Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|04 Agustus 2020

Ide Memformalkan Pemulung Sampah

Para pemulung adalah para pahlawan tanpa tanda jasa dalam manajemen sampah. Mereka tak diperhatikan.

SEPULUH tahun lalu ada diskusi yang lumayan mengemuka soal kriteria calon kepala daerah yang cakap. Salah satunya, punya program jitu menanggulangi sampah.

Sampah bukan penyebab utama pemanasan global, tapi ia penting karena tanpa penanganan yang terukur dan masif, ia akan jadi problem global yang serius. Awal tahun ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat ada peningkatan sampah plastik dengan pertumbuhan 5-6% per tahun sejak 2000.

Data KLHK juga menyebutkan bahwa 37% sampah plastik berakhir di laut. Indonesia memproduksi 64 juta ton sampah per tahun. Dari jumlah itu separuhnya adalah sampah sisa makanan, 15% sampah plastik, dan 10% sampah kertas.

Dari keseluruhan sampah itu hanya 7% yang didaur ulang, 69% teronggok di tempat pembuangan akhir, sisanya dikubur, dibakar, atau menumpuk begitu saja.

Juga sampah plastik yang hanya 15% yang dijadikan produk siap pakai kembali. Industri pengolahan sampah belum jadi industri utama di Indonesia. Data terbaru, menurut Kepala Sub Direktorat Barang dan Kemasan KLHK Ujang Solihin Sidik, angka sampah yang didaur ulang hanya naik 10-12% setahun. “Perlu ada perubahan paradigma dalam mengelola sampah,” katanya.

Di masa pandemi virus corona covid-19, jumlah sampah plastik bertambah, terutama sampah medis dan sampah makanan karena pemesanan makanan secara daring meningkat akibat kebijakan pembatasan interaksi sosial.

Produsen utama sampah di Indonesia adalah rumah tangga. Dari 64 juta ton setahun, 48% berasal dari rumah-rumah. Dari 15% sampah plastik, sebanyak 3,2 juta ton adalah sedotan minuman. Tiap orang Indonesia memproduksi 0,7 kilogram sampah sehari.

Data-data itu terus tumbuh karena penanganannya belum menemukan formula yang tepat. “Kita perlu menengok peran pemulung,” kata Dwi Sawung, Manajer Kampanye Isu Urban dan Energi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi).

Menurut Sawung, pemulung berperan besar dalam siklus daur ulang sampah rumah tangga. Mereka menjadi mata rantai daur ulang sampah. Namun, karena jumlahnya sedikit dan masih menjadi pekerjaan sampingan, jumlah sampah yang didaur ulang—terutama plastik—masih minim.

Dengan kesadaran yang masih rendah dan sistem pengangkutan sampah oleh negara yang hanya angkut ke tempat pembuangan akhir, tak mengherankan jika jumlah sampah yang menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) kian menggunung.

TPA Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat, yang menjadi TPA terbesar di Indonesia, jumlah sampah yang menggunung sejak 1986 mencapai 39 juta ton setinggi 40 meter. Sementara kapasitas penampungan Bantargebang hanya 49 juta ton. Tahun depan, TPA ini akan berakhir masa kontraknya. TPA ini menjadi tempat penampungan 7.000 ton sampah sehari yang dibuang penduduk Jakarta.

Menurut Sawung, tanpa memasukkan pemulung ke dalam rantai daur ulang sampah, mereka juga akan liar dan tanpa pengawasan. Pemulung tak mendapat pelatihan memilah sampah sehingga tak ada penghubung antara industri daur ulang dengan mereka. Sampah hasil daur ulang pemulung juga berakhir di tengkulak. Dengan mata rantai yang terputus ini industri daur ulang juga tak tumbuh sebagai mata rantai akhir dari daur ulang sampah.

Di Pontianak, seorang mahasiswa coba menyelesaikan problem pelik ini. Ia membuat aplikasi penjualan sampah rumah tangga semacam Go-Jek. Jika para mitra Go-Jek adalah pengemudi sepeda motor atau mobil untuk mengantar penumpang, mitra aplikasi Angkuts adalah pemulung. Dengan cara itu, pemulung mendapatkan penghasilan yang pasti, rumah tangga mendapatkan penghasilan dari menjual sampah, juga mendorong tumbuhnya industri daur ulang di hilir.

Tanpa menjadi bagian dari manajemen sampah di Indonesia, kata Sawung, kehadiran pemulung juga menimbulkan problem lain. “Mereka enggak semua punya kemampuan memilah sampah dengan benar,” katanya. “Kadang mereka membuang label botol plastik sembarangan.”

Sampah dalam Angka (2018)

Ide Sawung tidak baru. Di negara lain, problem serupa menangani sampah juga muncul karena tak memasukkan pemulung ke dalam rantai manajemen sampah. Peneliti Universitas Leeds, Inggris, Costas Velis punya ide sama merangkul pemulung agar masuk dalam mata rantai pengelolaan sampah nasional.

Menurut Velis, seperti dikutip BBC, kebijakan yang mendukung lingkungan kerja aman bagi pemulung akan membantu menyelesaikan masalah sampah plastik. “Pemulung adalah pahlawan daur ulang tanpa tanda jasa," katanya. "Tanpa mereka limbah plastik yang masuk dunia akuatik akan jauh lebih besar.”

Velis dan timnya menyoroti kenyataan bahwa sekitar 2 miliar orang di bagian selatan dunia tidak punya akses pada pengolahan limbah yang layak. “Mereka cuma membuang semua sampah, sehingga mereka tidak ada opsi lagi selain membakar atau membuangnya.”

Salah satu peran penting dalam mengurangi limbah plastik dunia, menurut Velis, adalah melibatkan pemulung. Velis menghitung ada sekitar 11 juta pemulung di negara-negara berpenghasilan rendah saat ini. Tak seperti pekerjaan formal lain, mereka tak mendapat hak-hak dasar pekerja dan kondisi kerja yang aman dan nyaman.

Jika ide ini ditangkap para calon kepala daerah yang akan bertarung dalam pemilihan tahun ini, Indonesia punya titik terang dalam manajemen sampah untuk didaur ulang dan dipakai kembali. Selain sampah plastik, sampah rumah tangga dan sisa makanan bisa diolah kembali menjadi pupuk.

Seperti Jepang. Sadar mereka memiliki sumber daya alam yang sedikit, mengurangi, memilah, dan mendaur ulang sampah menjadi napas dan budaya penduduk sehari-hari. Jepang kini mendaur ulang 98% sampah metal. Pemerintah juga menyubsidi perusahaan daur ulang sampah lewat keringanan pajak.

Anggota redaksi, wartawan radio di Jakarta.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain