Selama pengamatan, mereka menemukan 72 spesies di resor Rantaupulung. Antara lain Sikatan belang (Ficedula westermanni), Sikatan bubik (Muscicapa latirostris), Kehicap ranting (Hypothymis azurea), Madi kelam (Corydon sumatranus), dan Seriwang asia (Terpsiphone paradisi), Punai lengguak (Treron curvirostra).

Punai lengguak (Treron curvirostra) merupakan burung yang sering ditemukan selama pengamatan berlangsung. Ada kalanya burung ini ditemukan secara berkelompok dalam satu batang pohon dengan daun-daun yang sudah berguguran sehingga mempermudah untuk dapat mengambil gambarnya dengan apik.

Pernah sekali waktu kami menemukan lebih dari 5 individu dalam satu pohon tanpa dedaunan.   Elang kelelawar (Macheiramphus alcinu) merupkan salah satu spesies baru yang ditemukan di ekosistem riparian berdasarkan daftar statistika TN Kutai 2016. Persebaran jenis elang ini adalah di daerah Sumatera (termasuk Bangka) dan Kalimantan, namun termasuk golongan langka terdapat di dataran rendah hingga ketinggian 1.000 m. Sehingga, melalui ekspedisi ini tim Surili 2017 dapat menyumbangkan data statistik terbaru untuk Taman Nasional Kutai.

Salah cerita eksotis tentang burung adalah Julang Emas yang merupakan salah satu satwa yang menjadi maskot dari Taman Nasional Kutai. Tim harus bangun pagi untuk pengamatan agar bisa bertemu burung ini.

Ada juga burung paruh kodok besar (Batrachostomus auritus), jenis sudah sulit untuk ditemukan. Beruntung bagi kami, burung itu terlihat sedang berdiam di sarangnya. Ada satu keluarga paruh kodok besar di sarang itu. Sarang burung ini terletak di tajuk pohon yang cukup rendah di pinggiran sungai dan menjorok ke arah tengah sungai. Tepian sungai ini terdiri atas batuan yang licin, jika tidak hati-hati sudah bisa dipastikan bukan foto burung yang didapat melainkan celaka karena tergelincir.

Tim surili yang berusaha mengambil gambar paruh kodok besar bahkan sempat tergelincir di tebing batu. Untungnya saat itu terdapat pemandu yang tak sengaja berada di sekitar sehingga dapat ditarik ke tepi.

Julang Emas (Rhyticeros undulatus) baru muncul di hari terakhir pengamatan. Ia terbang dengan suara bergemuruh seperti helikopter. Seperti menyambut kami, ia hinggap di dahan sehingga bisa kami abadikan.

Adapun burung Madi kelam (Corydon sumatranus) terlihat ada di pucuk pohon tinggi. Burung ini memiliki bulu hitam legam dan ditemukan saat sedang bersuara, seakan bernyanyi untuk alam sekitar. Beberapa spesies dari famili Picidae juga kami temukan seperti Dinopium javanense, Blythipicus rubiginosus dan banyak lainnya. Kebiasaan dari famili ini adalah sering ditemukan di pohon-pohon mati yang masih berdiri untuk mencari makan dan bersarang.

Di KPH “Python”, pengamatan ular dilakukan setelah salat Isya selama dua jam. Kami menemukan banyak ular saat pengamatan, seperti Xenochrophis trianguligerus atau ular segitiga merah yang berukuran cukup besar jatuh ke sungai. Kami coba menangkapnya tapi gagal karena air jadi keruh. Juga Tropidophorus beccarii kadal singset yang bisa lari di atas permukaan air, seperti ninja yang berlari tak menapak.

Ada juga kadal unik karena ia bisa terbang, Draco quinquefasciatus. Gradasi warna pada kulit yang dapat melebar menyerupai sayap menjadi ciri khas kadal ini. Hitam-kuning-merah-jingga menjadi perpaduan yang khas dengan balutan warna hijau di bagian tubuh lainnya. Ia melayang di udara saat berpindah dari satu dahan ke dahan lain. Slow motion yang mengesankan.

Keberuntungan juga menghinggapi tim Surili di Sangkima. Tidak perlu berjalan jauh dari camp, mereka bertemu orang utan betina yang sedang makan buah liana. Orang utan ini lalu menemui orang utan lain yang lebih besar. Mereka mungkin sedang merayakan sebuah pesta karena keduanya begitu intim memakan buah itu. Ketika pesta buah liana itu selesai dan kami melanjutkan perjalanan ke hutan, kami juga bersirobok dengan Labu, salah satu induk orang utan yang masih merawat tiga anaknya di kawasan Prevab.

Oya, di Prevab ini tim juga menemukan Bekantan, monyet Belanda karena putih dan berhidung panjang. Satu keluarga Bekantan bertengger di sebuah dahan mangrove di hulu sungai Sangatta. Mereka sangat pemalu. Begitu mendengar kami datang mereka langsung kabur dengan mata waspada. Juga lutung dan monyet ekor panjang.

***

TAMAN Nasional Kutai tak hanya kaya dengan primata, tapi juga gua. Kelompok Pemerhati Gua “Hira” terdiri dari enam orang, satu anggota FOKA, dan tiga pendamping dari Taman Nasional Kutai, yaitu Bapak Alfonsus, Bapak Sarju, dan Bapak Alimuddin. Kelompok Pemerhati Gua melakukan eksplorasi ke dalam enam gua. Gua yang berhasil dipetakan oleh tim adalah Gua Lubang Angin, Gua Sarang Hitam, Gua Kelelawar, Gua Sangkima, Gua Busur dan Gua Sampek Marta.

Hari pertama ekspedisi di Resor Teluk Pandan diisi dengan kegiatan inventarisasi di gua Sarang Hitam. Perjalanan menuju Gua sarang Hitam memakai motor. Jalan masuk menuju gua ini adalah tanah berlumpur. Gua Sarang Hitam ini memiliki ruang yang besar. Kami tidak dapat melakukan eksplorasi gua ini sepenuhnya karena lumpur yang bercampur dengan guano setinggi dada orang dewasa. Sehingga kami tak bisa masuk ke ujung gua. Padahal gua ini memiliki ornamen berupa stalaktit, pilar, dan flowstone, yang indah.

Di hari kedua, ekspedisi dilanjutkan ke gua Lubang Angin. Akses menuju gua ini kurang lebih sama dengan Sarang Hitam, licin dan becek. Gua Lubang Angin memiliki banyak cabang. Ketinggian gua beragam sehingga kami kadang berjalan jongkok, bahkan tiarap, karena sempit. Ular-ular kaget melihat kedatangan kami.

Gua Sampek lain lagi. Gua sepanjang 330 meter ini punya enam pintu dengan aliran air tembus dari dalam dan luar, tempat berkembang biak kepiting dan udang. Stalaktit dan sudah terlihat sejak di muka pintu karena pantulan air membuatnya jadi agak terang.

Yang aneh adalah gua Kelelawar. Kami susah payah menemukan gua ini karena mulutnya tertutup pohon Benuang. Tak seperti gua lain, pintu gua ini juga tembus sehingga kami masuk dan keluar dari pintu yang berbeda. Sesuai namanya, gua ini rumah bagi ribuan kelelawar. Kami seperti Bruce Wayne yang terdampar lalu mendapat kekuatan sebagai Batman.

Saat briefing di camp, tim pengamatan burung melaporkan bahwa mereka bisa mengabadikan burung langka Paruh kodok setelah menempuh medan sulit dan sabar menunggu burung itu datang. Hebatnya lagi, burung Paruh kodok ini datang berombongan satu keluarga.

Lengkap sudah ekspedisi kami di Taman Nasional Kutai. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Kami masih bunga ketika mempresentasikan hasil eksepdisi selama sepuluh hari itu di depan Kepala Taman Nasional Bapak Nurpatria Kurniawan di Bontang.

Kutai yang tak terlupakan...

Bahan dari Marini Machdi dan Muhammad Kurniawan

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.