Laporan Utama | April-Juni 2020

Cuitan Seribu Burung Kolibri

Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

Asmayani Kusrini

Wartawan tinggal di Belgia

DI bawah guyuran hujan dan angin musim dingin, ribuan demonstran tumpah ke jalan-jalan di Kota Brussels di Belgia pada Jumat, 6 Maret 2020. Mereka para remaja yang tak hanya warga negara itu, yang menjadi markas Komisi Uni Eropa, tapi datang dari pelbagai negara Eropa lain.

Di antara ribuan orang itu, terselip tubuh kecil seorang remaja berbalut jaket ungu. Rambut panjangnya yang ia kepang dua menyembul dari kupluknya yang abu-abu. Sosok itu kian tidak asing dengan poster yang ia bawa dalam aksi hari itu: skolstrejk för klimatet, mogok sekolah untuk perbaikan iklim. Dialah Greta Thunberg.

Gadis Swedia berusia 17 tahun ini datang ke Brussels untuk bergabung dengan teman-teman sebayanya berdemonstrasi menuntut pemerintah negara-negara Eropa membuat kebijakan yang menyelamatkan lingkungan. Meski tampak kalem, Greta sempat terlihat risau dengan sejumlah fotografer yang tak henti-henti mengerubungi untuk memotretnya dari dekat. “Bukan saya yang harus kalian foto,” katanya. “Kalian harusnya mendokumentasikan tuntutan kami dan memotret para demonstran di belakang.” 

Demonstrasi kali ini tidak hanya dihadiri oleh para remaja usia sekolah. Sejumlah demonstran adalah anggota dari berbagai organisasi lingkungan semacam Greenpeace, WWF, Youth For Climate, Oxfam, Animal for Climate, kelompok pensiunan, hingga Amnesty International. Demo besar kali ini juga jadi istimewa di tengah merebaknya virus Corona, yang membuat sejumlah negara menerbitkan larangan berkumpul untuk mencegah penyebaran flu dari Wuhan, Tiongkok, itu.

Dua hari sebelumnya, Greta mendatangi gedung parlemen Uni Eropa yang mempresentasikan Rancangan Undang-Undang Iklim. Presiden Parlemen Uni Eropa David Sossili melanggar larangan menerima tamu setelah mereka tahu ada staf keamanan parlemen yang terjangkit virus Corona. Demi Greta, Sossili membukakan pintu dan memberikan waktu kepada Greta berpidato.

Di mimbar parlemen itu, Greta menuding Uni Eropa sengaja menunda implementasi Kesepakatan Paris dalam membatasi emisi mulai tahun ini. Ia dengan tegas menolak RUU Iklim yang disebutnya bukan penyelesaian krisis lingkungan yang terjadi saat ini. RUU Iklim menunda pengurangan emisi karbon menjadi 2030 dan menetralkan emisi di seluruh Eropa pada 2050.

“Waktu adalah kemewahan yang tidak kita miliki,” katanya di depan puluhan anggota parlemen Uni Eropa yang khusus hadir untuk menyaksikan pidatonya. “Rumah kita sedang terbakar, sementara Rancangan Undang-Undang yang masih kalian diskusikan ini sama dengan menunggu beberapa tahun lagi untuk mulai memadamkan api.”

Greta pantas jengkel. Seruannya itu sudah ia sampaikan pada Februari tahun lalu. Di gedung parlemen ini pula ia meminta negara-negara Uni Eropa menjalankan kesepakatan mereka di Paris dalam mengurangi emisi karbon mulai 2020. Agaknya, seruan itu terlalu berat dilaksanakan. Presiden Komisi Uni Eropa Ursula Von der Leyen malah menyodorkan rencana European Green Deal yang menunda reduksi emisi efek rumah kaca hingga 2030 itu.

Menurut Ursula, European Green Deal adalah kompas bagi Uni Eropa untuk 30 tahun ke depan. Jika disahkan oleh Parlemen Eropa dan 27 negara anggotanya, Uni Eropa masih perlu membentuk komisi khusus yang akan bekerja berbulan-bulan untuk menuliskan dengan lebih detail setiap bagian dari undang-undang tersebut.

Para pejabat di Uni Eropa berharap Greta mendukung rencana tersebut. Alih-alih memuji inisiatif itu, Greta dan para aktivis iklim menganggap European Green Deal tak lebih dari buku berisi kata-kata kosong. Karena itulah, setelah dari parlemen Eropa, Greta dan remaja sebayanya membuat aksis turun ke jalan pada 6 Maret 2020 itu.

Di sepanjang rute demonstrasi dari Stasiun Central Brussels hingga ke depan gedung Parlemen Uni Eropa di wilayah Schuman, para aktivis meneriakkan berbagai tuntutan agar negara-negara anggota Uni Eropa bertindak sekarang dan tidak menunggu lebih lama. “Sungguh memalukan,” kata Greta dalam pidatonya di akhir demonstrasi. “Kita masih berada di jalan karena para pengambil keputusan tidak bisa diharapkan mengubah situasi,” katanya. “Kita tidak akan berhenti. Kita akan terus menuntut sampai mereka beraksi.”

Kegigihan dan tekad Greta yang kuat itu telah menginspirasi para remaja sebayanya di seluruh Eropa. Sejak memulai mogok sekolah dan berdemonstrasi sendirian di depan gedung parlemen Swedia pertengahan 2018, Greta telah menjadi juru bicara yang efektif dalam isu pemanasan global. Setelah berkeliling dunia dan berbicara di forum-forum bergengsi, aksinya banyak ditiru oleh remaja sebayanya di seluruh dunia. Kini banyak remaja di Eropa membelokkan cita-citanya menjadi aktivis lingkungan penuh waktu lewat berbagai jalur.

***

EMPAT ratus dua puluh hari lalu, Loukina Tille hanyalah gadis remaja berusia 17 tahun yang bercita-cita menjadi wartawan. Hari-harinya banyak dihabiskan untuk berkumpul dengan teman sebaya, membuat video traveling yang dipajang di Youtube atau menghabiskan akhir pekan di pinggir hutan sekitar desa tempatnya lahir di Bretigny, desa kecil sekitar sepuluh kilometer dari kota Lausanne di Swiss.

Sebagai penduduk negeri paling makmur di dunia, sulit membayangkan remaja seperti Loukina merasakan dampak perubahan iklim. “Seorang kawan dari Yunani yang pernah berkunjung ke Swiss berkomentar bahwa kami, penduduk Swiss sangat rajin mendaur ulang sampah,” katanya. “Kawan tersebut menganggap bahwa orang Swiss sangat peduli dengan lingkungan.”

Sampai ia menerima sebuah pesan pendek yang dikirim secara berantai dan menyebar di kalangan pelajar di awal Desember 2018. Pesan pendek itu berisi ajakan untuk berkumpul merencanakan mogok sekolah demi menyelamatkan bumi, seperti yang dilakukan Greta Thunberg di Swedia. Ajakan itulah yang menyadarkan Loukina, bahwa negerinya bisa sejahtera bukan karena inovasi teknologi ramah lingkungan.

Swiss, seperti juga negara-negara makmur di Eropa, memiliki udara yang relatif bersih karena investasi industri dialihkan ke negara-negara dunia ketiga. Karena itu, kata Loukina, Swiss berkontribusi besar dan menjadi bagian dari kualitas udara global yang memburuk.

Menurut SwissInfo, di tahun 2018 saja pedagang-pedagang minyak Swiss menjual bahan bakar diesel yang sangat kotor di banyak negara Afrika. Bahan bakar yang mereka jual memiliki kadar sulfur lebih dari 600 kali lipat dari standar kesehatan di Swiss. Akibatnya, udara kotor juga sampai ke negara ini.

Menurut European Environment Agency (EEA) akibat polusi udara, kematian bayi di Swiss mencapai 5.500 setahun. Para ahli Geographical Institute di University of Bern bahkan menemukan lapisan mikro plastik yang cukup tebal terkubur di dalam tanah di daerah-daerah taman nasional hingga area pegunungan yang jarang terjamah manusia.

Anak-anak muda Belgia berdemo di depan gedung parlemen Uni Eropa menuntut aturan mencegah pemanasan global, 7 Maret 2020 (Foto: Arie Asona)

Sejak menerima pesan singkat itu, Loukina mulai menyadari hal-hal yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. “Salju mulai berkurang setiap tahun,” katanya. “Pohon-pohon di hutan mengering karena frekuensi gelombang udara panas semakin sering terjadi, bahkan Danau Brêt yang jadi sumber reservoir air minum Kota Lausanne sempat kering tahun lalu.”

Sepekan setelah ajakan mogok itu beredar, para pelajar Swiss membentuk Klimastreik atau Climate Strike atau mogok untuk iklim pada 12 Desember 2018. Klimastreik adalah organisasi independen gerakan pemuda yang dibentuk secara spontan dan menjadi salah satu cabang Fridays for Future yang dibentuk tiga bulan sebelumnya oleh Greta Thunberg di Swedia.

Dua hari setelah Klimatsterik berdiri, pada 14 Desember 2018, para pelajar melakukan aksi mogok sekolah pertama di Zurich yang diikuti kurang lebih 500 orang. Mogok mereka ulang sepekan berikutnya yang diikuti lebih banyak pelajar, mencapai 4.000 siswa dan menular ke kota lain semacam Basel, Bern, Zurich, dan St. Gallen. Sama seperti Greta, mereka menuntut kebijakan konkret pemerintah Swiss untuk mencegah bencana perubahan iklim global.

Menjelang pergantian tahun baru 2019, Loukina ikut dalam pertemuan nasional Klimastreik yang dihadiri 120 orang pelajar dari berbagai penjuru Swiss di Bern. Mereka sepakat membentuk kelompok kerja yang lebih rapi agar gerakan mereka bisa membawa dampak yang lebih luas dan berjangka panjang.

Dalam rapat gabungan tersebut, mereka memutuskan hal-hal prinsipiil dalam berorganisasi dan membuat gerakan. Program pertama adalah mengembangkan kapasitas pengetahuan iklim para anggota lewat program edukasi internal. Mereka mengundang sejumlah ahli iklim dan aktivis senior lingkungan untuk memberikan ceramah. “Kami ingin gerakan punya dasar kuat melalui pengetahuan berdasarkan fakta yang tak bisa dibantah,” kata Loukina.

Ia sendiri melakukan hal mendasar dalam komunikasi: belajar bahasa Jerman. Sebagai warga Swiss yang lahir dan besar di bagian barat yang berbatasan dengan Prancis, Loukina lebih fasih berbahasa ini. Swiss mengenal empat bahasa nasional: Jerman, Prancis, Italia, dan Romansh (salah satu varian bahasa Latin).

Dalam setiap pertemuan Klimastreik, atau konferensi secara daring di Discord, WhatsApp, atau Telegram, bahasa Jerman biasanya mendominasi, selebihnya terdengar Prancis atau Italia. Jika buntu, para pelajar memakai bahasa Inggris ketika berbicara. Penerjemah virtual menjadi aplikasi yang paling sering mereka gunakan.

Greta Thunberg di antara peserta demonstrasi iklim di Brussels, Belgia, 6 Maret 2020 (Foto: Arie Asona)

Di waktu yang hampir bersamaan dengan kegiatan Loukina di Swiss, Anuna De Wever dan Kyra Gantois di Antwerpen, Belgia, juga mulai merancang ajakan mogok yang mereka sebar melalui aplikasi pesan singkat. Tidak seperti Loukina di Swiss, Anuna dan Kyra terpicu melakukan mogok sekolah setelah tersiar berita bahwa Menteri Federal Bidang Energi, Lingkungan, dan Pembangunan Berkelanjutan Belgia, Marie-Christine Marghem, naik jet pribadi ke Konferensi Tingkat Tinggi Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa 2018 di Katowice, Polandia.

Lebih fatal lagi, di pertemuan tersebut, Parlemen Flemish menolak bergabung dengan koalisi negara yang berjanji melakukan upaya ekstra mengatasi keadaan darurat iklim. Tak hanya itu, Belgia menolak menandatangani aksi mempercepat proses mengurangi emisi karbon.

Belgia memiliki empat Menteri Lingkungan (satu untuk level nasional dan federal, tiga untuk setiap wilayah regional). Di tingkat nasional, Belgia tidak memiliki kebijakan untuk mencapai target 2030 yang ditentukan oleh PBB dalam membatasi kenaikan temperatur global di bawah 1,5° Celsius. Padahal, Belgia tak kurang menyumbang emisi terhadap udara bumi.

Kemacetan lalu lintas di jam-jam tertentu adalah kemacetan terburuk di antara negara-negara Uni Eropa, bangunan boros energi dibuat tanpa regulasi yang ketat dan jaringan kereta api lokal yang jauh dari standar kelayakan.

“Di meja dapur, kami saling memandang dan berkata: cukup sudah,” kata Anuna.

Ia dan Kyra lalu menyebarkan ajakan mogok sekolah melalui aplikasi pesan dan membuat video singkat satu menit dalam bahasa Belanda yang disebar melalui media sosial. Video yang diakhiri dengan kalimat “respect existence or expect resistance” itu memang ditujukan untuk para pelajar di Flanders yang berbahasa Belanda (Flemish). Ajak demonstrasi pun hanya berpusat di depan gedung pemerintahan regional Flemish di Brussels.

Rupanya, ajakan itu menyebar melewati batas regional. Kyra dan Anuna punya pengikut 3.000 pelajar pada 10 Januari 2019. Bagi Belgia yang berpenduduk 11,5 juta, jumlah itu tergolong fantastis. Dari Flander di utara Belgia, gerakan para remaja menyebar ke Wallonia di selatan yang penduduknya berbahasa Prancis.

Anuna de Wever, gadis asal Artwerpen di Belgia, salah seorang motor gerakan demonstrasi perubahan iklim di Brussels, 7 Maret 2020 (Foto: Arie Asona)

Adalah Adélaïde Charlier, remaja 17 tahun asal Namur, yang menghubungi Anuna dan Kyra untuk menyatukan gerakan mereka. Adélaïde, yang lebih fasih berbicara soal lingkungan, menjelaskan bahwa tidak ada kebijakan konkret dari pemerintah Belgia dalam mencapai target reduksi emisi di tahun 2020. “Sudah bukan waktunya lagi mengelompokkan diri dalam pagar-pagar bahasa dan politik, karena yang dibutuhkan adalah satu suara. Krisis iklim tidak mengenal pengkotak-kotakan,” katanya.

Gaung kalimat Adélaïde tidak jauh dari sejarah sosial-ekonomi Belgia. Belgia adalah negara Eropa kedua setelah Inggris yang mengalami Revolusi Industri di abad 19. Belgia pernah berjaya dengan industri baja dan batu bara. Satu abad kemudian, industri baja dan batu bara hanya menyisakan limbah dan kenangan buruk bagi para pekerja tambang. Hasil kejayaan industri itu akhirnya hanya dinikmati oleh segelintir pengusaha tambang yang makin kaya dan menginvestasikan kekayaan itu ke area bisnis yang lebih menguntungkan.

Ambruknya industri baja dan batu bara menyisakan pengalaman yang menyakitkan bagi generasi Belgia berikutnya. Demonstrasi menuntut hak pekerja jadi hal yang lumrah. Tingkat pengangguran di daerah-daerah bekas tambang masih berlangsung hingga saat ini. Para pekerja di Flanders dan Wallonia selalu berusaha satu suara dan melupakan kategori politik ketika mereka bergabung memperjuangkan hak mereka.

Extinction Rebelion (Foto: Arie Asona)

Bergabungnya Adélaïde dari Wallonia membuat gerakan demonstrasi iklim berlipat dua sepekan setelah demonstrasi pertama. Pada 17 Januari 2019, di bawah gerimis hujan, 12.500 pelajar berteriak serentak dengan gempita, “Change the system, not the climate”. Mereka juga resmi menamakan diri Youth for Climate (YFC) dan terdaftar sebagai bagian dari cabang Fridays for Future, meskipun mereka lebih sering berdemo pada hari Kamis. Demonstrasi dan yel-yel pertama yang hanya melontarkan bahasa Belanda kemudian meluas dengan masuknya bahasa Prancis dan Inggris sebagai bahasa komunikasi.

Sampai akhir Januari 2019, demonstrasi para pelajar Belgia menjadi demonstrasi pelajar paling besar berdasarkan jumlah peserta yang berkumpul di satu lokasi sejak dimulainya mogok sekolah oleh Greta Thunberg di Stockholm. Dedikasi para penyelenggara demonstrasi di Belgia ini selalu mengumpulkan angka jumlah demonstran yang spektakuler. Hari Kamis berikutnya pada 24 Januari, angka peserta demonstran bertambah menjadi 35.000 orang hingga sempat melumpuhkan jalur sirkulasi Kota Brussels.

Demo menuntut perubahan sistem untuk mencegah pemanasan global (Foto: Arie Asona).

Tiga hari kemudian, pada 27 Januari 2019, inisiatif gabungan antara pelajar dan organisasi-organisasi lingkungan di seluruh Belgia bergabung melakukan aksi turun ke jalan. Sebanyak kurang lebih 70.000 orang menyemut di ibu kota Belgia, terdiri dari berbagai kelompok lintas generasi.

Sepanjang 2019, aksi-aksi menuntut keprihatinan atas krisis iklim dan perubahan kebijakan terhadap aturan pengelolaan sumber daya alam menjadi kegiatan berkala di seluruh belahan dunia. “Greta tidak hanya mengajak orang untuk peduli pada bahaya pemanasan global, ia juga memberi contoh bagaimana melakukannya sesuai keinginan, kemampuan, dan kapasitas masing-masing individu di wilayah masing-masing,” kata Adélaïde.

Menurut Loukina, pada dasarnya kelompok mereka tidak memiliki struktur organisasi konvensional. Hampir semua kelompok gerakan demonstrasi iklim sejak 2018 menganut sistem desentralisasi, horizontal, independen, dan tanpa pemimpin. Setiap orang bisa terlibat, bekerja secara berkelompok, bergerak, mengembangkan ide dengan satu tujuan: menemukan solusi terbaik untuk memerangi pemanasan global.

Regional kolektif menjadi kekuatan sekaligus strategi jangka panjang dengan kegiatan yang saling melengkapi. Di Eropa, dari utara ke selatan, timur dan barat, kegiatan para aktivis iklim muda ini tidak pernah absen dari berita di halaman media-media lokal. Agaknya, seperti kata Adélaïde, kekuatan demonstrasi iklim karena mereka tumbuh secara lokal.

Aksi-aksi menuntut pemerintah segera bertindak tidak pernah mengendur seperti yang diharapkan oleh para politisi dan kelompok yang meragukan pemanasan global. Selama melakukan aksi turun ke jalan, YFC juga berinisiatif meminta sejumlah ahli dan ilmuwan independen, termasuk mantan Wakil Kepala The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Jean-Pascal van Ypersele, membentuk Panel Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan membuat solusi mencegah pemanasan global.

Greta War (Foto: Arie Asona)

Jean-Pascal van Ypersele, klimatolog di Université Catholique de Louvain, menyambut permintaan itu dengan gembira. Bersama Leo Van Broeck, arsitek dari KU Leuven, mereka membentuk panel ahli yang mengkomunikasikan pengetahuan dan saran untuk pemerintahan di pelbagai level: kota madya, daerah, tingkat federal, dan lembaga-lembaga Eropa. Hasil dari panel ini di umumkan pada 14 Mei 2019. “Pemerintah Belgia tidak lagi punya alasan mengelak,” kata Anuna. “Data, fakta, dan solusi sudah ada.”

***

ANGIN topan dan banjir bandang di sepanjang sungai Mekong di Vietnam adalah salah satu pengalaman buruk yang tidak bisa hilang dari ingatan Adélaïde Charlier. Di usia 11 tahun, ia tinggal di Hanoi, Vietnam, mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai staf ahli Kementerian Perencanaan dan Investasi Belgia.

“Vietnam adalah salah satu negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim,” kata Adélaïde saat menjadi pembicara bersama dengan Anuna De Wever di TedTalks Brussels pada Juni 2019.  “Bencana itu sebetulnya sudah  diprediksi di laporan IPCC. Topan dan banjir bandang terjadi tidak hanya karena bencana alam yang datang secara acak. Bencana itu sudah diprediksi secara ilmiah karena planet ini sedang memanas dan tidak berhenti memanas.”

Setahun sebelumnya publik Eropa juga dikejutkan oleh pengunduran diri Nicholas Hulot dari kursi Menteri Lingkungan Hidup Prancis. Aktivis lingkungan yang sangat disegani di Eropa ini berhasil dibujuk Emmanuel Macron menjadi Menteri Lingkungan Hidup. Tiga presiden sebelumnya gagal membujuknya masuk pemerintahan. Pada Agustus 2018, ia tiba-tiba mengumumkan mundur dari jabatan prestisius itu.

Adélaïde Charlier, seorang remaja 17 tahun yang menjadi motor gerakan demo mencegah perubahan iklim di Belgia, 7 Maret 2020. (Foto: Arie Asona)

Dalam siaran radio yang mengumumkan pengunduran diri itu, Hulot mengutarakan kekecewaannya karena proposalnya mengatasi perubahan iklim dan ancaman lingkungan tidak pernah dianggap serius oleh kabinet Prancis. Ia frustrasi melihat bagaimana para pelobi bekerja sehingga isu perubahan iklim selalu menjadi prioritas paling terakhir di bawah kepemimpinan Macron.

Berita Hulot disusul oleh berita tentang seorang siswa yang berdemonstrasi sendirian di depan gedung parlemen Swedia. Dialah Greta Thunberg. Melalui Internet, Anuna mulai mengenal sosok Greta dan setuju dengan latar belakang aksinya itu. Dari situ inspirasi membuat gerakan serupa mulai mengeras. Sejak memulai Youth for Climate, Anuna dan Adelaïde mendedikasikan hampir seluruh waktu mereka untuk organisasi ini dan memutuskan menunda meneruskan kuliah selama satu tahun.

Usai tamat SMA pada pertengahan 2019, Anuna dan Adélaïde mengikuti Greta yang berlayar memakai kapal laut bebas emisi menuju Cili untuk mengikuti konferensi iklim COP-25. Memakai kapal layar Regina Maris dari Amsterdam mereka bergabung dengan 36 aktivis lingkungan yang lebih senior dari berbagai negara di Eropa berlayar selama tujuh pekan. “Ini adalah bentuk pernyataan kami menghentikan subsidi di sektor penerbangan dan mulai memikirkan alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk bepergian,” kata Anuna.

Ketika COP-25 batal dan dipindahkan ke Madrid, Spanyol, Anuna dan Adelaïde memutuskan tinggal dan melanjutkan perjalanan ke Brazil untuk memenuhi undangan Chef Raoni, Kepala Suku Adat Kayapo, di hutan Amazon. Di sana digelar Amazon Center of the World yang mendatangkan seluruh wakil-wakil berbagai suku adat di Amazon membahas masa depan hutan tropis terluas di dunia ini.

Amazon tidak hanya menderita akibat penebangan pohon ilegal dan penambangan emas yang tidak pernah berhenti. Setelah terbakar hebat, hutan ini makin terancam kelestariannya setelah pemerintah Brazil mengizinkan pembangunan bendungan untuk pembangkit listrik senilai US$ 13 miliar di atas sungai Xingu, salah satu anak sungai Amazon. Tentangan keras penduduk lokal dan aktivis lingkungan hanya dianggap angin lalu.

Demo di depan Central Brusel menuntut Uni Eropa membuat aturan mencegah perubahan iklim, 7 Maret 2020 (Foto: Arie Asona)

Bendungan yang dinamakan Belo Monte itu akan menjadi bendungan ketiga terbesar di dunia. Para ilmuwan memperkirakan setidaknya 40.000 penduduk lokal akan tergusur, dan sekitar 500 kilometer persegi wilayah akan mengalami deforestasi, emisi gas rumah kaca, dan kerusakan ekosistem yang tidak bisa diperbaiki untuk memfasilitasi pembangunan bendungan berkapasitas 11.200 megawatt tersebut.

“Melihat langsung perjuangan masyarakat adat mempertahankan wilayah sungai Xingu membuat saya sadar bahwa perubahan lingkungan erat berkaitan dengan ketidakadilan internasional,” kata Adélaïde.

“Saya berkenalan dengan gadis sebaya saya. Namanya Anita. Ia dari suku Juruna, suku penjaga sungai Xingu. Bendungan Belo Monte kurang dari 50 kilometer dari desanya tapi dampaknya sangat besar terhadap tanah dan air tempat mereka bergantung hidup. Kadar zat beracun meningkat dalam air sungai, air tidak sejernih sebelumnya, dan ikan-ikan mati dan jumlahnya berkurang drastis.”

Fakta lain yang membuat Adélaïde dan Anuna bertekad untuk terus memperjuangkan kelangsungan hidup bumi adalah perusahaan-perusahaan yang bertanggung jawab terhadap pembangunan bendungan, penebangan pohon, dan penambangan emas berasal dari negara- Eropa dan Kanada.

***

SETAHUN berlalu sejak Greta dan remaja seperti Loukina, Anuna, Kyra, dan Adélaïde membuat gerakan iklim, media-media mulai meliriknya. Setiap hari selalu saja ada berita tentang mereka dan upaya-upaya mitigasi perubahan iklim. 

Sesekali para aktivis ini saling berkunjung dan mengadakan aksi gabungan. Mereka datang ke acara-acara internasional yang dihadiri para pemimpin negara adidaya, bertemu tokoh-tokoh penting di ajang-ajang bergengsi sambil tetap memberi contoh bagaimana mengurangi emisi karbon dan tidak ikut arus gaya hidup tokoh-tokoh yang mereka temui. Dalam Forum Ekonomi Dunia 2020 di Davos, mereka di kantong tidur dalam tenda yang disiapkan aktivis Davos.

“Pengalaman menyiapkan aksi, menyiapkan kelompok kerja, menggodok ide kemudian mewujudkan dalam bentuk gerakan kolektif adalah hal-hal yang tidak kami pelajari di sekolah,” kata Loukina. Cita-citanya untuk menjadi jurnalis berubah sejak aktif sebagai aktivis iklim. Ia sekarang ingin belajar ilmu lingkungan di ETH Zurich.

Greta Thunberg berpidato dalam demo perubahan iklim (Foto: Arie Asona)

Seiring dengan makin naiknya popularitas mereka, intimidasi juga acap mereka terima. Seperti Greta Thunberg yang diejek secara terbuka oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai pengidap kelainan jiwa, remaja-remaja di Swiss dan Belgia juga mendapat serangan dari politikus lokal.

Di Belgia, politisi sayap kanan mengejek secara halus aksi-aksi anti pemanasan global. Salah satu yang paling fenomenal adalah tuduhan terbuka Joke Schauvliege, Menteri Lingkungan di Flanders, yang menyebutkan bahwa aksi-aksi tersebut ditunggangi oleh oknum-oknum tertentu. Ia mencatut Badan Keamanan Belgia sebagai sumber informasinya. Badan Keamanan Belgia langsung mengeluarkan penyangkalan dan menolak klaim tersebut. Malu telah berbohong, Joke mundur dari jabatannya.

Sementara Bart De Wever, politikus partai nasionalis Flemish, NVA, mendorong para siswa kembali ke sekolah dan meminta mereka percaya pada kekuatan inovasi dan teknologi. “Jangan percaya kiamat,” katanya. Rekan Bart di NVA, Theo Francken, membuat cuitan di Twitter yang mengejek para aktivis iklim:

“Pak, telepon saya mana?”

“Tidak ada.”

“Kapan kita akan bermain ski?”

“Tidak akan pernah lagi.”

“Ke mana kita akan liburan musim panas ini?”

“Di rumah.”

“Pemanas tidak berfungsi?”

“Pakai sweater.”

“Kamu mau mengantar saya bermain sepak bola?”

“Naik sepeda saja.”

“Pak, kenapa kamu melakukan ini?”

“Kan, kalian yang minta.”

Selain serangan di dunia maya, Anuna De Wever pernah diserang secara fisik ketika menghadiri sebuah festival musik lokal. Aparat keamanan melindunginya karena sejumlah penonton melemparinya dengan botol penuh air kencing. “Serangan dan intimidasi tidak membuat saya takut. Saya rasa, ejekan-ejekan itu karena orang belum mengerti krisis iklim secara lebih detail. Mereka cenderung tidak menganggap serius apalagi dengan kelakuan politisi yang malah menganggap pemanasan global tidak pernah terjadi,” kata Anuna dengan santai.

Meski mendapat banyak makian dari sejumlah politisi, Anuna maupun Adelaide tidak gentar untuk magang di Parlemen Uni Eropa dan berbaur dengan para politisi. “Tekanan untuk mendorong kebijakan yang lebih konkret tidak hanya bisa dilakukan dari luar. Kami juga ingin melakukannya dari dalam,” kata Anuna.

Para guru di Brussels bergabung dengan siswa mereka berdemo menuntut aturan mencegah pemanasan global di depan gedung parlemen Uni Eropa, 6 Maret 2020 (Foto: Arie Asona)

Baginya masuk ke level pengambil kebijakan Uni Eropa penting karena sepanjang satu tahun lebih mereka turun ke jalan, pemerintah Belgia tidak melakukan apa-apa sama sekali dan European Green Deal tidak cukup kuat untuk mengejar waktu yang tersisa demi mencapai target yang sudah disepakati dalam Perjanjian Paris.

Setelah tiga pekan magang di Fraksi Hijau Parlemen Uni Eropa, Anuna sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa segalanya berjalan begitu lambat di level Uni Eropa. “Begitu banyak partai, begitu banyak kepentingan, banyak opini, dan banyak lapisan, mulai dari Komisi Eropa, badan penasihat, parlemen ditambah dengan pemerintah lokal dengan segala prioritasnya masing-masing. Pemanasan global nyaris tidak pernah disebut,” kata Anuna.

“Dalam European Green Deal, tidak ada satu pun klausul yang menunjukkan tindakan konkret apa yang akan dilakukan. Semua masih dalam tahap abstrak. Bagaimana mereka akan mencapai target pengurangan emisi 50% untuk tahun 2030?” ia kian masygul.

Anuna dan Adélaïde masih memiliki waktu empat bulan sebelum masa magang mereka berakhir. Dengan beberapa rencana aksi besar-besaran beberapa bulan ke depan, kemungkinan tindakan konkret yang ditunggu-tunggu akan muncul setidaknya di tingkat nasional. Di Swiss, aksi besar tingkat nasional akan kembali di gelar pada 15 Mei 2020. Di Belgia, rencana aksi selama setahun sudah rapi tersusun.

“Cuitan satu burung kolibri mungkin tidak dianggap,” kata Anuna. “Tapi suara ribuan burung kecil adalah genderang yang tidak bisa diabaikan.”

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain